Bab 25 : I'm Frustrated

14.1K 1.4K 170
                                        

Ada satu hal yang membuat Taeyong berani menaruh harapan lagi setelah sekian kali harus  dihadapkan pada rasa sakit yang berujung membuat mentalnya down dan terluka.

Ia sebenarnya pernah berjanji pada dirinya sendiri, saat itu ia sedang dirundung rasa kecewa yang luar biasa, jadi tanpa berpikir panjang ia bilang tidak akan pernah berharap lagi seumur hidupnya.

Perkataan orang sakit hati memang kadang meluncur begitu saja tanpa ada pertimbangan.

Tapi, kini Taeyong mulai ragu. Sejujurnya ia takut, takut dikecewakan lagi, takut sakit, dan masih banyak lagi ketakukan yang selalu membayang-bayanginya tiap detik.

Ia dilema, jauh di balik rasa takut yang seakan selalu menghantuinya, masih ada sebersit harapan kecil yang Taeyong pikir masih ada kesempatan untuknya merasakan.

Jadi, setelah melewati waktu seminggu dengan bergalau ria, Taeyong memutuskan untuk melakukannya. Ia sudah menguatkan diri jika sesuatu yang tidak diharapkan bisa saja menjadi jawaban dari segala keingintauannya.

Ia sudah menyiapkan diri jika mungkin kali ini ia akan kecewa lagi.

Tapi, semoga saja takdir berkata lain. Skenario Tuhan mana ada sih yang tau? Itu rahasia, siapapun tidak akan tau, jadi Taeyong menggantungkan secuil harapan pada kalimat tersebut.

Bibirnya ia gigit kuat, kedua iris coklatnya tidak bisa diam sedari tadi. Keringat dingin berlomba-lomba mengucur dari tubuhnya. Jantungnya berdegub sangat kencang hingga berefek perutnya yang mendadak mulas.

Dalam hati Taeyong mengukur waktu, agar pas sesuai dengan petunjuk yang ia baca. Maka, ketika waktunya tiba, Taeyong malah panik sendiri. Hei, ini bukan kali pertama untuknya, bahkan sudah yang ke ratusan kali, tapi masih saja ia gugup setengah mati.

Taeyong menarik napas panjang lalu menghembuskannya, terus berulang kali hingga setidaknya mampu membuatnya tenang.

Ia mengambil benda kecil tersebut dengan mata terpejam. Masih belum berani melihat, selalu seperti ini. Taeyong mendudukkan dirinya di pinggiran bathup sebelum ia perlahan, sedikit demi sedikit membuka mata cantiknya.

Butuh waktu hampir semenit untuk Jung Taeyong meratapi kambali nasib malangnya begitu menemukan lagi-lagi alat test kehamilan yang menunjukkan satu garis merah.

Ia marah.

Marah pada dirinya sendiri yang tidak berguna sampai-sampai harus dihadapkan pada kegagalan untuk yang kesekian kali. Ia melempar testpack di genggamannya ke sembarang arah, berteriak frustasi untuk melampiaskan perasaanya.

Ia berjalan ke arah laci yang terdapat di samping wastafel, mengeluarkan puluhan alat test kehamilan dari berbagai merk yang ia beli jauh-jauh hari. Melemparnya kemanapun sembari mengeluarkan umpatan kasar yang mungkin jika Jung Jaehyun mendengarnya, pria itu bisa langsung murka.

Ia benci sekali jika Taeyong sampai mengeluarkan kata-kata kasar.

Bahkan seluruh peralatan mandi yang awalnya berjejer rapi di atas meja berakhir berantakan di lantai kamar mandi yang dingin. Taeyong tidak peduli, ia meringkuk di pinggiran wastafel, menunduk dalam hanya untuk menyembunyikan air mata yang perlahan keluar dari matanya.

Rasa sakit itu semakin menjadi-menjadi menggerogotinya tanpa henti. Ia meraung, berteriak marah, mengumpat, mencaci maki dirinya sendiri karena gagal.

Taeyong sedang terpuruk, dan tidak ada satupun yang bisa menyelamatkannya.

🍭🍭🍭🍭🍭

Jaehyun itu tipe pria yang peka, apalagi menyangkut keluarganya. Jadi begitu melihat perubahan sikap istrinya akhir-akhir ini ia langsung paham apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Ma Cotton Candy!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang