O N G O I N G
#3 in Romance - 23 Maret 2020
#1 in Teen - 17 Mei 2020
ameyliamd (B_Fortune88's ROMANCE STORY)
DONT COPY MY STORY!!!
Gwen Miller harus menjalani nasib buruknya yang membawanya kembali bertemu dengan orang yang paling ia hindari, namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tidak, kita akan ke rumah sakit. Dokter akan mengobati sakitnya, tidak Gwen!" Sean langsung mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya. Berlari secepat mungkin untuk keluar dari tempat laknat itu.
"Gwen! Tetaplah sadar demi diriku!" Tukas Sean semakin khawatir.
"Sean, dengar..." Gwen menatap wajah pria itu dari bawah, pemandangan terakhirnya sebelum tersedot dalam kegelapan yang sedari tadi memaksanya masuk.
"Aku mencintaimu, Sean."
Dealing with The Jerk
Part 52 –Painful
_________________
Sean terlihat mundar-mandir di depan ruang tempat Gwen diperiksa. Dirinya tidak bisa berhenti khawatir pada keadaan wanita itu, Sean benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada wanita itu.
"Bagaimana?" Sean langsung menyerang Dokter yang keluar dengan tatapan tajamnya. "Bagaimana keadaannya?" Tangannya meraih jas dokter itu—mencengkramnya kuat.
"Sean tenanglah, kau bisa bertanya baik-baik." Ucap Ben menarik bahu Sean pelan.
"Nona Miller akan sadar sebentar lagi, akibat maag-nya yang kambuh dia kehilangan kesadarannya. Ditambah dengan benturan di kepalanya yang membuatnya semakin lemah. Kami sudah memeriksa semuanya, memar yang ada ada perutnya juga tidak terlalu serius." Jelas Dokter itu.
"Kami juga sudah mengobati kakinya yang terkilir." Sambung Dokter itu.
Sean menghembuskan napasnya kasar, lega mendengar penjelasan Dokter itu. Tubuhnya bersandar pada dinding, memejamkan matanya.
Dari arah lain, terlihat Niel yang datang dengan wajah piasnya. Dia menghampiri Sean yang terlihat sedang sangat kacau disana dengan Ben yang menemaninya.
"Kakak." Niel langsung menekukan kakiknya di hadapan Sean. Berlutut.
"Maafkan aku, kak. Maaf kak." Tukas Niel dengan kepalanya yang menunduk.
Sean hanya diam membeku, dia terlalu emosional saat ini. Kedatangan Niel membuat dirinya kembali mengingat kejadian tadi karena ulah Camila—ibu Niel sendiri yang sedang meminta maaf di kakinya.
"Bangun, kau pikir apa yang sedang kau lakukan." Ujar Sean dingin.
"Maafkan aku."
"Berhenti meminta maaf! Ini bukan salahmu, lebih baik kau pergi dari hadapanku, Niel. Jangan membuatku hilang kendali." Peringat Sean yang masih diam memasang wajah kakunya.
"Pukul saja aku, kak. Aku mau menerima semua kemarahanmu."
"Jangan bodoh, Niel!" Sean akhirnya berteriak keras, "Jangan memancing emosiku!"