15 (The Reason)

1.9K 174 4
                                        

Vote yuuuukkk ~~

Mata berbinar,
Salah tingkah,
Sikap yang berbeda.

Jeonghan baru saja menemuiku, kegiatan rutin tiap pagi sebelum memasuki kelas, ia akan memberikan ku sekotak roti panggang buatan Yoon ahjumma, dan susu strawberry kesukaan ku, namun aku selalu melihat gelagat sahabat ku, dia akan berubah ketika Jeonghan berada di sekitar kami.

"Hana ya, jujurlah pada ku, kau menyukai Yoon Jeonghan?" Tanya ku tanpa basi basi, entah kenapa aku yakin sekali ia akan menjawab tidak, tapi sikapnya sangat aneh, tidak sama jika Wonwoo yang berada di sekitar kami.

Jeonghan adalah teman kecil ku, setiap aku pergi ke sekeloh ia akan mengikuti ku, mau itu Sekolah Dasar, Menengah, dan Kuliah pun ia akan mengikuti, padahal ia setahun lebih dahulu dari ku, ketika ia masuk ke salah satu sekolah lebih dulu, ia akan menghampiri ku dan mengatakan agar janji untuk masuk kesekolah yang sama dengannya.

Pernah suatu hari ketika aku sengaja mencari sekolah yang berbeda, ia akan segera berpindah sekolah. namun trik ini selalu ku gunakan, karena aku tak mau menurutinya.

"Maafkan aku Sia ya, aku benar benar menyukai Jeonghan Oppa" ucapnya, pandangannya masih pada punggung Jeonghan yang menjauhi kami, rasa aneh menggelitik di dalam hati, rasanya seperti menyesal menanyai Hana perihal perasaannya pada Yoon Jeonghan, rasa yang menggelitik kini semakin mengkontrol otak ku untuk terlalu fokus pada Jeonghan dan Hana, sakit. Hati ku mulai terasa sakit. Aku lemah.

"Sia ya, gwenchana?" Lamunan ku tersadar karena sentuhan pada lengan ku.

Aku tersenyum tipis, menggenggam lengan Wonwoo yang telah menyadarkan ku pada kenyataan, sahabat terbaik ku menyukai lelaki yang selama ini mendampingi ku. Tak kurasa ternyata terlalu lama berada di sisi Jeonghan, mendapatkan perhatian yang berlebih dari Jeonghan membuat ku jatuh pada rasa yang tak kusadari ada.

"Kenapa kau lemas?, kau sakit?" Tanya Wonwoo sedikit berbisik, kusandarkan diriku pada tubuh Wonwoo, kini ia menopang tubuhku dengan melingkarkan lengannya pada bahuku.

"Kajja, kita ke kelas, ya!, neo gwenchana?" Ucap Hana yang baru membalikkan badannya ketika Jeonghan telah menghilang dari pandangan.

Aku hanya mengangguk kecil.

"Wonwoo ya, kurasa aku mau pulang saja" ucap ku berharap Wonwoo mau mengantarkan ku.

Aku tak tau lagi ingin sekali merutuki diri sendiri, kenapa menjadi manusia terlemah seumur hidup, Hana hanya menyukai Jeonghan, kenapa raga ini tak bisa diajak bersahabat sebentar saja. Bagaimana jika Hana menyadari keadaan ku? Keadaan dimana yang masih asing bahwa pendamping sedari kecil ku akan di rebut oleh sahabat terbaik ku?.

Air mataku keluar tak terkontrol, ku alihkan pandangan ku ke luar jendela mobil, berusaha menutupi air yang telah membasahi wajah.

"Ini tisu" ucap Wonwoo memberikan beberapa helai sembari terfokus pada jalanan Seoul.

"Mwoya? Siapa yang menangis" jawab ku ketus.

"Entah ini membuat ku bahagia atau tidak, Aku sangat lega" ucap Wonwoo yang membuat mata ku melebar, kenapa? Terlalu jahat jika ia mengutarakan bahwa dia bahagia ketika aku terpuruk dengan perasaan yang tak tau sejak kapan datang.

"Maksudmu?" Nada ku sedikit ku tinggikan, namun seorang Wonwoo akan menganggapnya candaan.

"Sebenarnya kau ini terlalu polos atau bagaimana?, terlihat jelas kalau sahabatmu itu memiliki perasaan dengan Yoon Jeonghan, sudah sejak pertama kali kalian berteman" ucapnya tanpa ragu.

"Kau fikir kau peramal? Yang seenaknya mengatakan isi hati seseorang sesuka hati" jawab ku berusaha menutupi rasa kecewa yang semakin dalam.

"Sudahlah, yang penting kesempatan ku untuk menjadi pacarmu semakin besar" ku lirik sinis Wonwoo yang masih tersenyum dengan pandangan lurus ke jalanan.

Therapying MR. Yoon JeonghanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang