Dassa menjadikan Mutia sebagai alat balas dendamnya pada Roy, karena sepupunya itu beserta ayahnya adalah penyebab Dassa menjadi anak yatim piatu.
Tapi siapa yang menyangka, jika bukan Roy yang hancur karena Mutia akhirnya mengandung melainkan Dassa...
Roy masih berusaha mendobrak pintu gudang namun tidak juga terbuka. "Ma! Buka pintunya Ma! Mama gak perlu takut sama papa! Dassa harus tahu soal perusahaan itu ma! Aku tau mama bisa dengar!"
"Aku tahu jauh di dalam hati mama, mama peduli kan sama Dassa... Karena bagaimanapun Dassa anak tante Dinda, adik kandung Mama..."
BRAAKK!!
Roy kembali menendang pintu kencang.
"Kita yang membuat Dassa seperti sekarang. Kita yang diam saja sementara Dassa tinggal sama Bi Ririn bukan dengan keluarga yang masih tersisa... Kita yang membuat Dassa akhirnya menyakiti Mutia... Kita andil di dalamnya Ma..." Suara Roy melemah, dia terlutut dengan kesedihan yang kembali memenuhi dadanya karena teringat tentang Mutia.
"Setidaknya kali ini kita ada untuk Dassa. Kita berdiri di depannya sebagai keluarga..." Kata Roy lirih.
Zaskia yang berdiri tidak jauh dari pintu sudah menangis tanpa suara. Wajahnya berpeluh air mata lalu ia usap dan coba memberanikan diri mengeluarkan kunci yang sejak tadi hanya bisa digenggamnya. Zaskia mendekati pintu dan membukanya, melihat putera sematawayangnya terduduk sedih, dia ikut terlutut lalu memeluk anaknya, mampu merasakan sesedih apa puteranya karena itu juga yang ia rasakan. Tapi sekali lagi, ia harus tegar demi anaknya.
"Pergilah anakku... Lakukan apa yang tidak bisa orang tuamu lakukan... Kami orang tua namun kami tidak selalu benar." Bisik Zaskia.
Roy berdiri dan berlari pergi. Entah bagaimana reaksi suaminya, Zaskia sudah tidak lagi peduli. Dia siap menerima yang paling buruk yang bisa dilakukan suaminya padanya.
Di dalam mobil Roy mendapati ponselnya bergetar di dasbor.
"Hallo,"
"Roy kamu kemana sih?! Udah dari jam berapa aku coba telepon kamu tapi gak ada yang diangkat! Aku tuh khawatir tau gak!" Nisa marah marah.
"Kita harus cari Dassa, Nis! Pokoknya cari Dassa!" Pinta Roy sambil mengendarai mobilnya.
"Ada apa sih?! Dassa sama Mutia kan baik baik aja di rumah Bi Ririn," Nisa tak mengerti tapi bisa merasakan kepanikan Roy.
"Aku harus ke rumah Bi Ririn sekarang,"
"Aku ikut!"
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satya Albar Permana, bayi tampan itu lahir saat usia kandungan Mutia belum genap delapan bulan, namun dokter memastikan keadaannya sehat. Meski begitu dokter tetap melakukan terapi Kanguru untuk Satya. Dan sangat menyenangkan bagi Mutia sampai dia betah berlama-lama memandangi Dassa yang sedang berbisik pada Satya yang nemplok di dada telajang Dassa.
"Satya mirip banget sama kamu, Dass..." Kata Mutia. Dassa menyadari Mutia sudah terbangun dari tidur singkatnya.
Pintu ruangan terbuka, Andini masuk lebih dulu lalu menghampiri ranjang sedang Hadiwinata berjalan di belakangnya. Senyum di wajah Dassa dan Mutia seketika meredup. Suasana mendadak kaku, apalagi saat Mutia memandang wajah ayahnya. Mutia tidak lupa kesepakatan yang ayahnya buat bahkan tanpa menunggu persetujuannya. Dan Dassa ada di sini, satu ruangan dengan ayahnya, apa ayahnya hendak memisahkan Dassa dari Mutia dan Satya saat ini juga?