32. Linangan Darah

10K 556 27
                                        

Ponselnya dalam saku jasnya berdering ada nama Hadiwinata di layar. Julian mengangkat tangannya, membuat keempat orang berbaju hitam suruhannya berhenti menendangi karung hitam itu.

"Anda ini kemana?! Sudah sejak tadi saya coba menghubungi!" Nada bicara Hadiwinata terdengar marah.

"Ada apa?" Tanya Julian sambil melirik ke belakang, melihat Dassa bergerak-gerak di dalam karung hitamnya.

"Lepaskan dia, Mutia sudah menyetujui permintaan saya." Pinta Hadiwinata dan sebelum kalimatnya selesai Julian keburu mematikan ponselnya.

"Kalian berempat tidak akan menang melawan dia, apa kalian tahu dia itu petarung di Ring Hitam?! Jadi... Kita harus begini," Julian menendang bagian tengah karung itu kuat, senyum cerah tersirat di wajahnya. Erangan kesakitan terdengar.

"Kemudian di tambah ini!" Julian menginjak kuat dengan sepatu pantofelnya tepat mengenai lengan Dassa yang terlipat hingga bunyi gemeretak itu terdengar dengan suara teriakan Dassa.

"Buka dan lawan dia," suruh Julian sambil berjalan menjauh, bersandar di pintu mobilnya kemudian menyulut rokoknya, siap menonton pertunjukkan menarik.

Saat ikatan karung itu dibuka, tatapan benci Dassa sudah menghunus Julian. Dasaa mandi keringat, ada darah di hidungnya, sisi bagian samping matanya lebam sedang deru nafas Dassa yang naik turun terpompa dengan emosi yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia sudah kepayahan karena ditendangi tapi melihat Julian, Dassa seperti kesetanan ingin menyambar laki laki berkulit putih pucat itu.

Dua dari keempat orang itu memegangi lengan Dassa erat. Kepalan tangan melayang menghampiri wajah Dassa, membuatnya jatuh tersungkur di aspal, kotak cincin dalam genggamannya terlempar. Dassa susah payah menarik badannya melindungi kotak itu di bawah perutnya. Sedikit gerakannya membuat keempat orang itu panik dan langsung menginjak-injak Dassa seperti serangga yang menjijikkan. Jika bukan karena melindungi cincin itu Dassa takkan membiarkan dirinya kembali diinjak-injak.

"Gak! Gue harus cepet pergi dari sini, gue udah janji sama Mutia kalau gue akan ada di sana saat dia bangun," pikir Dassa lalu menarik satu kaki hingga orang itu terjatuh.

Celah itu Dassa manfaatkan untuk berdiri dan meninju satu orang lagi hingga terpelanting dengan hidung berdarah. Sisa dua orang. Salah satunya berlari ke arah Dassa dan langsung mencekiknya saat Dassa lengah karena kakinya ditarik oleh salah orang yang dia buat jatuh tadi. Cekikan kuat itu lalu sengaja di dorong, hingga punggung Dassa menghantam tiang lampu jalan. Lampu yang semula mati dan tiba tiba berkedip menyala dengan cahaya temaram karena terhantam, membuat Dassa bisa melihat area sekitaran dengan agak jelas. ujung jalan ini kosong, sepi dan tidak mungkin ada yang akan melintas.

Dassa menghantam keningnya keras keras pada kening orang itu hingga dia terhuyung mundur dan jatuh. Hanya tersisa satu orang dan Julian yang masih berdiri menontonnya dengan senyum tipis tersirat. Pertanda dia sangat menikmati pertunjukkan yang sudah dia rencanakan.

Dassa tidak berniat menghabisi Julian saat ini, lebih baik dia pergi berada bersama Mutia dan Satya. Lagipula Dassa sadar kondisinya, tangannya yang terinjak saat di dalam karung tadi sepertinya patah. Meski dia yakin masih bisa menang melawan Julian, tapi Dassa ingin cepat kembali ke rumah sakit.

Dassa berjalan tertatih-tatih hendak pergi. Tapi sisa satu orang berpakaian serba hitam itu tanpa Dassa sadari mengejar lalu memukul belakang kepala Dassa dengan tongkat besi. Darah mengalir turun dari belakang kepalanya.

Suara tawa Julian terdengar nyaring, saat Dassa berhenti melangkah dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut membuatnya sulit fokus. Julian menghampiri Dassa berusaha berdiri meski kedua kakinya sempoyongan. Tetesan darah yang keluar dari belakang kemeja Dassa berjatuhan di aspal sebelum tubuh Dassa lunglai dan Julian tepat waktu memeluk keponakannya itu.

Kesempatan KeduamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang