Aku hanyalah seorang gadis desa, yang bermimpi untuk bertemu dengan Ibuku. Ibuku seorang artis terkenal di kota. Empat belas tahun sudah, aku dan dia tak berjumpa. Jarak selalu memisahkan kita berdua. Rindu ini semakin menjadi, ketika aku membutuhka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rencana Allah lebih indah dari rencana yang telah kita susun.
Rencana Allah lebih indah dari pada rencana manusia. Jika manusia mempunyai rencana, maka Allah penulis skenario terbaiknya. Tak ada yang pernah tau bukan? Nasib kita kedepan, sifat kita kedepan dan kehidupan kita kedepannya seperti apa. Tak ada yang tahu. Hanya yang diatas yang maha tau. Kadang apa yang telah kita rencanakan, tak sesuai dengan kenyataan. Hanya sekedar opini belaka, yang akan hilang diterpa badai. Anggap saja begitu.
Mempunyai pekerjaan tetap siapa yang tidak mau? Hidup penuh kesendirian, dalam lingkup kota yang terlalu keras, membuat Anita harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mengandalkan tabungan? Oh, tentu saja tidak. Tabungan kian menipis, jika dipakai untuk keperluan sehari-hari. Jika sudah habis, kita tak bisa lagi mengais. Saat ini, kerja sembari kuliah adalah tujuan dirinya untuk tetap berada di kota yang penuh kekerasan seperti ini.
Langkahnya telah tiba pada cafe dengan nuansa coklat dan kayu. Pengunjung cafe itu sangat ramai, jika ia lihat dari arah depan. Saat ini ia berada di cafetoffee tempat dimana ia akan berkerja mulai sekarang. Cafe itu terletak tak jauh dari Universitas Indonesia. Sangat cocok dijadikan sasaran tempat nongkrong bagi kaum muda ataupun keluarga.
"Bismillah." Anita melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe.
Lonceng yang berbunyi membuat pelanggan juga karyawan lain menatap kearahnya. "Anita, cepat ganti baju." Salah satu karyawan yang ingin mengantarkan makanan berhenti dan menatap kearah Anita.
"Iya, Mbak." Anita segera pergi menuju dapur belakang dan berganti baju sebagai karyawan di cafe ini.
Anita berjalan ke arah meja penerimaan makanan. Ia menghampiri berbagai macam makanan yang telah siap untuk diantarkan. Ia pun kemudian menatap kearah temannya. "Mbak, ini mau diantar ke meja nomor berapa?" Anita bertanya pada Rani yang telah kembali.
"Kamu antar ke meja nomor dua sana. Cepat, ya." Rani memberikan makanan yang ia pesan pada Anita.
"Baik, Mbak." Anita segera melangkahkan kakinya menuju meja yang diucapkan oleh Rani kepadanya.
Dengan hati-hati ia menaruh mie terbang yang menjadi ikon makanan dari cafe ini. Mie terbang membuat para pengunjung merasa ketagihan. Terlebih lagi, bumbu makanan itu sangat pas di lidah para pelajar. Selain enak, harganya pun sangat murah di kantong. Sangat cocok untuk para mahasiswa yang sedang menunggu uang jajan dikirim, tapi ingin maka di luar.
"Selamat menikmati," ucap Anita sembari tersenyum sembari menaruh makanan itu diatas meja.