SKALA RAY BUANA,
Seorang lelaki remaja yang memiliki banyak penderitaan dalam hidupnya.
Semua berasal dari keluarga. Hidup tanpa perhatian dan kasih sayang dari orangtua menyebabkan sosok SKALA menjadi berandal dan keras kepala.
SKALA selalu bers...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setidaknya, tamparan lo menguntungkan gue. Terimakasih.
Selamatmembaca 🌻 ...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Luna,"
Sudah diduga! Luna memberanikan diri menatap balik Pak Sandi.
Pak Sandi tersenyum tipis, tangannya menunjuk ke arah Luna.
"Calon ketua setelah Dian,"
"Sa.. saya, Pak?" tanya Luna kikuk, ia menunjuk ke dirinya sendiri.
"Iya, Luna." jawab Pak Sandi. "Saya harap, kamu tak ingin protes, ya?"
Luna memaksakan senyumnya, semua orang kini menatapnya-- berharap agar Luna tidak protes seperti Dian dan Mia.
"Kamu keberatan, Lun?" tanya Pak Sandi memastikan.
Luna memejamkan matanya, berusaha menerima apa yang menimpanya saat ini.
"Tidak, Pak." sahut Luna pelan. "Saya tidak keberatan dan akan berusaha untuk menerima jika saya memang terpilih."
Pak Sandi tersenyum lega, kembali membenarkan kacamatanya yang sedikit merosot.
"Mungkin kita tutup sampai disini ya, anak anak." ucap Pak Sandi. "Minggu depan, kalian kumpul lagi disini. Kita akan melakukan pemilihan ketua aktifis mading kembali." ungkapnya lagi.
"Baik, Pak." jawab mereka serempak.
Mereka pun mulai meninggalkan aula. Terkecuali Luna, Dian, dan juga Mia. Mereka bertiga masih berdiam diri disana, sorot matanya terlihat hampa.
"Mimpi apa gue semalem, ya allah?" rutuk Dian. "Gue kagak sudi jadi ketua, gak sudi pokoknya!"
"Emang lo yakin bakal kepilih?" remeh Mia membuka suara.