23. Tertawa Kembali

4K 253 4
                                        

"Kana? Ngapain lo teriak?"

"Siapa tuh?" tanya Kana sambil mencari sumber suara dengan mengarahkan senternya ke segala arah.

"Gue Jordan. Kenapa lo sendiri?"

Jordan mendekati Kana sambil mengarahkan senternya ke wajah Kana. Kana terlihat sangat berantakan.

Kana berkaca-kaca saat Jordan meraba pipinya.

"Kenapa?"

"Jordan!" jerit Kana sambil memeluk Jordan. Kana menenggelamkan wajahnya di dada Jordan sambil menangis tersedu-sedu. Jordan langsung memeluk Kana dengan erat dan memenangkan gadis itu.

"Kana lo kenapa?" Bukan Jordan yang bertanya, tapi seseorang yang datang bersama Jordan. Kana mengenali suara itu. Itu suara Bulan.

"Gak papa. Ayo ke tenda. Gue gak tahu jalan," ucap Kana pelan. Kana melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya dengan kasar. Ia merutuki dirinya yang menangis di depan Jordan. Jordan pasti langsung tahu penyebab Kana menangis dan kemungkinan besar Jordan akan menghajar Aidan.

"Na, cerita sama gue," ucap Jordan.

"Nanti aja di tenda. Gue kambuh," ucap Kana sambil memegang dadanya yang terasa sakit, tapi tidak sesakit tadi.

"Lo gak pakai pendeteksinya?" tanya Jordan sambil mengarahkan senternya ke pergelangan tangan Kana. Kana sungguh pembangkang.

"Naik ke punggung gue," ucap Jordan. Kana menurut.
"Ayo, Lan!" ucap Jordan sambil memegang tangan Bulan karena Bulan sering sekali terpeleset.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat kemah. Sesampainya di sana, Jordan menidurkan Kana di tendanya karena Kana tertidur di punggungnya.

***

Pagi-pagi Kana terbangun karena mendengar keributan dari luar. Kana menoleh ke sampingnya dan tidak mendapati teman-temannya. Kana pun keluar dari tenda. Ia melihat kerumunan orang yang sangat ribut berkomentar.

"Eh ada apa ya?" tanya Kana pada salah satu siswi yang lewat.

"Itu Aidan berantem sama Jordan," ucap siswi itu.

"Makasih ya," ucap Kana lalu berjalan cepat menuju kerumunan itu. Kana menyelipkan dirinya di antara kerumunan itu hingga akhirnya ia melihat Aidan dan Jordan dalam keadaan babak belur. Kemana para guru disaat seperti ini?

Saat melihat Jordan akan menyerang Aidan lagi, Kana dengan sigap menarik baju Jordan dari belakang.

"Berhenti," lirih Kana sambil mencengkeram baju bagian belakang Jordan. Jordan tidak menghiraukan itu dan tetap ingin melangkah maju.

"Berhenti gue bilang!" bentak Kana. Keadaan menjadi hening karena mendengar bentakan Kana.

"Urusin temen lo itu. Pagi-pagi ngajakin gue berantem," ucap Aidan lalu pergi dari kerumunan itu. Perlahan-lahan semuanya bubar dan akhirnya meninggalkan Kana dan Aidan di lokasi tersebut. Kana menatap kepergian Aidan dengan tatapan sendu. Aidan benar-benar menjauhinya.

"Kana, biarin gue hajar dia. Gue belum puas kalau gak lihat dia sekarat," ucap Jordan sambil mengepalkan tangannya dengan erat.

"Gak perlu. Gue yang salah. Gue yang naif banget jadi cewek. Gue kegeeran, kebaperan, kepedean. Gue emang ngerepotin dia. Gue ngerepotin semua orang," ucap Kana. Kana menunduk dan  menangis terisak-isak. Sakit rasanya mendengar kata-kata Aidan yang sangat menusuk hatinya.

"Tapi dia harusnya ngomong baik-baik, bukan nyakitin hati lo kayak gini!"

"Udah deh. Gue mau lupain dia. Bantu gue ya," ucap Kana sambil mengusap air matanya. Pagi-pagi buta ia sudah menangis.

***

Acara selanjutnya adalah pergi ke kebun teh pada pukul 08.00. Kana, Olivia, Bulan, dan Helena sudah bersiap-siap. Mereka membawa kebutuhan penting mereka seperti handphone, dompet, dan lain-lain. Tidak lupa Kana memasukkan obat-obatannya untuk berjaga-jaga jika ia kambuh.

"Udah siap?" tanya Dimas yang tiba-tiba menyelipkan kepalanya ke tenda.

"Woy main nerobos aja lo! Kalau kami lagi ganti baju gimana?" teriak Bulan kesal.

"Ya nikmatin," ucap Dimas santai sambil menunjukkan cengirannya. Olivia yang merasa geram langsung menjambak rambut Dimas hingga Dimas jatuh ke dalam tenda.

"Sakit woy!" teriak Dimas merintih kesakitan. Kana, Olivia, Helena, dan Bulan pun keluar dari tenda meninggalkan Dimas yang masih kesakitan.

"Jordan... lo gak pakai jaket?" tanya Kana. Kana melihat jaket Jordan yang masih ia kenakan.

"Gue pakai Hoodie, Na. Anget kok," ucap Jordan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku Hoodienya.

"Bego banget gue gak bawa jaket, malah cuma pakai kardigan aja," ucap Kana sambil memukul-mukul kepalanya.

"Emang bego," ucap Jordan sambil terkekeh geli.

"Lo ngatain gue bego?!"

"Ya lo yang bilang sendiri, Na. Kok gue disalahin," gumam Jordan tapi masih bisa didengar oleh Kana.

"Ya gak usah lo setujuin kali. Harusnya lo bilang 'lo gak bego kok, Na. Gue yang bego'. Harusnya lo bilang gitu," ucap Kana kesal.

"Iya gue yang bego," ucap Jordan mengalah.

"Gak usah. Udah telat," ucap Kana kesal lalu pergi meninggalkan Jordan. Kana menyusul teman-temannya yang ada di tempat kumpul. Jordan pun mengejar Kana dengan berlari

"Kana ngambek nih ceritanya?" tanya Jordan sambil mencolek-colek dagu Kana. Kana menepisnya.

"Apaan sih?"

"Yakin enggak mau?" tanya Jordan sambil menunjukkan sebuah permen lollipop berbentuk hati. Mata Kana langsung berbinar melihat permen itu.

"Mau!" ucap Kana merengek-rengek.

"Enggak ngambek lagi?" Kana menggelengkan kepalanya dengan semangat dan berusaha merebut permen itu.

"Kana aja dikasi?" tanya Bulan.

"Gue gak?" tanya Olivia.

"Gue mau," ucap Helena.

"Mau juga?" tanya Jordan. Bulan, Olivia, dan Helena mengangguk semangat. Jordan dan Kana saling melirik.

"Beli sendiri!" ucap Kana dan Jordan serempak. Kana tertawa melihat teman-temannya yang tampak cemberut.

"Akhirnya Kana ketawa juga," batin Jordan sambil melihat Kana.


Update tanggal 29 Desember 2019 pukul 08.12 AM

Aidan's Trap (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang