3. Bingung

165K 14.1K 374
                                        

Happy reading dan jangan lupa tinggalkan vote dan komen yaa. Lvy

Semoga ceritaku bisa menghibur kalian semwa hwehehe. Jangan bosan yaa.

...

Menahan emosi sembari melahap salad sayur yang disiapkan oleh mamanya adalah hal yang paling tepat. Karena dengan begitu, dirinya tidak perlu membantah dan akhirnya berdebat dengan suara tinggi yang akan mengganggu seisi rumah.

Dimarahi ketika dirinya pulang bukan lagi hal aneh bagi seorang Naya. Dulu mungkin dirinya akan menangis di pojokan kamar selepas Mama selesai memaki-maki dirinya. Tapi kini, semua tidak berarti lagi. Dirinya sudah sangat terbiasa hingga kini ia hanya akan mendengarkan, sampai wanita paruh baya itu lelah sendiri.

Tiga puluh menit berlalu, Naya berada di kediaman keluarga Kalandra hanya untuk mendengarkan kemarahan mamanya sendiri. Sebetulnya ia sangat tidak ingin bertandang ke rumah ini, karena baginya, anggota keluarga Kalandra tidak pernah bersikap baik padanya. Padahal mereka adalah saudara kandung. Maka dari itu, apartemen yang ia sewa--yang berhadapan langsung dengan unit milik Agam--adalah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu kosongnya selama ini.

"Kamu itu harusnya mikir! Gimana mau dapat uang dan memenuhi gaya hidupmu kalau kamu berhenti menerima pekerjaan! Demi Tuhan itu iklan! Bayangkan, Nayara Swastika! Jangan bertindak bodoh!" Nyonya Kalandra terus menasihatinya dengan perkataan-perkataan yang membuat Naya jengah.

Geliginya masih sibuk mengunyah tanpa peduli sedikitpun pada mamanya yang berkacak pinggang sembari menatapnya tajam. Dirinya memang langsung menolak tawaran menjadi model iklan kosmetik saat asistennya--Sita--memberi tahunya. Persetan. Dirinya betul-betul ingin berhenti dari dunia model dan fokus mengurus kafe yang dirintisnya sendiri.

"Dengar mamamu bicara, tidak?!"

"Dengar, Ma. Tapi aku nggak akan berubah pikiran. Aku akan tetap berhenti," balas Naya dengan tenang. Tidak tersulut emosi sedikitpun.

"Mau hidup pakai apa kamu kalau nggak kerja, hah? Kafe ecek-ecek yang penghasilannya nggak seberapa itu? Mikir, Naya, mikir!" sentak Jani Kalandra sembari menunjuk pelipisnya sendiri.

Cukup. Naya sudah bosan dimaki-maki. Ia menghempaskan garpu yang sedari tadi ia cengkram. "Jangan sepelekan kafeku. Tolong mengerti, aku sudah muak dengan profesi ini."

"Berani membantah kamu, hah?!" Kedua bola mata Bu Jani seakan menyala, seolah-olah siap segera membakar Naya sekarang juga.

Naya mengembuskan napasnya lelah. "Ada baiknya aku pergi aja. Mama nggak akan pernah sependapat dan mengerti keinginanku. Permisi." Ia menyambar tasnya lalu pergi begitu saja. Saladnya bahkan belum habis, tetapi dirinya sudah mual dan tidak nafsu. Padahal biasanya, ia tidak terlalu kenyang meski sudah menghabiskan porsi sarapannya.

Ia memutuskan untuk mendatangi kafenya sebelum bertemu orang agensi, untuk menenangkan diri sambil belajar supaya kafenya semakin maju. Ada beberapa urusan seperti mengecek bahan-bahan yang habis atau yang terpenting adalah mengecek renovasi lantai tiga untuk tempat tinggalnya yang ingin ia tempati segera. Sungguh, bisa bangkrut betulan kalau ia masih menyewa apartemen sedangkan dirinya sudah berhenti menjadi model.

Namun, baru saja Naya memasuki kafe, ia langsung disuguhi pemandangan yang menggiurkan. Ia mati-matian menahan bibirnya untuk tidak bersiul kala mendapati Agam sedang duduk di salah satu meja di sudut ruangan dengan seorang wanita. Ia merogoh tasnya untuk mengambil tetes mata lalu membasahi kedua matanya dengan benda cair itu hingga Naya seperti orang yang sedang menangis.

Let's Be Together (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang