Bagi Risya, Rayyan adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya, lebih daripada siapa pun. Bagi Risya, segala hal lebih mudah dilakukan ketika Rayyan berada disampingnya.
Bagi Rayyan, Risya adalah satu dari segelintir orang yang pendapatny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gimana keadaan kamu, Ran?"
Alan mendudukkan dirinya di samping ranjang, tempat Rania terbaring dengan selang infus yang tertempel pada punggung tangannya, setelah meletakkan satu tas plastik berisi beberapa bungkus roti.
"Lebih baik dari hari pertama aku di sini. Thank you udah bawa aku ke rumah sakit, Al," kata Rania lengkap dengan senyum manisnya.
Laki-laki itu mengangguk, namun tidak menampakkan senyum andalannya. Bahkan ketika Rania lebih menelisik, kantung mata Alan terlihat sedikit lebih gelap. Tatapannya yang teduh, kini berubah sendu. Meski sejak laki-laki itu datang, berusaha disembunyikan raut sedih tersebut.
"Kamu nggak ada yang jagain, Ran?"
"Kakakku lagi ambil baju di kostan, sama sekalian beli sarapan. Kamu udah sarapan? Mau aku pesenin dari kantin rumah sakit?"
Alan menggeleng ketika Rania hendak meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat ranjang.
"Nggak usah, bentar lagi aku beli sendiri aja."
Hening. Tidak ada suara lagi sebab Rania kehabisan kata-katanya melihat Alan yang sedikit lebih cuek pagi ini. Laki-laki itu bahkan tidak berhenti mengecek ponselnya. Sesekali, dahinya berkerut samar. Membuat Rania tidak tahan untuk menyuarakan rasa penasarannya.
"Al," panggil Rania dengan suara lirih.
Alan mendongak. Mengalihkan fokusnya dari layar ponsel dan menatap Rania dengan pandangan bertanya.
"Something happens?"
Di depannya, Alan mengerjap. Laki-laki itu kembali membiarkan hening menguasai mereka hingga beberapa menit. Namun ketika menatap Rania yang terlihat menunggu, Alan tidak bisa lagi menyembunyikannya.
"Aku sama Risya udah nggak sama-sama lagi."
Rania terpaku sebelum matanya membelalak. Perempuan itu menatap Alan dengan tatapan tidak percaya.
"Nggak... sama-sama?"
Alan mengangguk. Kemudian mengantongi ponselnya sebelum fokus menatap Rania. "Kamu nggak salah dengar, Ran."
"Gara-gara aku?"
"Kenapa harus gara-gara kamu?"
Rania menghela napas. Masih tidak bisa meredakan kekagetannya. Rania memang menyayangi Alan, menginginkan laki-laki itu sebesar perasaan sayangnya. Namun mendengar putusnya hubungan laki-laki itu dengan Risya, melihat wajahnya yang kalut, dada Rania ikut sesak. Alan tidak pernah sekalut hari ini. Tatapan matanya yang lembut dan berbinar, berganti sendu. Bahkan Jika diamati lebih intens, Rania bisa melihat kedua bola mata Alan yang memerah samar.
"You know what I mean, Al."
"Emang udah waktunya, Ran. Mau dipaksain juga nggak bakal berhasil," ujar Alan dengan suaranya yang berat. Laki-laki itu menghela napas untuk kesekian kalinya. "Nggak gampang buat aku ngelepasin Risya. Dia yang nemenin aku dari awal masuk kampus. Dia yang nguatin aku buat terus survive dan nggak main-main sama kuliah. Kalau kamu nanya aku sayang dia atau nggak, jawabannya jelas iya. She means a lot for me. Tapi itu aja nggak cukup jadi alasan buat pertahanin hubungan ini. Terlalu banyak persimpangan antara aku dan Risya yang udah nggak bisa diatasi lagi."