Salju kembali turun menyapa kota Washington. Tapi Rachael dan Robbin tidak peduli. Kerena saat ini fokus mereka hanya pada perlengkapan bayi di depan nya. Setelah semalam mengetahui kalau anak gadis kesayangan nya hamil, Rachael langsung memekik girang. Dia sampai-sampai tidak bisa tidur karena nya. Dan pagi hari nya, dia langsung bergegas pergi ke mall untuk membeli perlengkapan bayi, dengan Robbin di samping nya.
"Darling, bagaimana kalau yang ini saja?" Ucap Rachael sambil menunjukkan sepatu bayi berwarna biru.
"Biru? Bagaimana kalau cucu kita perempuan? Pink saja, itu terlihat sangat menggemaskan" Robbin mengatakan demikian karena beliau sangat ingin menggendong bayi perempuan.
"Tidak-tidak. Jangan pink. Kalau beli pink, lalu cucu kita laki-laki, darling please, itu sangat tidak cocok. Biru lebih netral"
"Tapi pink lebih terlihat cute"
"Tapi aku ingin biru, aku ingin cucu laki-laki supaya setampan Sehun"
"Ck. Memang nya kau pikir, jika cucu kita perempuan tidak akan secantik Cleosa? Tentu saja itu tidak benar! Pilih pink karena aku ingin mini Cleosa hadir!"
"Ck! Pilih kedua nya. Kita beli dua warna!"
"Untuk apa? Boros sekali!"
"Menantu kita kaya raya. Kalau pun kita jatuh miskin karena boros dalam membelikan perlengkapan calon cucu kita, aku yakin Sehun akan membelikan kita rumah mewah nanti nya"
"Kau---"
"Lagian, ini cucu pertama kita. Kalau misalkan yang keluar pertama laki-laki, yang warna pink nya akan aku simpan untuk cucu ku berikut nya, ya siapa tahu saja perempuan. Kata Cley saja, Sehun itu sangat sayang anak kecil. Jadi aku yakin, Sehun akan menambah anak lagi nanti nya"
"Astaga, pemikirian mu Rachael. Aneh! Yasudah, terserah saja!" Lalu Robbin melenggaang pergi.
Rachael berdecih. "Dasar calon kakek yang menyebalkan! Belanja untuk calon cucu sendiri saja ribet!"
***
Minggu, adalah hari yang sangat-sangat di tunggu Cleosa. Sebab, Sehun pulang. Maka nya, sudah sejak tadi Cleosa duduk manis di ruang keluarga sambil meminum susu hamil nya. Ah ya, kehamilan nya baru berusia lima minggu. Dokter bilang, semua nya normal. Tapi tetap saja, semua orang yang tahu Cleosa hamil, akan selalu melarang nya untuk melakukan kegiatan apa pun, termasuk meladeni keponakan nya yang sangat menggemaskan itu. Iya, seluruh keluarga nya sudah tahu. Hanya Sehun yang belum.
"Sudah habis?" Ucap Sandra yang di angguki Cleosa.
"Good. Bagaimana, apa mau masih mual?" Sandra mengelus pundak adik ipar nya dengan penuh sayang.
"Sedikit. Tadi sebelum minum susu juga, aku muntah."
"Kalau bisa muntah, itu lebih baik. Aku waktu hamil pertama, sama sekali tidak bisa muntah. Yasudah, lebih baik kau istirahat saja di kamar." Cleosa menggeleng pelan.
"Aku ingin menyambut Sehun" Ujar nya malu-malu hingga membuat Sandra terkekeh.
"Sepertinya bawaan bayi, ya?"
"Mungkin"
"Yasudah, aku mau mengecek Cello dulu"
"Hmm"
***
Dalam perjalanan pulang, Sehun tak henti-henti nya tersenyum sambil memandangi foto Cleosa yang di kirimkan oleh Sandra tadi malam. Di sana, Cleosa sedang menggendong Cello. Jujur saja, hati Sehun langsung menghangat. Cleosa sudah lebih dari cocok untuk menjadi seorang Ibu. Semoga saja, Tuhan segera memberinya anugrah pada pernikahan mereka dengan menghadirkan buah cinta mereka dalam rahim Cleosa.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLEOSA
FanfictionKetika dia mengatakan semua keluh kesah nya secara tidak sadar, entah mengapa aku merasa seperti bertemu dengan takdir ku. "Kita diposisi yang sama" "Cleosa Winston. Kau mau menikah dengan ku?" Semuanya terjadi begitu saja, hingga aku sadar bahwa p...
