4. Kondangan

149K 14.5K 331
                                        

Bagiku hal menyakitkan adalah ketika aku udah nulis dapet banyak kata, tapi malah nggak kesimpen :"))

Happy Reading!!

...

"Gam, yailah jangan cepet-cepet dong jalannya. Gue pake heels sepuluh senti kalau lo lupa." Naya mencengkram erat lengan Agam yang sedari tadi memang menjadi pegangannya sejak turun dari mobil.

Keduanya sedang menghadiri sebuah undangan resepsi pernikahan salah satu teman dekat Naya, dan Agam hanya menemani. Mereka memakai baju yang senada--yang sengaja ia pesan pada Olivia. Omong-omong, Naya belum melihat temannya satu itu. Padahal mereka sudah janjian akan bertemu di pintu masuk ballroom mewah yang sudah didekorasi serba klasik ini.

Naya tentu saja senang, karena sahabatnya sedang berbahagia di atas pelaminan sana. Namun, sangat berbeda dengan lelaki di sampingnya yang hanya diam sedari tadi mereka berada di mobil. Padahal dirinya sudah mengoceh tentang berbagai hal yang sekiranya lucu, tetapi Agam tetaplah Agam. Mungkin masih bisa dihitung dengan jari berapa kali lelaki itu tertawa karenanya. Dan yang Naya ingat betul, semua penyebab tawa Agam adalah ketika dirinya tertimpa sial. Lelaki itu memang menyebalkan.

Mungkin karena tadi lelaki itu masih harus menunggu, sedangkan Naya sudah berjanji akan tepat waktu. Tapi sialnya adalah, dirinya terlalu asyik berendam sampai-sampai ia lupa kalau ada acara malam ini. Padahal dirinya sudah mematri niatnya untuk tepat waktu. Tapi niat hanyalah niat. Dirinya bahkan tanpa rasa bersalah meminta Agam untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer untuk mempersingkat waktu selagi dirinya memakai make up. Lengkaplah sudah alasan bad mood sahabatnya.

"Bete banget, ya? Sorry deh. Gue ketiduran di bath up sumpah."

"Hm."

"Ya Allah, Gam. Lo minta apa deh, ntar gue turutin."

Agam terlihat sedang menimbang sesuatu--terlihat jelas dari raut wajah dan lipatan samar di dahinya. "Gak perlu. Ayo salaman terus pulang."

"Bener nih? Lo udah nggak marah, kan?" tanya Naya memastikan, "Kalo marah kan berabe, gue--" Perkataannya terputus ketika ada seorang perempuan dengan gaun berwarna salem menyentak tautan tangannya dengan Agam secara pelan. Naya melotot, terlebih mendapati siapa tersangkanya.

"Hehehe, Nayara, kamu nggak boleh terlalu lengket sama Agam, nanti saya cemburu." Nesya memamerkan deretan giginya. "By the way, kebetulan banget ya kita ketemu lagi. Kayaknya betulan jodoh deh, Gam."

Naya merotasikan bola matanya jengah. Terlebih Agam sepertinya tidak keberatan sama sekali dengan kehadiran perempuan aneh yang kini mengambil alih tugasnya untuk menggandeng lelaki itu sepanjang acara nanti. Demi apa pun, Naya butuh Olivia sekarang juga!

Dirinya tidak habis pikir, kenapa ada perempuan seagresif itu.

"...iya emang kadang sebel kalau punya klien yang banyak maunya. Tapi kerja jadi desain interior tuh bikin aku punya banyak kolega. Malah kadang aku jadi berteman sama mereka. Ya kayak Mas Bara dan Mbak Reya. Mereka pakai jasa aku buat desain rumah barunya. Bagus banget lho, Gam, rumahnya." Nesya tersenyum lebar mendapati Agam yang terlihat mendengarkannya. "Omong-omong, kamu profesinya apa?"

"Hm, saya menggantikan Papa di perusahaan." Agam menunjukan senyum yang lebih lebar dari biasanya. Dan hal itu membuat Naya makin dongkol. "Berapa umur kamu?"

Let's Be Together (selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang