Taeyong mengambil beberapa potong daging lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanja. Kembali menelisik deretan tulisan yang terdapat pada layar handphone di genggamannya.
"Ada lagi?" Jaehyun bertanya sambil mendorong pelan keranjang belanja, menjaga lajunya agar tidak mengenai sang istri yang berjalan di depannya.
"Susu hamil" gumam Taeyong, kedua kakinya terlihat memelan seiring netranya yang berpendar mencari rak susu.
Jaehyun berdecak malas, "Seriously Tae? Kau benar-benar akan membelikan perempuan itu susu hamil?"
"Perempuan yang kau maksud itu punya nama Jae, tidak boleh begitu, hargai wanita oke? Seberapa besar pun rasa kesalmu saat ini, jangan sampai dikeluarkan. Mengerti?" Taeyong menetap lembut suaminya, mencoba memberi pengertian lewat tarikan bibir yang begitu mempesona.
Yang mampu Jaehyun lakukan hanyalah mengangguk malas sembari memalingkan wajah, dalam hati bertanya-tanya,
Terbuat dari apa hati Taeyong sebenarnya?
Jika boleh jujur, Jaehyun benci melihat senyum Taeyong yang menyiratkan bahwa ia baik-baik saja. Seberapa keras dan banyak pun senyum dan tawa yang ia perlihatkan pada dunia, Jaehyun terlalu paham untuk tau bahwa semua itu hanyalah sebuah bentuk kamuflase dari rasa sakit yang ia rasakan.
Jaehyun ingin Taeyong marah padanya, memukulnya atau mungkin menamparnya, jika begitu Jaehyun akan bisa merasakan sakit yang Taeyong rasakan dan mengingatnya dalam tiap tarikan napas.
"-coklat atau stroberi?"
"Hm?"
"Tuh kan, kau tidak mendengarkanku Jaehyun!" Taeyong memberenggut, bibirnya manyun beberapa centi, berbanding kontras dengan realita bahwa dalam dua tahun ke depan, umurnya akan masuk kepala tiga.
"Maaf sayang, aku sedikit melamun tadi"
"Kau lelah ya?" Taeyong mendekat ke arah Jaehyun. Tanpa ragu sedikitpun menangkup kedua pipi gembilnya dengan sapuan sehalus beledu.
"Tidak" si pria Jung menyanggah, paham betul hanya dengan melihat ekspresi sang istri yang menyiratkan rasa bersalah.
Ia mengecup kening Taeyong sekilas dengan jejak hangat yang tertinggal, beralih membawa jemari sang istri di pipi untuk ia genggam erat dalam naungan tangan besarnya. Mencoba meyakinkan malaikatnya bahwa ia baik-baik saja.
"Tadi bilang apa?" Ucapnya terlampau lembut, menjaga betul perasaan istrinya yang sangat sensitive bila menyangkut tentang dirinya.
"Itu...hanya bertanya apakah susunya rasa coklat atau stroberi"
"Aku tidak tau dia suka rasa apa" Jaehyun menjawab cuek, mengendikkan bahu sebelum sedetik kemudian meringis begitu cubitan semut menghampiri lengan bagian atasnya.
"Kau ini!"
"Loh, memangnya aku siapanya sampai harus tau ia suka rasa apa?"
"Kau suaminya ngomong-ngomong, kuingatkan lagi jika kau lupa" Taeyong menyahut sewot, berlanjut dengan umpatan dan sumpah serapah sebagai bentuk dari rasa cemburu yang bercokol di dadanya.
"Mau ku beri tau sesuatu?"
"Apa?!"
"Istriku itu cantik sekali loh, senyumnya manis melebihi gula. Tapi sayangnya galak"
Taeyong melotot lucu, "kau bilang apa?"
Satu alis Jaehyun terangkat naik, senyuman jahil tersungging dengan kurang ajarnya di sudut bibir "kenapa? Aku hanya sedang menceritakan istriku kok, mau ku kenalkan tidak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ma Cotton Candy!
Fanfiction[Marriagelife] [Romantic] Tentang Jung Jaehyun dan gumpalan permen kapas kesayangannya. 30/3/2019 ©yudiaaa
