42. Keresahan Hati

6.8K 375 15
                                        

Mutia dan Nisa sampai di kantor Dassa. Ia tidak berhenti berdecak kagum melihat betapa besarnya gedung ini. Segera keduanya menghampiri meja resepsionis.

Karyawan mengenakan pakaian formal itu berdiri dan menyapa Mutia dan Nisa ramah, "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
resepsionis itu jelas tidak mengenal Mutia ataupun Nisa. Jadi dia hanya menjalankan tugasnya sesuai prosedur sesuai apa yang Surya katakan pada seluruh karyawan sebelum Dassa mulai bekerja hari ini. Bahwa jika ada siapapun atau apapun yang menyangkut Dassa, dia harus mengabarkan Surya terlebih dahulu.

"Bisa saya bertemu Dassa?" tanya Mutia.

"Bapak Dassagha? Baik, sebentar." Si resepsionis mengangkat teleponnya, dan menghubungi telepon di ruangan Surya. Si resepsionis memandangi Mutia sambil mengangguk-angguk sambil mendengar perintah di ujung telepon sana sampai akhirnya dia menutup telepon.

"Ditunggu sebentar di ruang tunggu ya ibu," pinta si resepsionis sambil menunjukkan pintu di sampingnya. Tapi saat Nisa berjalan lebih dulu ke pintu itu dan hendak membukanya, denting lift terbuka. Kinta keluar dari lift dan berjalan menghampiri meja resepsionis.

"Berkas yang dikirim kurir tadi mana?" tanya Kinta dengan gaya ceplas-ceplosnya. Tatapan mata Kinta melihat ke punggung Mutia. Perempuan mengenakan dress sederhana dengan bekal makanan yang dibawanya.

"Siapa?" tanya Kinta pada resepsionis.

"Tamunya Pak Dassa." jawab si resepsionis.

Kinta mengambil dokumennya lalu menghampiri Mutia. "Maaf, kalian siapa ya? Ada keperluan apa mencari Pak Dassa?" tanya Kinta. Mutia berbalik begitupun Nisa.

"Dia istrinya." Nisa lebih dulu menjawab dengan ketus. Si resepsionis mendelik kaget sedang Kinta melihat dari atas sampai ke bawah. Dia istri Dassa yang tadi sempat Dassa sebutkan saat acara penyambutan. Istrinya yang baru melahirkan.

Cantik, tapi tidak cukup anggun untuk mendampingi Dassa.

Dengan senyum percaya diri, Kinta berkata, "Biar saya antar kalian ke ruangan Pak Dassa."

TING...

Pintu lift terbuka, Mutia, Nisa dan Kinta berjalan berbarengan masuk ke dalam. Nisa berdiri di belakang, memandangi punggung Kinta. Seutas senyuman Kinta tadi menyiratkan sesuatu. Perempuan ini seumuran dengan mereka tapi sikapnya terlalu berani. Dia bahkan tidak menujukan rasa hormat pada Mutia sementara dia memanggil Dassa dengan sebutan 'pak'.

"Dassa pasti senang, kamu membawakan makan siang untuknya." Kata Nisa.

"Dassa kan baru sembuh, jadi aku ingin dia makan makanan yang sehat." jawab Mutia sambil memandang nomor-nomor lantai yang terlewati di sisi atas pintu lift.

TING...

Pintu lift terbuka, Kinta berjalan lebih dulu lalu mengetuk tiga kali pintu ruangan Dassa sebelum membukanya. Kinta mendelik saat melihat Dassa berpegangan pada meja sedang satu tangannya memegang bagian perutnya. Wajah Dassa terlihat pucat, berkeringat dingin, tapi saat Dassa menoleh ke arah pintu dan melihat Mutia muncul di balik pundak Kinta, Dassa berdiri tegak sambil coba tersenyum.

"Dassa!" Mutia berjalan masuk ke dalam ruangan saat melihat wajah pucat itu. Sedang Nisa menarik bagian belakang baju Kinta yang refleks melangkah mundur, kemudian Nisa hendak menutup pintunya rapat dari luar.

"Tapi Pak Dassa..."

Nisa bersidekap mendengar omongan Kinta beserta raut cemasnya. "Mutia istrinya. Dia lebih tau yang terbaik, dan lebih berhak atas suaminya." kata Nisa dengan nada dingin.

Nisa tidak perlu bertanya untuk mengetahui apa isi hati perempuan di hadapannya itu. Di hari pertama Dassa bekerja, serigala liar sudah berani menempatkan sasaran pada Dassa.

Kesempatan KeduamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang