Baru beberapa detik membuka mata, Sam Ezra segera disambut oleh rasa nyeri yang menerjang seluruh otot bahkan sendi engsel tubuhnya.
Matanya berkedip. Sekali. Dua kali. Mengapa badannya bisa sepegal ini?. Sam menguceki matanya yang lengket lalu menyadari keadaan keempat ujung jari kirinya yang lecet ditutupi plester.
Oh ya tentu-tentu. Desis Sam mengingat alasan badannya bisa sesakit itu karena telah melakukan banyak hal terutama kemarin, dari yang terpenting sampai tersepele.
Pagi hari jam enam Sam terbangun, segera mandi, makan lalu bergabung dengan Gery Raditya dan Gerald Mikhail masuk keruang gimnasium berolahraga.
Olahraga angkat beban!. Sam mengerang seraya menarik badan ke posisi duduk menyender. Kegiatan olahraga paling malas Sam lakukan (karena menurutnya naik turun anak tangga tiap hari disekolahnya dulu sudah merupakan kategori olah raga) yang sekarang harus rutin dilakukan di kapal laut bersama dengan kumpulan para tentara.
Sam lanjut menguap, memanjangkan badannya hingga ia merasakan ujung jempol kaki kanannya menghantam sesuatu yang keras dan dingin. "Waduh!" Ceplosnya seketika menyadari itu adalah Laptop bukan kerangka besi tempat tidur tingkatnya.
Sam merutuk buru-buru memanjangkan tangannya menyambar ujung badan Laptop yang terancam seinchi lagi terhempas jatuh dari tempat tidurnya ke lantai. "Bisa mampus kalau sampai rusak!" tukasnya menaruh benda itu keatas pahanya sebelum menekan tombol aktif.
Sam menghembuskan setengah napas. Layarnya yang gelap akhirnya perlahan berubah putih menyala. Tapi ia masih belum tenang menunggu tampilan desktop nya muncul. Jangan rusak...jangan rusak...
Welcome!
Sam menyengir lega melihat tampilan wallpaper gurun pada layarnya.
Tidak rusak! Untung saja!. Syukurnya lagi dalam hati. Hanya laptop inilah yang mereka berempat punya, dan saat ini dipakai bergantian. Laptop yang ditinggalkan oleh prajurit yang menghuni kamar Sam sebelumnya.
Sam sibuk berlega diri, tak menyadari internetnya yang otomatis tersambung. Hingga muncul tampilan permohonan video call sampai membuat Sam jadi merutuk lagi.
Harus apa ini?! Pikirnya. Sejujurnya, Sam juga sengaja melakukan segala macam kegiatan menyibukkan itu demi menunda-nunda untuk berbicara lagi dengan keluarganya.
One video call request from
Darma Phillip.
Accept?
Sam tahu itu bukan sepupunya. Tapi itu orangtuanya yang mencoba menghubungi menggunakan akun sepupunya. Sam dan papanya memang sempat berbincang semalam dan terhenti karena Sam dipanggil berkumpul di aula kapal.
Tak ada yang memanggil sebenarnya, tapi Sam sengaja berpura-pura karena orangtuanya terus membujuk agar ia mau pergi dari kapal Atmaja dan berkumpul kembali dengan keluarganya di salah satu tempat pengungsian di pulau seribu.
Accept?
No. Sam berucap sambil mengklik tanda silang pada permohonan videonya. Ia lanjut mengarahkan kursor pada pilihan sambung chat.
Darma P.
Sinyalnya masih buruk, Sammy?
Sammy. Dengan tambahan huruf Y. Ia segera mengetahui itu pasti mamanya. Kalau papanya selalu menulis Sam tanpa tambahan. Kalau Darma sepupunya selalu memanggil Samtol atau Sam tolol.
KAMU SEDANG MEMBACA
RED CITY : ANNIHILATION
Ciencia FicciónSequel of RED CITY : ISOLATION Aku sudah pernah dengar tentang ramalan itu. Ramalan bahwa akan terjadinya Perang dunia ketiga dalam waktu dekat. . Sialnya, ramalannya kurang lengkap. Karena tidak memberitahu sama sekali bahwa perangnya itu bukanlah...
