Rasanya aku sudah berhari-hari menunggui kabar terbaru, memandang telpon dinding ruang klinik yang sempat berbunyi kurang dari sejam yang lalu, berisi perintah supaya kami tak keluar, tetap tinggal mengamankan diri.
Pierre Malstrom terus hilir mudik resah. Beberapa kali sudah ujung sepatunya tak sengaja menabrak kaki kursi disekitar dan saat kakinya menabrak kursi tunggu yang kududuki aku pun mulai mendesis memohon.
"K-kau bisa diam dulu tidak-please-pergerakanmu ini membuatku tambah pusing!"
"Ooh maaf sekali ya jika keresahanku ini mengganggu duduk santaimu-"
"Ih siapa yang-"
"Bagaimana bisa sih kau duduk tenang disaat seperti ini?!"
"Ini bukan duduk tenang!"
Desisku lalu coba menghirup panjang napas.
"Mungkin dengan duduk kita bisa berpikir lebih baik."
Tahu-tahu Pierre berbalik dan menjatuhkan diri kekursi. Napasnya masih menderu. Ia sempat menelengkan kepalanya ke pintu klinik yang tertutup rapat sebelum kembali memandangku dengan tatapan menuntut.
"Tak terdengar sama sekali suara tembakan lagi semenjak kita masuk kesini. Penembak itu berarti cuma satu kan?"
"Eh-"
Aku mengerjap-ngerjap.
"Eng-"
"Kalau ada banyak, pasti bakal terjadi penembakan masal di luar-"
"Astaga Pierre omonganmu!"
Ia mengabaikan nada terkejutku. Tangannya mengelap sekilas dahi berkeringat yang masih menyisakan jejak cipratan darah kepunyaan Kadet Silvia.
"Siapa ya kira-kira yang sampai spesial mengirim satu orang demi membunuh kita?"
Tangan Pierre terangkat, menjambaki sedikit rambut pirangnya.
"Aku berusaha berpikir keras, mengingat musuh-musuh perusahaan kami. Masalahnya saingan kami memang banyak. Atau-"
Ia menyenderkan lemas kepala ke tembok belakangnya.
"Atau jangan-jangan pelakunya dari sekutu perusahaan kami sendiri lagi?!"
Aku hanya bisa mengamatinya dalam diam. Karena di hatiku menetap sudah rasa kecurigaan seperti kecurigaan pertama Pierre tadi.
Kecurigaan bahwa penembak itu kemungkinan khusus mengincarku.
Dan yang mengincarku tak ada hubungannya dengan grup Malstrom.
Hubungannya jelas dengan Regi.
Vincent.
Tapi sungguh aku tidak mengerti kenapa mereka harus mengejarku lagi.
Karena nyatanya sampai saat ini aku hanya diam, tak ada berkoar-koar di umum tentang apa yang kualami di pulau waktu itu, bahkan mencari menyelidiki pun juga tidak.
Aku bahkan merasa jijik terhadap diri yang masih diam berlindung penuh takut dibelakang Aegis tentang kejahatan internasional ini.
"Pokoknya,"
Nada Pierre meninggi.
"Yang jelas harus tertangkap dulu penembak sialan ini, baru kita interogasi bersama-sama!"
Rahangku menegang.
I-ini kah waktunya?
Waktu dimana semua akan terkuak tentang pelarian kami-
Bukankah kau sudah mengerti ini hanya masalah waktu?
Cepat atau lambat pasti akan ketahuan.
Tapi ini terlalu cepat! A-ku belum ada-
Aku memekik tertahan ketika baru menyadari sudah ada sesosok dokter yang berdiri di depanku dan Pierre sambil menarik lepas sarung tangan operasinya yang berlumuran darah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RED CITY : ANNIHILATION
FantascienzaSequel of RED CITY : ISOLATION Aku sudah pernah dengar tentang ramalan itu. Ramalan bahwa akan terjadinya Perang dunia ketiga dalam waktu dekat. . Sialnya, ramalannya kurang lengkap. Karena tidak memberitahu sama sekali bahwa perangnya itu bukanlah...
