Misalkan nih, aku minta target vote, apakah teman teman sekalian setuju?
Happy Reading
Teriknya matahari di siang hari ini, terasa begitu menyengat kulitku sejak kedua kakiku menginjakkan tanah ibu kota setelah bepergiaan ke berbagai negara selama dua bulan ini. Jika teman temanku begitu bahagia menyambut kepulangan mereka ke tanah air, hal tersebut tak terjadi kepadaku. Aku sama sekali enggan kembali ke Indonesia.
Biarlah jika orang lain menganggap aku pengecut atau apalah, aku tak peduli. Rasa sakit karena kehilangan putraku dan pengkhianatan oleh istriku, telah membuatku mengambil keputusan yang cenderung kekanak kanakan. Selama dua bulan ini, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan yang mengharuskan ku menyinggahi beberapa negara.
Awalnya, aku cukup berat mengambil keputusan itu mengingat Jelita saat itu masih tertidur dalam komanya. Namun setiap aku berdekatan dengannya, hati ini selalu berperang hingga membuat otakku cukup lelah. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali bekerja meski saat itu keputusanku ditentang oleh atasanku.
Aku berusaha menyembunyikan kemelut keluarga kecilku. Tak kuberitahu alasan yang sesungguhnya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya dan tentu saja, aku masih melindungi nama baik Jelita karena dia masih menjadi istriku.
Tetapi rencana Tuhan berkata lain. Rahasia masa lalu Jelita akhirnya diketahui oleh kedua orang tuaku sekitar tiga minggu setelah kematian orangtuaku. Mereka marah besar, terutama Mama. Melalui sambungan video call, Mama menangis keras dalam pelukan Papa. Berkali kali Mama memukul dadanya karena sakit hati yang ia rasakan.
"Harusnya kita percaya Cindy, Mas. Mama malah usir dia dan lebih memilih perempuan pezina itu. Mama dosa sama anak kandung Mama sendiri. Maafkan Mama, dek"
Setelah melewati garbarata dan menyelesaikan bagasi, aku memilih makan siang di salah satu restoran khusus masakan jawa yang ada di bandara. Setelah menunggu setengah jam, akhirnya semangkuk sop buntut lengkap dengan nasi dan juga segelas coklat mint. Ketika suapan pertama, aku hanya bisa merasakan hambar. Begitu pula ketika aku menyesap coklat mint yang rasanya jauh dibandingkan dengan buatan Jelita.
Dua bulan hidup tanpanya, adalah hal terberat sepanjang hidupku. Aku telah terbiasa dilayani oleh Jelita. Segala keperluanku, hanya Jelita yang bisa mempersiapkannya. Setengah hidupku terasa pincang tanpa kehadirannya.
Keputusanku untuk menjauh darinya memang adalah hal yang sangat kejam. Namun aku sendiri perlu menyembuhkan lukaku. Selain itu, aku harus menebus segala kesalahanku kepada orangtua dan adik kandungku. Pengabaian terhadap mereka karena aku terlalu mengagungkan Jelita, membuat banyak luka di hati keluargaku sendiri. Mama juga memintaku segera menceraikan Jelita, namun hingga saat ini, opsi tersebut belum ada dalam rencana hidupku kedepannya.
Dari pihak keluarga Jelita, belum ada yang mengetahui kisah yang sebenarnya mengenai alasan aku menjauh darinya. Aku sendiri belum berniat mengatakan hal itu kepada kedua mertuaku. Sebenarnya aku masih enggan untuk bertatap muka dengan Jelita, namun pesan singkat dari Pakde Raka beberapa minggu yang lalu, membuatku harus segera bertemu dengannya
"Jika kamu memang tidak lagi menginginkan keponakanku, segera kembalikan dia baik baik kepada kami. Jangan jadi pengecut. Keponakanku adalah wanita terhormat bukan gundik yang bisa kamu buang seenaknya setelah kamu bosan"
Perkembangan kesehatan Jelita sendiri aku tidak terlalu memantau. Kabar terakhir mengatakan, bahwa dia telah pulang seminggu yang lalu. Itu artinya bahwa dia sudah berada di kediaman kami. Jika seperti biasanya aku akan membeli aneka oleh oleh dan bouqet bunga untuknya, kali ini kegiatan rutin itu tak akan pernah lagi aku laksanakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI SETIA UNTUK ARINI
RomanceBagi Arini, Mahardika adalah dunianya. Mahardika adalah nama yang selalu dia sebut dalam tiap doanya. Mahardika adalah nama yang akan selalu ada dalam hatinya hingga nanti nyawanya terpisah dari raganya. Ketika Mahardika bertunangan dengan Arini, ga...
