Keesokan paginya, Dassa bangun lebih dulu... sedangkan Mutia masih tidur dengan wajah lelahnya. Dassa sengaja membiarkan istrinya itu tetap di dalam selimut, ia mengusap pipi Mutia, beberapa hari ini ia bisa menyaksikan sendiri jika wanita yang ada di hadapannya ini begitu sempurna mengambil perannya menjadi seorang istri sekaligus ibu.
"Semua orang harus tau kalau kamu adalah istri dan ibu yang hebat Mut... Aku akan mengumumkannya pada semua orang, kalau aku adalah orang yang paling bahagia karena Tuhan telah mengizinkan kita bersama... Aku akan membingkai pernikahan kita dengan pantas Mut, ya... aku janji," Gumam Dassa lalu tersenyum, kemudian keluar dari selimut.
Sebelum berangkat ke kantor, tidak lupa Dassa mengecup kening Mutia dan menitipkan pesan untuk tidak membangunkan Mutia pada Bi Ijah. Dassa kembali muncul di kantor. Tak ada yang berani mempertanyakan kenapa ada sisa lebam di wajah tampannya, atau alasan ketidakmunculannya selama beberapa hari.
Saat Dassa masuk ke ruangan, Kinta ikut masuk ke dalam sambil membawa banyak berkas. "Pak," sapanya.
"Panggil Bayu ke sini," pinta Dassa dengan nada dingin, setelah bertanya pada resepsionis soal kedatangan para pemegang saham untuk rapat pagi ini. Dassa sudah mendengar segalanya dari Roy dan dia tidak bisa membiarkan ular berbisa untuk tetap berada di dalam perusahaan ini.
"Ada apa ya Pak?"
Dassa membenarkan letak dasinya lalu memandang Kinta dingin, ini wajah yang tak pernah Kinta temukan pada Dassa sebelumnya. Kinta segera mengangguk dan keluar, menunaikan perintah Dassa yang tak bisa dibantah.
Tidak lama Bayu masuk ke dalam ruangan Dassa. Tatapan mata Dassa meminta Kinta untuk segera keluar agar membiarkan kedua pria itu bicara. Kinta juga mau tak mau menuruti perintah itu.
"Saya akan buat surat pembatalan segala kontrak dengan anda sebagai pemegang saham di perusahaan ini" Kata Dassa dingin.
Bayu tersenyum tipis, "Sayangnya anda tidak bisa melakukannya. Kalaupun bisa... Anda harus meminta persetujuan seseorang dan saya rasa anda tidak akan mungkin berani," tantang Bayu.
"Apa maksudmu?!" Dassa berjalan mengitari meja kerjanya yang luas dan berdiri di depan Bayu.
Tok tok tok...
Pintu terbuka, wajah Kinta muncul sambil membuka pintu selebar-lebarnya dan mempersilahkan seseorang untuk masuk. Atasan lamanya, Julian. Dassa dan Julian saling bertukar pandang dari jauh. Ada kilatan kebencian di wajah Dassa, sama halnya di mata Julian.
"Om..." Sapa Bayu sambil menunduk sopan. Tanpa sungkan Julian masuk ke dalam ruangan, memandang jika tak banyak perubahan di ruangan yang dulu ia tempati.
"Kamu pikir kamu bisa menguasai semua ini dengan mudah? Jangan bermimpi... Ada setengah dari hasil kerja keras saya di perusahaan ini meski ayahmu lah pemiliknya," kata Julian, sedang Dassa meremas jemarinya hingga bunyi gemeretak.
Jika bukan karena ada Bayu dan Kinta, juga karyawan lain mungkin Dassa sudah menghajar Julian sampai mati di sini. Tapi bukan itu saja yang ada di dalam kepala Dassa... Julian sudah bebas, entah apa yang membuat si kejam ini mudah keluar dari rumah sakit jiwa kecuali dia sendiri yang merencanakan rencana busuk itu. Mendadak Dassa mengkhawatirkan Mutia juga Satya.
Kata-kata Julian tidak membuatnya gentar. Mungkin Dassa belum cukup memiliki pengalaman, tapi dasar dasar ilmu sudah dia dapatkan di bangku kuliahnya. Bukankah seorang pemegang saham tetap saja masih berada di bawah CEO? Bukankah seorang CEO masih adalah pemegang keputusan tertinggi dalam perusahaan? Perusahaan ini milik ayahnya, yang merupakan hak dan kewajibannya untuk mengelola. Alasan kuat di mata hukum. Namun Dassa tidak ingin gegabah, Dassa akan membicarakan hal ini dengan Mutia, dan akan mengambil langkah untuk menyelesaikanya. Apapun yang terjadi, Dassa sama sekali tidak ingin berhubungan dengan Julian dalam hal apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesempatan Keduamu
RomanceDassa menjadikan Mutia sebagai alat balas dendamnya pada Roy, karena sepupunya itu beserta ayahnya adalah penyebab Dassa menjadi anak yatim piatu. Tapi siapa yang menyangka, jika bukan Roy yang hancur karena Mutia akhirnya mengandung melainkan Dassa...
