22

2K 268 16
                                        

"Adam, kamu keren banget!!" Ira menyambutku terlalu berlebihan.

Pandangan dari puluhan pasang mata yang menatapku kini, sungguh membuatku salah tingkah. Padahal aku sudah berusaha untuk tampil sebiasa mungkin.

"Kayak mau kondangan nikahan aja kamu, Dam.." Kini giliran Lutfi yang berkomentar.

"Adek kamu gak diajak?" Tanya Rina.

"Ken lagi sibuk mewarnai. Aku sengaja memberikannya buku bergambar tadi." Jelasku. "Kalian sudah ketemu Niko?"

"Tadi sih ada tapi ---" Kalimat Gunawan terhenti karena sosok yang sedang kubicarakan itu muncul dari kerumunan tamu yang ada di dekat meja minuman itu.

"Hai, Dam.."

"Selamat ulang tahun ya, Niko.."

Niko menatapku dengan tatapan nyaris tak berkedip. Sepertinya dia malu dengan kehadiranku yang aneh di pestanya ini.

"U'r look so gorgeous, Elwise.."

"Terima kasih." Jawabku pelan. "Oh ya, ini untukmu.."

Niko menerima hadiah dariku. "Boleh aku buka sekarang?"

"Terserah saja." Jawabku enteng.

Niko membuka hadiah dariku. Tak sedikit yang penasaran dengan hadiah apa yang kuberikan untuk Niko.

"This is so cool, Adam! Thank's a lot!" Ujar Niko sambil melingkarkan jam tangan pemberianku pada pergelangan tangan kanannya.

Tadinya aku kira kalau Niko tidak akan menyukai hadiah yang kuberikan. Sebab aku tahu kalau ia itu selalu memakai barang-barang mahal dan mewah. Tapi ternyata, Niko menyukai jam tangan dariku. Dan ia langsung memakainya, di depanku dan juga teman-temanku.

"Dam, ikut aku sebentar yuk.."

"Mau kemana, Nik?"

"Ikut aja. Okey..?!"

Niko menarik tanganku. Entah kemana ia akan membawaku. Sejujurnya aku sedikit risih dan malu dengan perlakuannya ini. Sebab ada banyak pasang mata yang memperhatikanku saat ini.

"Niko, kita mau kemana?"

Niko terus membawaku hingga --- brakk... --- ke dalam mobilnya.

"Dam, ada yang mau aku ngomongin sama kamu.."

"Ehmmm..." Aku tidak berani lama-lama menatap wajahnya. Karena itu malah membuatku semakin canggung. "Kamu mau ngomong apa, Nik?"

Niko memegang setir mobilnya. Ia menggigit bibirnya sambil sekali dua kali menoleh padaku.

"Oke, mungkin ini kedengerannya sangat gila dan gak masuk akal. Tapi ---" Niko celingukkan kesana kemari. Malam ini dia terlihat sangat aneh tapi sangat keren dan tampan. "Aku suka sama kamu!" 

Mataku membelalak sejadinya. Jantungku seperti mau copot rasanya.

"Aku emang suka sama kamu, Dam! Sejak ---"

Drrrttt...

"Bonyok gue? Oke, gue kesana!"

Kuperhatikan terus Niko yang kini sepertinya merasa kesal dan terusik dengan panggilan telepon yang baru saja masuk itu.

"Maaf ya Dam, aku mau nemuin bokap nyokap dulu. Tapi nanti aku balik lagi kok.."

"Iya." Jawabku.

"Kamu tunggu disini ya. Aku janji gak akan lama kok."

"Iya, Niko."

METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang