Selamat pagi .... Apa kabar semuanya?
Masih nunggu cerita inin
Ada yang rindu sama Kanaya? Satya? Atau mungkin Gafan? Atau saya? (huuhhh)
Yaudah, kalau gitu selamat membaca dan semoga suka ya...
Typo bertebaran, mohon dimaklumi😅😅
Happy Reading :)
_________________________________________
Satu kata dari mulut lo, ada seribu makna yang membuat Kanaya sakit. Dari sikap lo, ada hal yang membuat Kanaya kecewa. Dan perasaan lo, ada yang membuat Kanaya merasa terbohongi.
~ Agatha Sheryta ~
🍁🍁
"Ehh, Nay. Udah baikan?" tanya Agatha saat malihat Kanaya ada di dalam kelas sendirian.
Kanaya mengangguk. "Mendingan, Tha."
"Harusnya lo jangan sekolah dulu, Nay. Tubuh lo butuh istirahat," kata Agatha.
Jangankan tubuh, pikiran sama hati aku juga butuh istirahat, Tha.
Kanaya tersenyum menanggapi ucapan Agatha. Agatha sama saja seperti bundanya, selalu menasehati padahal Kanaya sudah susah payah mendapatkan izin bundanya untuk sekolah.
"Nay ...."
Agatha menatap Kanaya dengan intens. "Mata lo ... lo habis nangis?"
Kanaya terkesiap dengan pertanyaan Agatha. "Enggak kok."
"Jangan bohong, Nay. Bilang sama gue, siapa yang bikin lo nangis? Apa ... Kak Satya?"
Kanaya diam, bahkan ia kini menundukkan kepalanya. Agatha tersenyum kecut mendapatkan bahwa sepertinya dugaannya memang benar.
"Nay, bilang sama gue. Apa Kak Satya yang bikin lo nangis?" tanya Agatha mencoba untuk sabar.
Tidak ada jawaban dari Kanaya, Agatha menyentuh pundak Kanaya dan sedikit mencengkramnya.
"Bilang sama gue, Nay! Apa Kak Satya yang bikin lo kayak gini?!" tanya Agatha sedikit lebih keras.
Kanaya menganggukkan kepalanya lemah, bahkan air matanya kembali menetes. Lagi-lagi menangis, Kanaya sudah bosan dengan air matanya yang terus keluar. Kapan air matanya akan berhenti keluar? Ia sudah lelah menangisi hal yang seharusnya tidak perlu ia tangisi.
"Lo tunggu dulu di sini, Nay."
Kanaya menahan pergelangan tangan Agatha saat Agatha berdiri, berniat pergi dari tempatnya, "ke mana?"
Agatha melepaskan tangan Agatha perlahan. "Dia harus gue beri pelajaran, Nay!"
"Jangan, Tha. Aku gak papa."
"Nangis kayak gini lo masih bilang gak papa? Lo bodoh, Nay. Lo terlalu mentingin perasaan orang lain dan ngebiarin perasaan lo terus tersakiti. Lo kira gue bakal diem aja liat lo kayak gini? Gak, Nay! Lo sahabat gue."
"Aku tahu, Tha. Tapi kamu gak perlu ngelakuin ini, ini masalah aku, Tha."
"Masalah lo, masalah gue juga, Nay."
Kanaya diam mendengar penuturan dari Agatha, ia tertegun. Agatha memang sahabatnya yang paling peduli dengannya, apapun masalahnya.
"Sekarang, lo ikut gue, Nay."
Agatha menarik tangan Kanaya, membawa cewek itu untuk ikut dengannya. Kanaya berusaha untuk menolak, tapi Agatha terus memaksanya agar ia ikut. Sampai akhirnya Kanaya memilih pasrah, mengikuti sahabatnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
KANAYA
JugendliteraturKanaya semakin yakin ketika Satya mengungkapkan bahwa ia menyukai Kanaya. Hal itu pun membuat Kanaya menyerahkan segala kepercayaannya pada Satya. Tapi, tanpa Kanaya ketahui, Satya hanya menjadikan Kanaya sebagai seseorang untuk menemaninya menunggu...
