Satu jam lamanya Kana menunggu di bengkel. Ia hendak pulang, tapi Indra melarangnya dengan alasan Aidan menitipkan Kana padanya. Indra tidak akan membiarkan Kana pulang dengan siapapun karena Aidan memberinya tanggung jawab.
"Lama banget sih, Ndra," keluh Kana. Sedari tadi ia bisa menahan bosannya dengan bermain ponsel, tapi sekarang ponselnya mati.
"Bentar, Na. Bentar lagi," ucap Indra. Padahal Kana ingin sekali merebahkan dirinya di kasurnya dan tertidur pulas, tapi karena motor yang dikendarai oleh Indra mogok dan itu membuat Kana tidak bisa tidak bisa tidur di kasur nyamannya.
"Lama, Ndra. Itu montirnya gak pengalaman ya. Lama banget," omel Kana menyalahkan montir yang terlihat sangat santai.
"Eh udah kan, Bang?" tanya Indra yang bangun dari duduknya. Kana heran dengan Indra yang bertanya begitu padahal sepertinya montirnya masih memperbaiki motor Indra.
"Udah kok udah. Silakan langsung ke kasir," ucap montir itu. Indra pun pergi ke kasir dan membayar biayanya.
"Ayo pulang, Na!"
"Eh iya."
Indra pun menjalankan motornya menuju rumah Kana. Kana hanya diam saja karena ia merasa lelah. Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Kana karena memang tempat motor Indra mogok tidak jauh dari rumah Kana. Makanya tadi Kana ingin pulang sendiri. Entah itu naik ojek ataupun jalan kaki.
"Lo mau mampir?" tanya Kana.
"Boleh deh."
"Lo mau minum apa? Biar pembantu gue buatin."
"Terserah aja deh."
"Bi! Bi Darmi!" teriak Kana. Tak lama kemudian datanglah Bu Darmi yang sedang menggenggam pisau. Sepertinya Bi Darmi sedang memasak.
"Buatin minum bentar, ada tamu. Kana mau ke kamar dulu," ucap Kana.
"Baik, Non."
Kana pun pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Tanpa Kana sadari, Indra mengikuti Kana dari belakang dengan langkah yang tidak terdengar. Ketika Kana sampai di depan pintunya, Indra langsung mendahului Kana untuk masuk ke kamar Kana. Kana terkejut dengan tingkah Indra yang terbilang tidak sopan karena masuk ke kamarnya.
Tiba-tiba seruan terdengar dari dalam. "SURPRISE! HAPPY BIRTHDAY!"
Mendengar seruan itu Kana manjadi sangat terkejut. Ia melihat teman-temannya berkumpul di kamarnya yang sudah dihias sedemikian rupa. Balon-balon udara yang berterbangan, bunga-bunga mawar yang ditaburkan di kasurnya seperti kamar pengantin baru, dan teman-temannya yang memakai topi happy birthday. Tidak hanya teman-temannya yang ada di sana, ayahnya juga ada.
"Ya ampun! Kalian gue kira gak tahu ulang tahun gue," ucap Kana tak percaya.
"Tiup lilinnya tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga sekarang juga."
Aidan yang memegang kue maju perlahan mendekati Kana yang masih tampak terkejut.
"Make a wish dulu, Sayang. Semoga kita cepet nikah," kata Aidan dengan wajah polosnya. Semuanya menyoraki Aidan karena berfikir kejauhan.
"Apaan sih, Dan? Nikah mulu bahasannya, baru kelas 10 jugaan," ucap Kana malu-malu.
"Om, boleh ya saya nikahin Kana?" tanya Aidan pada Galih yang sedari tadi memandangi kemesraan anaknya dan Aidan.
"Boleh, tapi buatin seribu rumah dulu dalam semalam. Sanggup gak?" ujar Galih sambil terkekeh. Semuanya tertawa mendengar syarat yang diajukan oleh Galih.
"Kalau gitu, Aidan gak sanggup, Om," ucap Aidan pada Galih.
"Na, kawin lari yuk!" ajak Aidan. Kana yang mendengar ajakan Aidan pun langsung memeluk lengan Aidan dengan pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aidan's Trap (END)
Teen FictionKanafa Nia Lovata, punya penyakit jantung yang sering kambuh. Hari pertama MPLS Kana diklaim sebagai pacar Aidan Dimarka Arion. Kana akui Kana memang terpesona dengan Aidan. Tapi Kana yang polos membuat Kana tidak menyadari Aidan punya banyak paca...
