SKALA RAY BUANA,
Seorang lelaki remaja yang memiliki banyak penderitaan dalam hidupnya.
Semua berasal dari keluarga. Hidup tanpa perhatian dan kasih sayang dari orangtua menyebabkan sosok SKALA menjadi berandal dan keras kepala.
SKALA selalu bers...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membaca 🌻 ...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gadis perlahan menutup pintu mobilnya, memperbaiki sekilas tatanan rambutnya lalu melirik ke arah Pak Hardi yang baru keluar dari arah pintu kemudi.
"Ayah, Gadis duluan ke kelas ya," pamitnya cepat. Namun, langkahnya terhenti saat Pak Hardi membuka suara.
"Gak ikut Ayah sarapan dulu ke kantin?"
Gadis menggeleng cepat, segera melenggang begitu saja meninggalkan Ayahnya yang tersenyum memaklumi.
Gadis mulai menyusuri koridor, ingin menuju ke kelas 12 IPS 2.
Iya, Gadis berbohong. Gadis tak sungguh-sungguh menuju kelasnya, melainkan ke kelas Skala.
"Semoga doi udah dateng," Gadis berdoa dengan antusias.
Mata Gadis berbinar saat itu juga tatkala melihat Skala yang baru masuk ke dalam ruang kelasnya.
Gadis mempercepat langkahnya, dengan jantung yang sudah berpacu cepat tak keruan.
Sesampainya diambang pintu, Gadis mengatur napasnya sebentar, mengeluarkan cermin kecil disaku bajunya guna memastikan wajahnya sudah cantik tanpa hambatan lalu mulai melangkah masuk.
"Selamat pagi," sambutnya sangat ramah.
Gadis dapat melihat Skala tengah mengobrol dengan keempat sahabatnya. Sempat memastikan keberadaan Luna ataupun Dian, namun dua perempuan itu tak terlihat. Gadis semakin tersenyum kemenangan.
"Gue boleh masuk?" tanya Gadis terlebih dahulu. Perempuan itu tak peduli pada beberapa pasang mata tertuju padanya. Gadis malah bangga, bisa menjadi pusat perhatian.
Terlihat, Erik menyenggol lengan Skala. Seperti memberi kode.