O N G O I N G
#3 in Romance - 23 Maret 2020
#1 in Teen - 17 Mei 2020
ameyliamd (B_Fortune88's ROMANCE STORY)
DONT COPY MY STORY!!!
Gwen Miller harus menjalani nasib buruknya yang membawanya kembali bertemu dengan orang yang paling ia hindari, namun...
Semoga aman, lancar dan sejahtera ya bacanya uwuw😍 VOTE YANG BANYAK + Komen yang BUANYAKK!!!❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guiseee❤️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gwen meringis pelan, matanya mulai memerah akan perlakuan Sean.
Setelah kata itu terucap, lembaran uang dollar yang sempat Sean tawarkan tadi melayang di udara—beberapa mengenai wajah Gwen dengan halusnya, membuat pengelihatan gadis itu di halangi oleh uang-uang yang berjatuhan itu.
"Ambilah! Aku tau tadi kau terlalu malu mengambilnya di hadapan semua orang." Ujar Sean berlalu pergi meninggalkannya dengan angkuhnya.
DEALING WITH THE JERK
Part 20 – Stubborn!
__________
Gwen mengerjap dengan debaran jantungnya yang menggila. Sean benar-benar bukan seperti dirinya 6 tahun lalu. Kenapa juga Gwen sedih akan perlakuan pria itu terhadapnya? Gwen memang menginginkan hal itu terjadi.
Tampak Alice datang dan mengelus pundaknya pelan.
"Astaga! Kenapa dengan kakimu, Gwen?" Tanya Alice saat matanya beralih menuju kaki telanjang Gwen.
"Hanya terkilir sedikit, Al."
Sepersekian detik nampak Emma masuk dan menghampiri Gwen. Menatap Gwen yang nampak kacau dengan matanya yang memerah.
"Gwen..." Emma langsung memeluk tubuh sahabatnya itu. Emma tidak bisa meninggalkan Gwen dengan keadaan seperti ini. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Gwen membalas pelukannya, "Tenang, Em. Aku tidak apa-apa."
Alice yang menyaksikan itu terlihat kebingungan, Gwen dan Emma nampak begitu dekat satu sama lain. Ditambah lagi dengan Emma yang menangis seperti itu.
"Emma teman High School ku dulu saat di Alexandria." Ujar Gwen pada Alice saat mereka tengah berada di ruangan milik Alice, mengobati kaki Gwen setelah memanggilkan dokter untuknya.
"Jangan bilang Sean juga..." Alice menggantung kalimatnya, matanya membulat tidak percaya. "Jangan bilang Sean Jefferson juga satu sekolah denganmu juga!" Tebak Alice dengan wajah yang masih heran.
Emma tersenyum tipis, "Nyatanya begitu, dia senior kami dulu."
"Astaga! Kalian hebat sekali! Satu sekolah dengan Sean!" Pekik Alice takjub.
"Tapi dia kasar dan arogan!" Tukas Emma tidak suka—mengingat bagaimana sikap Sean yang pernah menindasnya dulu membuatnya naik darah.
"Sepertinya begitu! Melihat dia memperlakukan, Gwen...sepertinya kalian memang punya masalah pribadi, ya?" Lagi-lagi Alice berasumsi dengan wajah seriusnya. Gwen hanya bisa nyegir sesekali mendengarkan percakapan Emma dan Alice mengenai Sean.