Aku butuh komentar kalian 😥
Sepulang sekolah, Aidan, Elvan, dan Indra pergi bersama ke makam Misha. Sebelumnya mereka mampir ke toko bunga.
"Bunga apa eh?" tanya Elvan bingung.
"Maunya bunga apa?" tanya Aidan balik.
Indra mendorong kepala Aidan ke depan."Heh! Lo kan pernah pacaran sama dia."
"Lah apa hubungannya, goblok?" tanya Aidan dengan nada nyolot. Aidan menatap Indra kesal karena Indra mendorong kepalanya.
"Lah kan harusnya lo tahu Misha tuh suka bunga apa," ucap Elvan.
"Ya mana gue tahu. Dia gak pernah minta bunga dari gue," gerutu Aidan sambil mengedarkan pandangannya ke arah bunga-bunga yang terpajang.
"Dimana-mana itu cowok ngasih cewek bunga itu tanpa yang cewek minta," ucap Indra.
"Itu kan dimana-mana. Gue beda. Gue bukan sembarang cowok," ujar Aidan sambil tersenyum sok cool.
"Serah lo dah serah," ucap Indra kesal.
"Jadi mau bunga yang mana, Kak?" tanya seorang perempuan penjaga toko bunga yang sejak tadi menyaksikan drama murahan mereka. Dilihat dari penampilannya, sepertinya perempuan itu masih muda.
"Bunga yang apa ya? Kamu suka bunga apa?" tanya Aidan sambil tersenyum. Cewek penjaga toko bunga itu terlihat salah tingkah karena ditanyai seperti itu oleh Aidan.
"Lo gak usah sempat-sempatnya ngegodain anak orang, Dan. Ayo cepetan pilih!" kata Elvan tidak sabaran.
"Siapa yang godain anak orang sih? Gue cuma nanya, bego!" ucap Aidan tidak santai.
"Saya saranin yang ini, Kak. Bunganya bagus, pasti pacar Kakak suka," ucap perempuan itu sambil menunjukkan sebuah buket bunga mawar pink yang sangat indah.
"Bukan buat pacar kok. Ya udah beli yang ini aja," ucap Aidan sambil mengambil buket bunga itu, lalu membayarnya.
"Ayo!" ajak Aidan sambil berjalan menuju mobilnya. Aidan masuk ke dalam mobilnya dan diikuti oleh Elvan dan Indra.
"Aidan... Aidan... lo gak kelar kelar playboynya," ucap Indra sambil geleng-geleng.
"Enggak, anjir! Gue setia. Gue kan cowok baik-baik," ucap Aidan dengan percaya dirinya yang sangat tinggi. Aidan pun mulai menjalankan mobilnya menuju makam yang tidak jauh dari toko bunga.
"Setia apaan yang nyakitin terus mutusin? Sakitnya tuh di sini," sindir Elvan sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Bacot lo! Gue turunin lo di sini kalau ngomong yang enggak-enggak lagi," ucap Aidan kesal.
"Coba aja kalau berani," tantang Elvan. Aidan langsung memberhentikan mobilnya, lalu menoleh ke belakang dimana Elvan duduk sendirian.
"Lo gak beneran nurunin gue di sini kan?" tanya Elvan takut-takut saat melihat Aidan yang sepertinya terlihat badmood.
"Turun lo!" suruh Aidan.
"Jangan bercanda deh, Dan."
"Gue bilang turun," ucap Aidan sambil menatap Elvan tajam. Elvan pun menciut melihat Aidan yang terlihat sangat sangar. Salahnya juga karena menyinggung Kana. Walaupun Elvan tidak menyebut nama Kana, Aidan paham kalau Elvan sedang membahas Kana.
"Turun!" suruh Aidan sekali lagi.
"Ndra..." panggil Elvan pada Indra yang terlihat adem ayem.
"Turun aja kali, kuburan lagi deket juga," ucap Indra. Elvan pun keluar dari mobil Aidan sambil menggerutu.
"Tega banget sih nurunin gue. Gue sumpahin ban mobilnya kempes biar tahu rasa," gerutu Elvan sambil menatap kepergian mobil Aidan dengan kesal. Mau tidak mau Elvan berlari-lari menyusul mobil Aidan menuju kuburan.
"Huh... huh... kalian tega huh... banget sama gue," ucap Elvan sambil ngos-ngosan. Aidan dan Indra yang menunggu Elvan di luar mobil tampak tenang-tenang saja melihat Elvan yang terlihat sangat kelelahan.
"Lemah gemulai banget sih lo, kayak banci. Baru lari segitu," sindir Aidan.
"Heh! Itu jauh banget, anjir!"
"Ayo masuk!" ajak Indra. Mereka pun berjalan menuju pemakaman Misha.
"Eh ada yang jengukin Kak Misha juga," celetuk Elvan saat melihat ada orang yang sedang duduk bersimpuh di samping makam Misha.
"Halo," sapa Elvan yang paling pertama mendekati orang itu. Orang itu menoleh dengan wajah sembab karena menangis.
"Elvan, Indra, Aidan?"
"Kana!"
Aidan langsung memeluk Kana yang masih menangis.
"Lo kemana aja, Na? Gue nyariin lo," gumam Aidan tepat di telinga Kana.
"I miss you," ucap Kana sambil membalas pelukan Aidan.
"Ekhem..."
"Ganggu aja lo berdua!" seru Aidan sambil melepaskan pelukannya. Ia merasa terganggu karena Elvan dan Indra tiba-tiba berdehem.
"Kuburan bukan tempat mesra-mesraan," sindir Elvan.
"Ke sini sama siapa?" tanya Aidan tanpa memperdulikan ucapan Elvan.
"Sialan gue dikacangin," gerutu Elvan.
"Sama Ayah, tapi Ayah lagi beli sesuatu," jawab Kana.
"Oh iya bentar ya," ucap Aidan. Aidan mengambil buket bunga yang dipegang Indra, lalu meletakkannya di atas makam Misha. Di sana sudah ada sebuah buket bunga yang pastinya dari Kana.
"Tenang di sana ya, Sha. Gue bakal selalu inget lo," gumam Aidan sambil mengelus nisan Misha. Aidan, Indra, Elvan, dan Kana pun mendoakan Misha agar tenang di alam sana.
"Ayo pulang!" ajak Aidan yang lebih ditujukan untuk Kana.
"Gue nunggu Ayah," ucap Kana.
"Ya udah di luar aja, Na. Sekalian kita ngobrol," ucap Indra. Kana pun mengangguk. Mereka pun berjalan menuju mobil Aidan dan menunggu ayah Kana.
"Ternyata beneran lo yang gue lihat waktu itu, Na," ucap Indra memulai pembicaraannya.
"Maksudnya?" tanya Kana bingung.
"Iya, gue pernah lihat lo di rumah sakit pas lagi jengukin Kak Misha. Gue kira bukan karena rambut lo beda. Soalnya gue lihat dari jauh," jelas Indra.
"Kenapa dipotong?" tanya Aidan sambil mengusap rambut Kana.
"Gerah," ucap Kana sambil tersenyum lebar.
"Kenapa ngilang sih, Na? Lo gak mau ketemu sama gue lagi ya?" tanya Aidan.
"Gue operasi dan sekarang lagi tahap penyembuhan. Gue sembuh buat lo, Aidan. Lo gak suka kan sama orang sakit?"
Deg
"Na, gue bukannya gak suka sama orang sakit. Gue cuma takut kehilangan. Gue gak maksud nyakitin lo. Gue beneran cinta sama lo, Na," ucap Aidan.
"Gue percaya sama lo. Apalagi pas lo bilang 'gue takut lo ninggalin gue pas gue sayang-sayangnya, Na! Gue takut lo pergi!' gue inget banget," ucap Kana sambil tersenyum.
"Gue pengecut ya? Ninggalin lo karena takut," ucap Aidan sambil menatap Kana sendu.
"Emang," celetuk Elvan dan Indra bersamaan. Aidan pun menatap mereka dengan kesal karena merusak suasana.
"Itu masa lalu, Dan. Kita mulai dari awal ya?" ujar Kana sambil menggenggam tangan Aidan.
"Jadi, kita balikan nih?" tanya Aidan sambil tersenyum ceria.
"Siapa yang bilang balikan?" tanya Kana. Aidan pun berdecak kesal karena Kana memberinya harapan palsu.
"Ekhem..."
"Ayah?"
"Om?"
Nih author dah sembuh makanya bisa update hehehe
Update tanggal 10 Januari 2020 pukul 11.13 PM
KAMU SEDANG MEMBACA
Aidan's Trap (END)
Teen FictionKanafa Nia Lovata, punya penyakit jantung yang sering kambuh. Hari pertama MPLS Kana diklaim sebagai pacar Aidan Dimarka Arion. Kana akui Kana memang terpesona dengan Aidan. Tapi Kana yang polos membuat Kana tidak menyadari Aidan punya banyak paca...
