44. Masih Ada Rasa

7.1K 392 13
                                        

Mutia sedang menggendong Satya di teras depan rumah, kemudian Accord hitam itu masuk ke pekarangan rumah. Dassa keluar dari mobil mewah itu lalu menghampiri istri dan anaknya.

Sebuah mobil berhenti di seberang jalan, Roy memandangi kebersamaan Dassa yang sedang mengambil Satya dari tangan Mutia. Bayi itu menangis seperti tidak ingin di gendong ayahnya, dan tingkah lucu itu membuat Dassa dan Mutia sontak tertawa. Roy melihat dari balik kaca mobilnya. Tanpa ekspresi dia coba menahan segala rasa di dalam dadanya sementara kenangan indahnya dengan Mutia menari-nari di pelupuk mata.

Kenangan keduanya sering menghabiskan waktu di tukang bubur ayam favorit Mutia. Ada sebuah pohon rindang, keduanya sering duduk berdua di sana. Kadang hanya memandangi anak anak kecil yang berlarian atau saat ada pengamen Roy sengaja meminjam gitarnya untuk menyanyikan lagu untuk Mutia.

Dan Mutia akan mendengarkan sambil tersenyum dengan tatapan mata terpukau memandangnya. Betapa indah saat itu. Betapa perjuangannya untuk Mutia telah berada di luar batasnya. Gadis yang ingin dia lindungi tapi ternyata berakhir menjadi alat balas dendam sepupunya... Dan karena kesalahan itu Mutia menikah dengan Dassa.

Sedangkan Roy berakhir menjadi orang yang mempersiapkan pernikahan itu. Betapa lucu cara dunia ini bekerja... Roy mengepal tangannya. Tidak. Dia tidak bisa menerima semua ini begitu saja.

Dassa melihat ke luar pagar rumahnya, dan menemukan mobil yang dikenalinya. Mata Roy nampak dari balik kaca hitam itu. Dassa memperhatikan tatapan Roy, kehangatan antara Dassa dan Roy yang kembali terjalin seakan mulai terkikis.

Mutia bahkan melihat kemana arah tatapan suaminya.

Jauh dalam hati Dassa, dia mengakui jika dengan cara paksa dia telah merebut Mutia dari Roy... Dan Dassa bisa melihat itulah arti tatapan Roy sekarang.

Pintu mobil terbuka, Roy keluar dan menghampiri Dassa. Roy memberikan senyum hangatnya seperti biasa, dan Dassa membalasnya dengan senyum tipis.

"Nisa di sini kan?" Tanya Roy dengan nada dingin.

"Iya dia nginep di sini, tapi belum pulang. Lo bisa tunggu dia pulang di dalam." Kata Dassa.

Roy mengangguk lalu mereka masuk ke dalam rumah. Mutia segera pergi ke dapur dan kembali membawa secangkir teh hangat dari dapur untuk Dassa dan Roy.

"Aku ganti baju dulu ya," kata Dassa lalu menaiki tangga membawa Satya serta seperti sengaja meninggalkan Mutia dan Roy hanya berdua di ruang tamu.

Mutia canggung, sama halnya Roy. Mutia hanya berdiri berjauhan dari tempat Roy duduk, dia tidak tau harus tetap berdiri atau duduk? Atau apakah bersikap seakan Roy tamu? Atau bersikap seakan Roy adalah sepupu Dassa?

Tapi laki laki yang duduk dan tidak mengalihkan tatapan ini adalah mantan kekasihnya. Seseorang yang pernah membuat Mutia berjanji tidak akan ada seorang pun yang akan dia biarkan menyakitinya...

Namun janji itu, Mutia sendiri yang melanggarnya. Janggal rasanya berada satu ruangan dengan Roy sekarang dalam status Mutia yang kini istri Dassa.

"Mulai besok kamu gak perlu peduli sama papaku atau mamaku. Ada aku di sini dan kamu bisa fokus dengan keluarga kamu." Kata kata Roy barusan entah mengapa terasa seperti tangan Roy sendiri sedang meremas jantungnya.

"Kenapa Mut? Kamu ngerasain sakit saat aku bicara begini?" Tanya Roy saat melihat reaksi Mutia yang tertunduk sedih.

"Apa kamu kira aku gak merasakan hal yang sama saat di telepon tadi pagi kamu bicara seakan keluargaku sudah membebani kamu?! Seakan kita ini bukan siapa siapa, seakan dia gak pernah berlaku baik sama kamu?!"

Air mata Mutia jatuh.

"Kamu udah bahagia sekarang, dan aku tau itu! Tapi gimana sama aku?! Gimana sama angan-angan kita dulu?!"

Kesempatan KeduamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang