Terlambat??

39.2K 3.8K 933
                                        

Up cerita ini sambil menikmati naik turunnya hormon kehamilan. Maaf kalau tidak bisa rutin update karena baru saja keluar dari rumah sakit dan sabtu minggu depan harus ikut conference internasional di Solo.

. Semoga masih banyak yang suka ya





Happy Reading

Damar nampak terbangun dari tidur nyenyaknya saat ia merasakan kapal yang ia tumpangi mulai berjalan perlahan. Dari kejauhan, telah terlihat deretan bangunan dan sebuah tugu bercat kuning serta sebuah tulisan yang kemudian meyakinkannya bahwa ia telah tiba di tujuannya. Lima belas menit kemudian, kapal yang ia tumpangi akhirnya menepi di pelabuhan Tanjung Balai Karimun.

Tak butuh waktu lama untuk membawanya ke sini. Setelah pembicaraan panjang dengan Angkasa malam itu, dirinya bertekad untuk mencari sendiri kebenaran mengenai masa lalu wanita yang masih sangat ia cintai itu. Segera ia mengajukan cuti selama hampir satu bulan dengan harapan setelah semua jelas, ia akan memulai kehidupan baru dengan Arini.

Pelariannya selama ini ke Vienna, nyatanya tak membuat nama Arini hilang. Pertemuannya dengan lelaki tua bernama Angkasa, telah mampu menghancurkan harga diri yang sangat dia agungkan. Damar ternyata tak mampu melihat Arini bersama lelaki lain. Bahkan ia sendiri seolah lupa bahwa ia dan Erina telah mempunyai seorang putri. Hanya nama Arini yang selalu ia sebutkan selama perjalanan menuju Tanjung Balai Karimun.

Damar segera memesan sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan pelabuhan. Tak ada siapapun yang membantunya. Lisda ataupun beberapa orang yang ia kenal, tak kunjung menjawab pesan maupun mengangkat teleponnya. Damar sengaja memilih kamar yang berhadapan langsung dengan lautan dengan harapan ia akan segera bertemu dengan Arini dan menghabiskan waktu bersama setelah perpisahan mereka selama ini.

Dengan bantuan dari salah satu staf hotel, pencarian Arini dimulai ketika hari beranjak senja. Dengan mengendarai motor, Damar beserta Arif, menyusuri jalan sepanjang coastal area. Damar nampak kesulitan menemukan kedai milik istrinya itu hingga akhirnya mereka berdua memasuki satu persatu kedai yang berjejer sepanjang coastal area.

"Bapak Damar ya....suami Kak Arini kan?"

Seperti menemukan sebuah oase di padang pasir, Damar segera bangkit dari tempatnya duduk dan menjabat tangan lelaki yang baru saja menyapanya.

"Saya Hasan, Pak. Dulu kerja kat kedai Kak Arini. Sile mampir ke kedai kopi kami"

Damar segera memasuki sebuah kedai kopi yang sangat sederhana namun cukup ramai pengunjung yang datang. Tak berapa lama lelaki yang bernama Hasan tadi duduk bersama Damar dengan membawa secangkir kopi O lengkap dengan sepiring pisang bakar dengan taburan gula palem. Damar dan juga Arif yang sudah terlampau letih menyusuri coastal area, segera menandaskan hidangan yang ada di depannya.

"Ape hajat datang kemari? dah malam pulak?"

"Saya ingin mencari istri saya, Hasan"

"Kak Arini?"

"Iya"

"Dah lama Kak Arini tak nampak dekat sini. Dah setahun lepas"

"Tapi beberapa minggu lalu, dia balas pesan saya, kalau dia ada disini"

"Tapi memang Kak Arini tak ade. Kalau Bapak tak percaye, sile singgah ke rumah nye. Tiap hari Kak Lisda selalu bersihkan rumah itu"

"Rumah yang di atas itu kan?"

"Oo bukan itu. Rumah satu lagi. Lebih jauh lagi. Daerah Pasir Panjang. "

Setelah menjelaskan arah menuju rumah Arini, Damar segera undur diri. Dan keesokan harinya, masih ditemani oleh Arif, Damar segera melakukan pencarian sesuai arahan Hasan. Sekitar satu jam perjalanan, Damar tiba di sebuah rumah yang sama dengan penjelasan Hasan.

JANJI SETIA UNTUK ARINICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang