Epilog

2.7K 134 33
                                        

Perjuangan itu tak ada yang sia-siaSelagi kita bisa bertahan Dari badai dan derasnya cobaan, Hati yang kita perteguhkan Niat yang kita terus tingkatkan,Tak ada yang mustahil untuk kita raih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perjuangan itu tak ada yang sia-sia
Selagi kita bisa bertahan
Dari badai dan derasnya cobaan,
Hati yang kita perteguhkan
Niat yang kita terus tingkatkan,
Tak ada yang mustahil untuk kita raih.
Kejar mimpi setinggi mungkin. Walau terlihat mustahil, jika kau percaya pada takdir, maka tak ada yang namanya mustahil.

Universitas Indonesia tengah mengadakan wisuda bagi para mahasiswa yang berjuang sekian lama. Memang ini waktu yang ditunggu-tunggu, karena mereka akan merasakan hasil dari apa yang mereka perjuangkan selama ini. Tak ada yang mustahil, jika kita niat dan mau berusaha. Para mahasiswa tengah berkumpul di aula Universitas. Mereka tengah siap menunggu hasil keputusan yang akan mereka dapatkan.

Para mahasiswa sudah memakai baju serapi mungkin, bukan hanya mahasiswa yang datang, tapi para keluarga ikut mendampingi juga menyaksikan mereka berdua. Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi seorang gadis desa, hari di mana ia bisa membuktikan, bahwa tak ada yang tidak mungkin di dunia, selagi kita mau berusaha.

Anita menggegam tangan sang Ibu, yang berada di sampingnya. "Ibu, Anita gemetaran."

Zola yang mendengar itu pun dibuat tertawa. Ia menatap Andalas yang terlihat bahagia dan tenang saja. "Santai saja. Andalas saja tidak merasakan tegang sama sekali. Benar begitu?" Zola bertanya sembari menoleh pada Andalas yang duduk di samping Suherman.

Andalas yang merasa diminta pendapat pun menoleh. Ia tersenyum. "Di muka mah biasa aja, Ma. Hati Andalas kaya mau copot. Takut aja. Gak beda jauh sama Kak Anita."

"Nah, kan, Bu. Andalas saja merasa tak tenang, apa lagi Anita." Anita terkekeh kemudian.

Suherman menoleh pada sang anak. Senyuman tak pernah ia hilangkan dari kedua sudut bibirnya. "Seng tenang. Kuwe iso."

"Baik, Pak." Anita tersenyum.

Satu persatu mahasiswa telah dipanggi oleh MC, tinggal Anita yang belum dari jurusan mereka. Anita merasakan jantungnya ingin copot, ketika namanya disebut dengan embel-embel IP tertinggi dari jurusannya.

"Ini dia yang kita tunggu-tunggu. Anita Putri Zola, fakultas kedokteran, yang meraih IP tertinggi dari semua jurusan yang ada. Silahkan kepada Anita, untuk maju memberikan sambutan, sekaligus penyerahan." MC sudah memberikan lampu, agar Anita maju ke depan.

Anita yang mendengar itu segera memeluk sang Ibu, ia tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur, atas apa yang telah ia raih saat ini. Ini semua berkata doa dan kerja keras dirinya selama ini.

Anita membernarkan rambut beserta pakaiannya, ia maju dengan jalan yang anggun. Semua mata bahkan menatap dirinya. Bagaimana mereka tak melihat? Anak itu mencuri semua perhatian dengan prestasi yang ia raih sekarang. Ketika Anita berada di atas panggung, ia menerima sertifikat juga beberapa lainnya. Suara riuh tepuk tangan membanjiri satu aula.

Setinggi Mimpi (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang