|BAB 1| Gadis Desa

2.7K 252 99
                                        

Selalu bersyukur dengan apapun yang diri kita punya adalah kunci bahagia yang sesungguhnya.

Aku selalu bersyukur dengan apapun yang aku punya sekarang. Hidup di desa bukan lah salah satu kerugian dalam hidupku. Hidup seperti ini sangat membuat diriku bahagia. Mungkin jika orang yang berada, hidup di desa bukanlah sesuatu yang mereka inginkan.

Udara pedesaan sangat terasa dingin dan segar dibandingkan di kota besar. Hamparan pemandangan indah yang menyambut mata selalu dapat terpancarkan. Hirup pikuk perkotaan tak akan ada di sini. Di sini hanya ada kesunyian dan pemandangan yang indah dalam menyambut mata.

"Nita," panggil wanita yang sudah cukup berumur.

"Iya, Mbah," balas Anita sembari menghampiri wanita tua itu.

"Bawa ini untuk Bapakmu," ujar Sutiyah.

Anita segera mengambil rantang itu dari sang Nenek. Salah satu kegiatan yang selalu ia lakukan ketika siang hari tiba. Mengantarkan bekal untuk Bapaknya yang berada di sawah adalah kesukaan dirinya.

"Baik, Nek," ucap Anita begitu antusias.

Dirinya segera mengambil sepeda ontel yang selalu berada di depan rumahnya, menaikinya dan mengayuhnya menuju persawahan keluarganya. Rasa antusias yang memburu, membuat dirinya semakin giat mengayuh pedal sepeda. Suara bel yang berada di sepedanya selalu ia bunyikan.

Pemandangan hamparan persawahan menyambut matanya. Walaupun cuaca di siang hari sangat panas, itu tak membuat seorang gadis berambut kepang itu menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan di antara jalanan yang sempit untuk menjangkau keberadaan Bapaknya.

"Pak!" seru Anita menghampiri bapaknya itu.

Pria yang menggunakan tudung itu pun segera menghampiri anaknya. Dengan pakaian yang serba lumpur, keringat yang menetes itu tak luput dari perhatian putrinya itu. Anita merasa kasihan melihat Bapaknya harus mencari nafkah di tengah teriknya matahari demi menghidupi dirinya.

"Kenapa, Nduk?" tanya pria yang diketahui bernama Suherman itu.

"Anita bawa bekal untuk makan siang, Pak," ucap Anita segera membuka rantang yang berisi nasi juga lauk pauk.

Dengan telaten ia mempersiapkan segalanya dan menghidangkan makanan yang cukup sederhana itu kepada Bapaknya.

"Kebetulan sekali, Bapak sudah sangat lapar. Kamu sudah makan?" tanya Suherman pada putrinya.

"Sudah, Pak," jawab Anita merasa senang melihat orang tuanya memakan bekal itu.

Melihat Bapaknya makan selahap ini, membuat dirinya senang. Andai saja sosok wanita yang melahirkannya berada di sini, mungkin kebahagiaan yang ia dapatkan tak ada tandingannya.

Ibu dimana? Anita kangen, Bu. batin Anita dalam hati.

"Bapak akan berusaha sekuat mungkin agar kamu bisa melanjutkan kuliah mu," tutur Suherman sembari menatap putri semata wayangnya itu.

"Anita sudah tak ingin kuliah, Pak. Anita tak ingin merepotkan Bapak," jelas Anita dengan tatapan sendu.

Dari hati yang terdalam, ia sangat ingin melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda karena hambatan biaya. Berhenti kuliah tak membuat dirinya patah arang dalam belajar. Ia selalu belajar sendiri melalui buku-buku yang ia punya. Ia ingin berusaha sendiri untuk melanjutkan kuliahnya itu.

Setinggi Mimpi (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang