Aidan terlambat sekolah hari ini karena Indra. Pagi-pagi sekali Indra menyuruh Aidan menjemputnya karena mobil Indra bannya kempes. Dan bodohnya Indra belum siap-siap, katanya masih kepagian. Dan Aidan lebih bodoh lagi karena mau menunggu Indra yang sangat lemot itu.
Di sinilah mereka berdua berdiri, di tengah lapangan dengan posisi hormat. Memang masih pagi tapi matahari yang sangat terik itu sangat panas.
"Anjing gosong kulit gue!" umpat Aidan. Ia menurunkan tangannya, lalu berjongkok.
"Laki dikit dong. Baru segitu udah nyerah," ucap Indra. Indra tetap berdiri dengan posisi tangan yang hormat. Kalau melanggar itu harus siap dihukum.
"Gara-gara lo gue jadi telat! Ah bangsat! Sial banget gue pagi-pagi dihukum padahal bukan salah gue," omel Aidan sambil menatap Indra tajam. Sedangkan Indra tidak peduli dan tetap berdiri seperti patung.
"Aidan, kamu ngapain jongkok? Bangun!" teriak Pak Yanto, guru yang menghukum mereka tadi. Rupanya Pak Yanto mengawasi mereka dari jauh.
"Panas, Pak!" teriak Aidan. Mau tidak mau Aidan berdiri dan kembali hormat bendera.
"Sabar sih, Dan. Lagi 15 menit," kata Indra.
"Lain kali gue gak mau jemput lo, Ndra. Bikin sial gue aja," ujar Aidan kesal.
15 menit kemudian mereka pun berjalan menuju ke kelasnya. Aidan tidak henti-hentinya memaki Indra karena ia harus dihukum. Kalau telat tapi tidak dihukum sih Aidan tidak masalah karena ia bisa sekalian bolos. Tapi ini dihukum dan itu merugikan Aidan padahal Aidan tidak salah.
"Sebagai permintaan maaf lo ke gue, lo duduk di bangku gue hari ini," ucap Aidan.
"Lah lo mau duduk sama Kana? Udah balikan sama dia? Jiwa laki lo udah balik?" tanya Indra beruntun.
"Bacot lo! Pokoknya lo turutin kemauan gue hari ini karena lo bikin gue telat," ujar Aidan. Indra pun hanya bisa mengangguk agar tidak memperpanjang perdebatan.
"Permisi, Bu. Kami telat tadi tapi udah dihukum kok," ucap Indra setelah mengetuk pintu kelas.
"Ya silakan masuk."
Aidan berjalan mendahului Indra dan langsung mengambil tempat duduk di samping Kana yang sebenarnya kursi itu milik Indra. Kana yang melihat Aidan duduk di sampingnya pun terkejut, tapi Kana hanya diam tidak menghiraukan Aidan. Kana sudah berjanji pada dirinya agar tidak berurusan dengan Aidan lagi.
Bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Pelajaran olahraga adalah pelajaran selanjutnya dan akan berlangsung di lapangan indoor. Inilah yang paling membosankan bagi Kana. Ia hanya bisa melihat teman-temannya berolahraga dan ia hanya bisa diam.
Bulan menghampiri Kana, "Ayo, Na. Lo gak ganti baju?"
"Males ah ganti baju. Toh gue gak ikut," ucap Kana dengan nada sedih.
"Ya udah deh gue duluan ya," ucap Bulan, lalu pergi bersama Helena dan Olivia.
Kelas pun sepi dan hanya tersisa Aidan dan Kana. Aidan memandang Kana lekat-lekat, tapi Kana berusaha tidak terusik.
"Kok lo diem aja?" tanya Aidan. Kana tidak menjawab. Kana pun bangkit dari duduknya dan pergi ke luar kelas.
"Kana bener-bener ngejauhin gue. Gue telat ya?" gumam Aidan, lalu menyusul Kana.
Kana berjalan cepat menuju lapangan indoor. Di sana sudah ada teman-teman sekelasnya dan teman-teman dari luar kelas juga berkumpul. Kana pun duduk di pinggir lapangan dan melihat teman-temannya yang beraktivitas.
"Andai gue sehat kayak kalian," batin Kana.
Kana melihat Aidan bergabung dengan teman-temannya dan bermain basket. Aidan menatap Kana yang juga menatapnya. Dengan segera Kana mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kana tidak mau melihat Aidan lagi.
"Kalau gue operasi, mati gak ya?" batin Kana ngelantur.
Kana membuka ponselnya untuk menghubungi dokter pribadinya.
Kana
Dokter...
Tak lama kemudian dokter pribadinya membalas pesannya.
Dokter Rama
Kenapa Kana? Kamu sakit lagi?
Kana
Enggak dok. Cuma mau nanya aja
Dokter Rama
Nanya apa?
Kana
Kalau Kana operasi, Kana bisa kayak anak lainnya gak, Dok?
Dokter Rama
Kalau kamu tranplantasi, kamu bakalan sembuh total kok. Tapi harus ada donornya.
"Donor? Siapa yang mau donorin jantungnya buat gue?" batin Kana.
Kana
Kana pengen sembuh
Dokter Rama
Kana mau dioperasi? Omongin dulu sama ayah kamu ya. Kasih tahu dokter kalau kamu mau operasi.
Kana
Iya dok
Kana memandang teman-temannya yang tampak asik bermain basket. Kana ingin seperti mereka yang bisa bebas bergerak sampai lelah. Kana tidak bisa seperti itu.
Tiba-tiba sebuah bola basket menggelinding ke arahnya. Kana menatap bola itu, kemudian menatap sekelompok orang yang Kana yakini sebagai orang yang menggelindingkan bola itu.
"Lempar, Na!"
Kana menatap bola itu, lalu mengambilnya. Kana mengumpulkan tenaganya untuk melemparkan bola itu agar sampai ke sekelompok orang. Bahu Kana meluruh melihat bolanya terlempar tidak jauh.
"Selemah itukah gue?" gumamnya.
"Makasih ya!" teriak salah satu dari sekelompok orang itu. Kana mengacungkan jempolnya. Walaupun bolanya tidak sampai ke pemiliknya, Kana tetap mendapat ucapan terimakasih.
Kana tiba-tiba mendapat telepon dari ayahnya. Kana segera pergi dari lapangan indoor dan menuju toilet untuk menjawab telepon dari ayahnya.
"Kenapa, Yah?"
"Katanya kamu mau operasi ya?"
"Dokter bilang ya?"
"Iya tadi Dokter Rama ngehubungin Ayah."
"Kana pengen sembuh, Yah."
"Kana gak takut lagi?"
"Enggak, Yah. Apapun resikonya Kana terima."
"Ayah udah nemuin pendonor."
"Serius, Yah? Kok cepet banget?"
"Iya Dokter Rama yang bilang ada pendonor."
"Kapan operasinya?"
"Nanti Ayah omongin sama Dokter Rama."
"Iya deh."
"Ayah tutup ya."
"Iya."
Badan Kana meluruh. Kana sebenarnya takut, sangat takut. Kana takut segalanya berubah saat Kana operasi. Kana takut operasinya gagal. Banyak yang Kana takutkan.
"Semoga ini keputusan yang bener. Ya Tuhan semoga aku bisa sembuh," batin Kana sambil memeluk lututnya. Kana menangis saat membayangkan dirinya sudah tiada. Kana takut.
Update tanggal 31 Desember 2019 pukul 14.44 PM
KAMU SEDANG MEMBACA
Aidan's Trap (END)
Teen FictionKanafa Nia Lovata, punya penyakit jantung yang sering kambuh. Hari pertama MPLS Kana diklaim sebagai pacar Aidan Dimarka Arion. Kana akui Kana memang terpesona dengan Aidan. Tapi Kana yang polos membuat Kana tidak menyadari Aidan punya banyak paca...
