Hanya seorang anak yang damba akan kasih sayang,
Bolehkah ia mengadu pada angin yang lalu?
Yang ia butuhkan hanya pelukan, bukan kekayaan. Sekuat apapun mereka mencari yang namanya kebahagiaan hakiki tak dapat dijangkau.
Ia hanya menginginkan mereka disini, duduk dan bercanda seperti keluarga pada umumnya.
.
Tringgg...
Smartphone itu berdering cukup lama, Arthur langsung melihat pesan tersebut.
"Mama akan pulang sebentar malam ini."
Hanya satu kalimat. Arthur hanya melirik tak senang, buat apa wanita itu pulang tapi tidak menetap? Untuk apa memberi kabar jika disini cuma sebentar? Cuih, memuakkan.
Arthur hanya membaca dan tak niatan membalas. Biarkan hari-hari ini ia lalui dengan semestinya tanpa beban.
Ia kemudian beranjak ke ruang televisi. Remote terus ditekan dan layar televisi bertukar terus tanpa henti. Layar stuck pada adegan pertengkaran orangtua dan anak pada sebuah sinetron, alhasil mood Arthur langsung turun lagi.
"De javu kali ya gue." Ucapnya sembari mengingat kejadian silam.
Arthur lalu mematikan televisi, nampaknya handphone lebih enak dimainkan. Scroll medsos, nge game, nonton yutub, sampe karaokean. Hari pun semakin larut, entah kenapa dalam hati Arthur ia menginginkan sosok itu datang segera, tapi untuk apa? Lebih baik ia tidur.
Raga pun hanyut dalam mimpi. Tak sadar kini sang ibu membelai lembut rambut ikal itu. Tak terasa sama sekali, bahkan sentuhannya terkesan dibuat-buat, sok perhatian!
Lalu sosok itu pergi, memberi kecupan kecil didahi Arthur. Tersentak, tapi kembali kesal. Sebegitu muaknya seorang Arthur kepada sang ibunda nya sendiri.
Sekitar lima menit Arthur kembali bangun. Meraba-raba keningnya yang barusan dicium. Arthur tak tahu menamai perasaannya sekarang seperti apa, yang ia rasa cuma beragam emosi yang membaur dan membuat emosi baru. Apa ia gila ya?
Suara mobil pun terdengar menjauh, Arthur melihat keluar dan itu mobil ibunya. Ternyata wanita itu benar-benar mampir sebentar.
"Ga usah balik aja sekalian." Arthur kesal lalu menuju kamarnya.
Saat masuk kamar, Arthur melihat sebuah kotak berada diatas kasurnya. Pemuda itu membukanya, didalam ada sebuah jaket abu-abu dan sebuah kertas basa-basi tulisan ibunya. Arthur lalu mengambangkan diudara, mengukur apakah jaket itu pas untuknya.
Ternyata masih ada isi didalam kotak itu. Masih sebuah kertas, tapi tulisannya tampak berantakan.
"Ct-18, 23.45 waktu keberangkatan pemasok, satu kereta dan sebuah cerita pengalih."
"Ah ga guna." Arthur lalu memasukkan kertas abstrak itu ketempat semula.
.
.
Ufuk timur membentangkan sinar, tapi tubuh telah bangun sejak dua jam yang lalu. Jean harus seperti itu, cepat-cepat pergi kemana saja untuk menyembunyikan luka-lukanya dari sang ibu. Pilihannya kali ini adalah rumah Ella. Ella bilang rumahnya dekat dari sini, ia meminta sahabatnya itu mengirimkan lokasi dan Jean sendiri terkejut karena rumah Ella satu perumahan dengan Arthur. Sempit banget ya dunia?
KAMU SEDANG MEMBACA
Half-zone (Telah Terbit)
Acción(CERITA BELUM DIREVISI) Warning! 🔞 JJ tak bisa diam saat tahu ada hal yang ganjil berkenaan dengan kematian ayahnya. Clue demi clue perlahan membuka fakta bagaimana dan apa yang sebenarnya menimpa ayahnya sang detektif "Vigor". Manipulasi warta, h...
