"Senja, sudah siap nak?" tanya seorang wanita paruh baya datang menghampirinya. Dimana dia adalah bu Tutik yang merupakan ibu panti.
"Ini sudah bu" jawabnya setelah berhasil menutup koper besar yang akan dibawanya.
"Soalnya mang Ujang sudah menunggu didepan" jelasnya kemudian duduk disamping Senja.
"Bu" panggilnya dengan ikut duduk disampingnya. Dia membawa amplop coklat yang sudah dipersiapkannya beberapa hari yang lalu. Setelah duduk dihadapan bu Tutik, Senja menyerahkan amplop coklat itu ditangan bu Tuti.
"Apa ini nak?"
"Coba ibu buka" bi Tutik segera membukanya dan betapa terkejutnya dia melihat isi yang ada disana.
"Astaga ini uang dari mana nak?" tanyanya dengan menatap Senja.
Sebelum menjawabnya Senja tersenyum terlebih dahulu. "Itu uang jumlahnya dua puluh juta bu, uang itu Senja dapatkan dari uang pembinaan dari sekolah yang waktu itu bu"
"Loh itu uang pembinaan untukmu sebagai bekal saat kuliah nanti nak kenapa dikasihkan ke ibu?"
"Senja kan dapatnya lima puluh juta bu, dan uangnya dibagi dua sama Senja. Dua puluh juta untuk panti dan tiga puluh juta untuk pegangan Senja di Jakarta nanti"
"Tapi nak..."
"Bu....Senja kan sudah tinggal disini 18 tahun, itu bahkan masih kurang menurut Senja untuk mengganti uang panti yang aku pakai selama ini jadi sementara uangnya segitu dulu bu, nanti ketika Senja sudah bekerja pasti akan menggantinya"
"Senja panti ini tidak pernah meminta imbalan kepada semua anak yang tinggal disini, kami..."
Senja kembali memotongnya. "Senja tau bu, sudah sekarang uang ini ambil buat pegangan ibu, Senja harus segera berangkat keburu ketinggalan bis nanti"
"Okey uang ini ibu pegang yah, terima kasih nak kamu memang anak baik. Ibu harap ketika kamu sukses nanti tidak akan melupakan kami disini"
"Pasti bu, Senja tidak akan melupakan semua orang yang ada disini bu" kemudian Senja segera memeluk tubuh Ibu Tutik.
Senja mengakhiri pelukan itu dia tidak mau terus berlarut sedih kembali karena dia harus segera berangkat. "Ayo bu kita kedepan" namun tiba-tiba dia ditahan oleh bu tutik membuatnya duduk kembali.
"Ada apa bu?"
"Duduk dulu nak, ada yang ingin ibu bicarakan sama kami"
"Apa itu bu?" dirinya menatap wajah bu Tutik dengan serius, dirinya dibuat kebingungan dengan maksudnya.
"Ini" serahnya dengan kalung emas asli 24 karat.
"Loh in...ni kalung siapa?" tanyanya dengan mengamati kalung yang bertuliskan namanya yaitu SENJA.
"Ada hal yang perlu kamu tau nak, maafkan ibu baru bisa menjelaskan ini semua" hal itu membuat Senja dibuat semakin bingung. "Sebenarnya kamu tidak dibuang saja tetapi kamu dititipkan oleh mama mu dengam baik-baik disini"
"Sekitar 18 tahun yang lalu ada ibu-ibu yang membawa seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan dia adalah kamu nak..."
Senja langsung menitikkan air matanya, ternyata dia masih memiliki ibu. Lalu dimanakah dia berada, kenapa tidak menjemputnya dari sini.
"Lalu kemana ibu saya bu...bilang sama aku"
"Ibu tidak bisa menjelaskannya nak, yang bisa menjelaskan semua itu ada di kotak ini. Sebuah kotak berukuran sedang kini ada didepan matanya.
"Bawalah ini nak, disini akan menjawab semua pertanyaan kamu"
"Tapi bu..."
"Sini biar kalung itu ibu pakaikan" setelahnya Senja yang masih terpaku diam saja dipakaikan kalung itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rolando & Orlando
RomanceSebuah cerita tentang perjalanan anak kembar yang mencari cinta sejati yang sesungguhnya. Sebelum membaca cerita ini harap sudah membaca cerita The Life of a Pilot (TLOP) dan Rengga and Callia terlebih dahulu yah. Berikut empat peran yang akan ser...
