[8] FLASHBACK

134 34 0
                                        


Pagi hari gadis itu duduk bersantai sembari melihat indahnya kharisma pematang, tambah lagi udara disini memang sejuk karena dikelilingi alam yang masih terjaga. Jean menghembus napas dengan berat, memegangi potongan kain berlogo itu dengan perasaan was-was. Mengingat bahwa disinilah tempatnya beradu argumen bersama sang ayah dan Joan tiap harinya, saling adu bacot untuk selesaikan satu kasus, kini dengan siapa ia begitu?

Terpaan angin membangkitkan suasana sedihnya, secara tidak sadar Jean menangis.

Ya, kadang kita juga butuh ruang dan waktu untuk sendiri, mengeluarkan segala yang tersendat dihati. Itulah yang dilakukan Jean, gadis itu tak sekuat kelihatannya, karena akal yang mengingat semua luka, Jean berubah jadi gadis cengeng.

"Ayah, Jean kangen kita duduk-duduk disini! Coba aja ayah turun sebentar dari langit trus duduk disini bareng Jean! Jean janji bakal jadi anak baik-baik!" Isaknya seakan jantungnya ikut teremas.

Di belakang Nicholas sudah dari tadi berdiri dan tidak disadari Jean. "Jean?" Sapa lembutnya.

Secepat mungkin Jean menghapus bekas air matanya, bersikap baik-baik saja agar pamannya tidak cemas. "Eh, iya paman?" Berusaha untuk tersenyum.

"Gapapa, nangis aja! Emang gitu cara biar hati kita lega," Ujar Nicholas duduk disamping Jean.

Jean lalu memasang wajah cemberut "ga usah paman, udah ga mood lagi nangisnya,"

"Wah, lagi reunian ya?" Curcol Joan tiba-tiba.

Jean tidak merespon begitu juga Nicholas, mereka cuma memasang wajah datar dan menganggap Joan mengganggu.

"Yaudah Joan balik aja!" Katanya berbalik

"Eits! Eits! Mau kemana? Kesini dulu dong, ada yang pengen paman omongin!"

Joan akhirnya berjalan lesu setelah kehadirannya dianggap mengacau. Ia duduk, dengan melipat kedua lengannya, kesal.

"Senyum dong!" Goda Nicholas pada Joan

Joan menarik ujung bibir untuk membuat sebuah senyuman, Jean yang mulanya sedih jadi terkikik.

Merasa suasana sudah oke, Nicholas mulai berbincang.
"Sudah hampir dua tahun ayah pergi kan?" Tanyanya

JJ mengangguk sedih, "apapun yang terjadi, kalian harus tegar! Cermin kan bahwa kalian adalah anak seorang detektif hebat!" Ujar Nicholas.

Nicholas bangkit lalu berdiri sembari memegang pagar, pandangan terarah pada hamparan hijau. "Kehilangan secara mendadak itu memang menyakitkan, selain ayah kalian, paman juga sempat kehilangan teman berharga paman!"

"Siapa?" Tanya Jean

"Lucas, kalian ingat kan?" Jawabnya

"Maksud paman, dokter Lucas? Dokter itu emang sudah lama ga mampir! Terakhir kali waktu kami masih umur 8 tahun!" Tambah Joan.

"Ya, paman mau bercerita sedikit. Paman, Lucas, dan ayah kalian adalah sahabat sejak kuliah, kami sudah jalani banyak rintangan bersama, tapi-" wajahnya berubah jadi merah.

"Sejak dua tahun terakhir, Lucas menghilang dan tidak tahu ada dimana. Posisi terakhirnya ada didekat stasiun terakhir," Jelas Nicholas.

Joan coba berpikir "apa dokter Lucas hilang setelah ayah meninggal?"

"Ga, Lucas menghilang sehari sebelum ayah kalian meninggal!" Jelas Nicholas

"Apa mungkin ayah pergi bermaksud mencari dokter Lucas?" Jean coba menganalisa.

"Kemungkinan besar begitu, tapi ayah kalian tak biasanya menjalankan misi sendirian, apapun yang terjadi ia pasti hubungi paman atau tim investigasi lainnya!" Nicholas memainkan jari jemarinya berpikir.

Half-zone (Telah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang