Dimana kamu......

43.4K 3.4K 787
                                        

Semoga masih banyak yang menantikan. Maaf jika selama kehamilan saya, jarang banget update. Dalam satu bulan, tiga kali opname. Dan yang terakhir sempat jatuh dr motor bersama suami. Suami ga papa tapi akunya yang opname sampe 4 hari. Belum lagi ritual muntah muntah yang menguras tenaga. Yang udah pernah hamil pasti tau lah ya rasanya. Belum lagi hasrat pengen lulus januari 2020. Doakan ya....

Happy reading

Cukup lama Damar memandangi sebuah pigura besar yang berisikan potret dirinya dan juga seorang wanita yang teramat dia cintainya. Ritual rutin jelang tidur malam yang telah ia lakukan setelah kebenaran yang menyakitkan sekitar enam bulan yang lalu. Tak ada yang dia lakukan. Hanya duduk di atas sofa single empuk ditemani coklat mint panas yang tentu saja rasanya tidak sebanding dengan buatan tangan istri tercintanya. Damar akan kembali ke kamar tidur jika rasa lelah dan kantuk sudah mulai menguasainya.

"Hari ini adalah hari ke 185, aku mencarimu, Sayang. Tak ada siapapun yang membantuku. Semua seolah berusaha menyembunyikan kamu"

"Aku tidak terpuruk, Sayang. Karena aku tahu, kamu tidak akan suka jika aku harus menyiksa diri dalam penyesalan"

"Rumah ini butuh kamu. Dan aku......"

"I am dying if you are not beside me"

Tak ada lagi buliran air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Bukan karena lelah namun Damar telah mengumpulkan tekad, jika tak ada lagi air mata untuk segala penyesalannya. Jika lelaki lain akan tenggelamam dalam minuman pengantar neraka atau meneguk dahaga nafsu dengan berganti selimut setiap malam, Damar berbeda. Dia hanya perlu duduk di depan potret pernikahannya dan menikmati replika sajian yang selalu Arini buat untuknya.

"Tadi pagi, aku ketemu Papa, Sayang. Dan seperti biasa, Papa mertua akan mencaciku hingga puas dan pergi. Aku tidak marah dan malah semakin yakin kalau kamu ada di dalam kuasa mereka"

Tak ada kata lelah bagi Damar untuk mencari keberadaan Jelita Arini. Entah sudah berapa puluh kali pengusiran yang dilakukan Rakai. Tak hanya pengusiran, Damar juga harus merasakan pukulan dan tendangan dari para sepupu istrinya itu. Dia masih sangat ingat bagaimana untuk pertama kalinya, ia harus menerima tendangan dan pukulan dari para sepupu istrinya dan mengakibatkan ia harus tak sadarkan diri selama sehari penuh.

Rasa penyesalan dengan wajah yang merunduk sedih pun tak mampu memalingkan wajah Ratih kepadanya. Wanita paruh baya yang sangat dicintai oleh istrinya itu, akhirnya berhasil ia temui sekitar tiga bulan yang lalu. Saat itu, Damar nekat memasuki kediaman Ratih saat kedua anaknya tengah berada di luar kota. Ratih tak bergeming meski saat itu Damar merendahkan dirinya dengan mencium kedua telapak kaki wanita yang sangat menyayangi istrinya itu.

Kata menyerah seolah menghilang dari perbendaharaan kata yang ia miliki meski ia harus berkali kali berurusan dengan pihak yang berwajib karena dugaan tindakan tidak menyenangkan yang mengganggu ketentraman orang lain. Siapa lagi pelaku pelaporan jika bukan Sintha, salah satu sepupu Arini yang sangat melindungi istrinya itu.

"Sebelum pulang kantor, aku terima surat panggilan dari kepolisian. Mbakmu Sintha suka sekali kalau aku di penjara, Sayang. Minggu kemarin aku masuk rumah Papa Rakai diam diam. Belum sampai ruang tamu, aku udah dibawa satpam rumah. Mungkin karena itu, Sintha buat laporan"

"Aku ga akan pernah lelah untuk cari kamu, Istriku."

Tiba tiba saja, ingatan Damar terlempar ke peristiwa enam bulan yang lalu. Selembar akta cerai yang sempat menghentikan laju aliran darah dan nafasnya. Hari berikutnya, dengan bantuan salah satu teman pengacaranya, Damar mengajukan gugatan terhadap keputusan verstek pengadilan agama. Betapa terkejutnya Damar saat mengetahui bahwa akta cerai itu asli dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Di hari yang sama itu pula, perjuangan berat Damar dimulai.

JANJI SETIA UNTUK ARINICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang