Senyuman semanis perman kapas terbit di bilah bibir Jung Taeyong ketika netranya tak sengaja menangkap sosok sang suami yang tidur terlentang di tengah tempat tidur mereka dengan pandangan berbinar.
Ia menutup pintu kamar mandi, berjalan pelan dengan perut besarnya yang kini menampung sang buah hati. Duduk di pinggiran ranjang menghadap suami.
"Kau sudah memandanginya sejak sore hari hubby, apa kau tidak bosan?" Ia menarik tubuhnya mundur, duduk bersandar pada kepala ranjang dan mendesah lega ketika pinggangnya yang terasa pegal mulai rileks kembali.
Jung Jaehyun menoleh dengan kekehan renyah, ia menggeser tubuhnya mendekat ke arah semestanya, menatap lekat penuh cinta ke arah sang suami manis yang kini tengah mengusap-usap perutnya yang membuncit.
"Tidak akan pernah bosan, yang ada aku semakin tidak sabar menemuinya" Jaehyun menjawab dengan antusias, pada akhirnya setelah berjam-jam memandangi foto usg terbaru calon buah hati mereka, ia meletakkan foto itu di laci nakas sebelah tempat tidur.
Kemudian berbalik hanya untuk memeluk tubuh mungil Taeyong yang kini kembali mengukir senyum.
"Terima kasih karena sudah menjaga aegi dengan baik hari ini, Mommy" bisiknya pelan di balik telinga, tangannya naik perlahan untuk menyapa sang anak dengan lembut.
Taeyong melebur di dekapan suaminya, rasa hangat yang hinggap di hati tidak akan mungkin hilang dalam waktu dekat. Ia suka ketika Jung Jaehyun begitu menghargainya, begitu mencintainya, dan meletakkan ia di prioritas pertama di dalam hatinya.
"Terima kasih juga karena sudah bekerja keras hari ini Daddy, sabar ya, 3 bulan lagi aku akan datang menemui Daddy"
Keduanya tertawa gemas, semakin berjalannya waktu, perasaan tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang buah hati semakin besar. Mereka menunggu momen ini hampir sembilan tahun lamanya, Jaehyun pikir dirinya mungkin masih bisa menahan diri tiga bulan lagi untuk segera menyambut aegi.
"Dia tumbuh sangat baik di dalam sana, aku sangat senang"
"Bagaimana tidak sehat, berat badanku bahkan naik sangat banyak dan nafsu makanku sangat mengerikan"
"Its okay darling, aku tidak masalah dengan itu. Lagipula kau terlihat sangat seksi ketika hamil, aku justru menyukainya"
Sedetik setelah Jaehyun menyelesaikan kalimatnya, terdengar bunyi pukulan nyaring yang disebabkan oleh telapak tangan Taeyong.
"Jangan bicara yang macam-macam di dekat aegi!" Deliknya gemas.
Jaehyun justru membalas dengan kerlingan jahil, ia semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Taeyong yang kini merosot setengah bersandar. Dengan tidak tau dirinya mendesak dan separuh menindih Taeyong yang mengerang kesal.
"Jangan mendekat! Hei kau mau melukai anakku?! Jangan menindihnya!" Ibu dari Mark Jung itu berteriak jengkel, tidak habis pikir dengan apa yang sedang suaminya itu lakukan.
"Mommy tidak boleh marah-marah, nanti baby ketakutan" Jaehyun mengusap lembut ujung bibir tipis Taeyong, tersenyum begitu lebar hingga dua lesung pipinya tampak jelas sebelum menarik wajah istrinya mendekat untuk ia ajak berbagi ciuman.
Taeyong kembali mengerang di sela hisapan halus sang suami, namun pada akhirnya ia juga membalas lumatan Jung Jaehyun tidak mau kalah.
Semenjak hamil, Jaehyun yang sehari-harinya sudah begitu manja pada Taeyong, justru bertambah seribu kali lebih manja ketimbang Taeyong sendiri yang notabene sedang hamil disini. Mungkin memang iya jika di tri sementer pertama, Taeyonglah yang begitu kekanak-kanakan, namun semakin bertambahnya usia kehamilan, justru malah suaminya lah yang bersikap demikian.
Ia selalu menempel bagai lintah dimanapun Taeyong berada, menelepon hampir setiap lima menit ketika mereka berjauhan dan bersikap childish melebihi putra sulungnya sendiri. Jaehyun pernah bertengkar dengan Mark hanya karna sang putra mendapat pelukan hangat di pagi hari sementara dirinya tidak.
Taeyong tak habis pikir, ada apa dengan suaminya ini. Justru yang seharusnya lebih manja dan meminta perhatian lebih kan dirinya, kenapa justru ia yang dibuat pusing oleh kelakuan Jung Jaehyun.
Keduanya tersentak bersamaan dengan pandangan terkejut, ketika merasakan satu tendangan cukup kuat yang terasa nyata di permukaan kulit perut Taeyong. Melepaskan cumbuan mereka lalu sama-sama saling pandang setengah tidak percaya.
"Kau merasakannya Dad?" Taeyong berbisik, tidak tau kenapa ia melakukan itu.
"Apa baru saja baby menendang?" Jaehyun balik bertanya.
Hening cukup lama sebelum pasangan suami istri itu bergerak heboh. Jaehyun mendekat ke arah perut istrinya, mengecup-ngecup gemas untuk menyapa sang buah hati.
"Hei siapa yang baru sajaa menendang perut Mommy?" Tanyanya menatap perut besar Taeyong.
"Ini sudah malam, apa baby tidak tidur?" Kali ini Taeyong yang bertanya, lalu tak lama setelahnya terasa satu tendangan lagi sebagai respon dari penghuni yang sedang berusaha tumbuh di dalam perutnya.
Keduanya kembali bersitatap, tidak menyangka bahwa rasanya akan sebegini menggetarkannya ketika calon anak mereka menyapa mereka untuk pertama kalinya.
Jaehyun menunduk, tidak tau kenapa matanya mendadak memanas karena rasa haru, ia tidak pernah melakukan ini pada ibunya Mark, ini adalah pengalaman pertamanya.
Taeyong menatap sang suami yang kini berusaha menyembunyikan wajahnya, ia tau, suaminya itu sedang menangis, tangannya terulur memegang kedua sisi wajah Jaehyun, memberikan senyuman hangat bagaikan obat penenang.
"Baby ingin menyapa kita, kenapa kau menangis Dad?" Jemarinya yang lentik bergerak mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi sang suami. Menyampirkan helaian rambut Jaehyun dan memaksanya untuk saling berbagi tatap.
"Daddy jangan menangis" ucapnya tenang, walaupun dirinya sendiri tak kalah gemetar.
Jaehyun merangsek masuk ke dekapan Taeyong, bersembunyi di ceruk leher sang istri dan kembali terisak. Dirinya begitu lemah, sangat lemah dihadapan malaikatnya.
"Mungkin jika baby sudah lahir, ia akan bilang kalau Daddy sangat cengeng" hibur Taeyong
Kedua tangannya mengusap halus punggung kokoh suaminya yang kini terkulai tak berdaya. Jaehyun jauh lebih sensitif semenjak dirinya hamil.
Jung Jaehyun yang biasanya jarang menangis dan selalu bersikap tegar, justru yang menjadi paling emosional selama Taeyong mengandung. Tak jarang dirinya mendapati Jaehyun yang menangis diam-diam ketika memeluknya di malam hari, atau menatap lama foto usg calon anak mereka.
Ada sedikit perasaan bersalah yang hinggap di hati Taeyong. Pikirnya Jaehyun harus menunggu begitu lama untuk bisa memiliki seorang anak darinya. Walaupun setidaknya mereka sudah memiliki Mark, namun keinginan untuk memiliki anaknya sendiri belumlah sepenuhnya sirna.
Ia baru bisa memberikan suaminya seorang anak setelah sembilan tahun mereka hidup bersama. Di tengah ambang keputus asaannya, Tuhan hadir memberikan keajaiban sebagai balasan dari penantian panjang tak berujung.
Tugasnya kini adalah menjaga sang buah hati hingga lahir ke dunia dengan selamat, membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang serta menjadi seorang istri dan juga ibu yang baik untuk menebus kesetiaan Jung Jaehyun padanya selama ini.
Ia begitu mencintai pria dalam dekapannya ini, setidaknya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun keadaannya nanti, dia harus tetap hidup untuk menemani Jung Jaehyun hingga usia mereka habis termakan waktu.
🍭🍭🍭🍭🍭
Aku rindu kalian, kalian rindu aku tidak?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ma Cotton Candy!
Fanfiction[Marriagelife] [Romantic] Tentang Jung Jaehyun dan gumpalan permen kapas kesayangannya. 30/3/2019 ©yudiaaa
