Innalilahi wa innailahi rojiun. Telah beristirahat dengan tenang, survivor leukimia yang juga anak teman saya, Raniya. Si cantik Raniya akhirnya harus menyerah dengan penyakitnya. Si cantik ini menghadap Allah SWT pada hari Senin 12 Agustus 2019 pukul 21.30 di RS karyadi Semarang.
Al fatihah
######################################
Arini merasa berada di sebuah tempat yang sangat indah. Sebuah hamparan luas penuh dengan aneka warna bunga dan juga tumbuhan. Suara kucuran air yang ia yakini dari derasnya air terjun, nampak jelas tertangkap dengan kedua telinganya. Udaranya begitu sejuk dengan kabut tipis yang lewat tepat di depan kedua netra hitamnya. Arini merasakan hatinya begitu damai. Wanita itu tak pernah merasakan kedamaian di tempat lain.
Kaki Arini akhirnya berjalan menyusuri hamparan yang luas itu. Dengan tanpa alas kaki, langkahnya terasa begitu ringan dengan gaun panjang warna putih yang ia kenakan. tetesan embun yang membasahi rerumputan, membuat telapak kakinya begitu nyaman memijak permukaan rumput
"Bunda...!!!"
Langkah kaki Arini seketika berhenti saat sebuah suara memanggil namanya. Perlahan wanita itu membalikkan tubuhnya. Samar-samar Arini melihat sosok mungil dari kejauhan. Dengan mengumpulkan sedikit keberanian, Arini mencoba mencari sumber suara itu
"Bunda..."
Anak kecil itu berlari ke arah Arini dan memeluk erat tubuhnya. tak hanya itu, bocah lelaki itu menciumi wajah Arini dan terus mengucapkan kata sayang kepadanya. Arini hanya bisa mematung dan terus bertanya siapa gerangan bocah kecil yang menggemaskan ini
"Adek cayang bunda.."
"Adek ini siapa..."
"Bunda ga kenal aku..."
Arini mengerutkan dahinya. Pikirannya terus bekerja untuk mengingat siapakah sosok lelaki menggemaskan yang ada dalam pelukannya. Entah mengapa, meski ia tidak mengingat sama sekali dengan bocah lucu itu, hatinya seolah merasa dekat dengannya.
"Aku Ardhana, Bunda..."
"Ardhana..."
"Iya..aku anak Bunda nomor dua. Ardhana....Arini Damar..Iya kan"
Arini segera menciumi wajah putra keduanya. Akhirnya, putranya lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
"Ardha....adek Ardha...Bunda sayang adek Ardha..."
"Kakak juga di sayang dong Bunda..."
"Adek Ardha tahu?"
"Tahu dong. Ayah juga tahu"
Wajah Arini yang sedari tadi memancarkan bahagia, kini seketika berubah muram. Sebuah kebohongan besar yang tentu saja kini telah sebagian terungkap. Namun kesedihan itu tak bertahan lama ketika jemari mungil milik putranya mulai mengusap permukaan kulit wajah Arini.
"Jangan sedih, Bunda. Ikut adek jalan-jalan yuk!"
Telapak tangan yang masih kecil itu, menuntunnya menyusuri hamparan luas yang indah itu. Putranya berceloteh ria dan menceritakan semua hal yang dia ketahui tentang tempat itu. Kesedihan yang baru saja ia rasakan, sepenuhnya telah ia lupakan.
Pandangannya terus mengedar dan semakin mengagumi keindahan tempat yang ia datangi itu. Entah telah berapa ribu langkah ia tempuh namun semakin jauh, hamparan itu terlihat semakin menakjubkan. Langkah mereka terhenti ketika di depannya terdapat sebuah jembatan kayu yang tertutp kabut putih. Seketika Arini melihat ke bawah dan benar saja, mereka saat ini berada di tebing yang tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI SETIA UNTUK ARINI
RomanceBagi Arini, Mahardika adalah dunianya. Mahardika adalah nama yang selalu dia sebut dalam tiap doanya. Mahardika adalah nama yang akan selalu ada dalam hatinya hingga nanti nyawanya terpisah dari raganya. Ketika Mahardika bertunangan dengan Arini, ga...
