12. Alat itu

3.9K 249 6
                                        

Aidan dan Kana sedang jalan-jalan di taman. Kana yang pingin. Taman itu ada di dekat rumah Kana. Kana tidak ingin jauh-jauh karena mereka masih berpakaian sekolah. Jadinya mereka hanya ke taman.

"Kana mau apa? Biar aku beliin," ucap Aidan.

"Beneran? Kamu yang traktir ya," ucap Kana sambil tersenyum yang menampilkan deretan gigi rapinya.

"Iya aku traktir."

"Yey! Aku mau es krim sama permen kapas," ucap Kana girang.

"Es krim rasa apa?" tanya Aidan.

"Rasa yang dulu pernah ada," ucap Kana sambil menyengir.

"Garing, Na," ucap Aidan sambil terkekeh.
"Diajarin siapa ngegombal gitu?" tanya Aidan.

"Diajarin Jordan," ucap Kana asal. Sebenarnya tidak. Ia hanya pernah melihat gombalan itu di Instagram.

"Jangan pernah ngomongin cowok lain di depan aku," ucap Aidan. Ekspresi wajahnya yang terlihat serius membuat Kana menjadi takut.

"Kan kamu yang nanya," ucap Kana takut-takut.

"Jadi rasa apa?" tanya Aidan.

"Aidan beli gak?" tanya Kana. Aidan mengangguk.
"Aku mau yang vanila."

"Duduk di sini. Jangan kemana-mana ya," ucap Aidan sambil mengusap-usap kepala Kana, lalu pergi. Kana menegang mendapatkan perlakukan itu. Tiba-tiba alat pendeteksi jantungnya berbunyi. Hal itu membuat Kana panik. Apalagi banyak yang melihatnya sekarang karena bunyi alat itu lumayan keras.

"Aduh malah bunyi lagi," ucap Kana sambil memukul-mukul alat itu.

"Adik gak papa?" tanya seorang bapak-bapak yang tampaknya tahu fungsi alat itu.

"Saya gak papa kok. Ini alatnya rusak. Beneran gak papa," ucap Kana sambil menunjuk senyum paksanya. Semua orang pun kembali ke aktivitasnya masing-masing. Tak lama kemudian alat itu berhenti berbunyi.

"Nih jantung malah deg-degan anjay," gerutu Kana kesal. Kana hendak melepaskan alat itu. Tapi ia ingat kalau ia sering kambuh dan itu berbahaya bila tidak ada yang tahu Kana membutuhkan pertolongan. Kana ingat pesan Ayahnya yang menyuruhnya selalu menggunakan alat itu kemana pun.

"Pakai ini kemana pun kamu pergi. Siapa tahu kamu kambuh. Terus alatnya bunyi. Nanti pasti ada yang nolongin kamu. Ingat ya pesan Ayah. Jangan dilepas."

"Kana..."

"Kana..."

"Kanafa!"

"Eh iya kenapa?" tanya Kana terkejut.

"Kamu ngelamun? Ngelamunin aku ya?" tanya Aidan dengan percaya dirinya. Aidan menyerahkan es krim rasa vanila dan permen kapas pada Kana.

"Enggak papa."

"Aidan belum aku kasih tahu kalau aku sakit," ucap Kana dalam hati.

"Aidan..."

"Hmmm..."

"Aku mau ngasih tahu kamu sesuatu."

"Apa?"

"Dia gak bakalan mutusin gue kan?" batin Kana takut. Kana takut Aidan tidak sudi berpacaran dengan orang penyakitan.

"Aku sakit."

"Aku tahu," ucap Aidan sambil tersenyum dan mengusap kepala Kana.

"Jangan bunyi, please!" batin Kana.

Alat itu berbunyi lagi dan membuat Aidan terkejut.

"Itu alat pendeteksi jantung kan? Kamu gak papa?" tanya Aidan sambil memegang kedua bahu Kana. Hal itu membuat Jantung Kana semakin berdebar kencang.

"Nyesel gue gak jadi lepas nih alat!" batin Kana kesal.

"Enggak, Dan. Ini rusak!" ucap Kana mengelak. Tak lama kemudian alat itu pun berhenti berbunyi. Kana melepaskan alat itu karena takut berbunyi lagi.

"Kamu tahu aku sakit jantung?"

"Tahu dari pembantu kamu. Kan waktu itu aku nganterin kamu pulang," ucap Aidan.

"Oh iya. Itu kan udah lama," ucap Kana.

"Lagian juga kamu gak pernah ikut olahraga. Temen kelas kita pasti udah tahu," ucap Aidan. Kana hanya mengangguk-angguk sambil menjilati es krimnya.

"Abis makan ini pulang yuk. Ayah aku nyariin," ucap Kana. Aidan mengangguk.

Update tanggal 23 Desember 2019 pukul 20.08 PM

Aidan's Trap (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang