Extra Part

6.3K 476 69
                                        

Jujur Naya tidak menyangka sebentar lagi dia akan jadi Mrs. Djati!

Bahkan sebelumnya pun ia tidak pernah memimpikan itu. Terlebih dengan segala hal yang menimpanya. Apalagi Agam yang lebih banyak diam—meski sekarang sudah tidak terlalu, sih. Pokoknya semua yang terjadi akhir-akhir ini seperti tidak nyata dan jika ini mimpi, siapa pun tolong jangan siram Naya dengan air segayung yang bakal membangunkannya!

Naya tiba-tiba terkikik geli. Padahal ia sedang fitting gaun yang akan ia pakai di pernikahannya di tempat Olivia.
Ko
"Lucu banget ya, Liv, masa gue bakal nikah sama Agam."

Olivia tersenyum menanggapinya. "Itu kan, yang kamu mau. Lagian, Agam boleh juga, loh. Kalau kamu nggak mau, mending buat aku aja."

"Sembarangan!" Naya melotot sambil beracak pinggang. "Agam itu tercipta buat gue, Liv. Lo kan udah ada si Juragan Sapi!"

Dan Olivia hanya tersenyum tipis.

Sejujurnya Naya merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Tetapi ia belum sempat bertanya karena kesibukan masing-masing dan itu hanya menjadi pertanyaan dalam hati. Mungkin nanti ia akan bicara setelah urusan gaun ini selesai.

Gaun yang akan Naya kenakan begitu indah. Naya bahkan sampai tidak bisa berkata-kata setelah baju itu membalut tubuhnya dengan pas. Olivia sangat pandai membuat gaun yang sesuai keinginannya. Padahal ia tidak menjelaskan dengan detail gaun seperti apa yang ingin ia kenakan.

Tapi seperti bisa membaca pikiran, Olivia bisa membuatkan gaun secantik itu dan Naya tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa kepada sahabatnya itu.

"Liv...." Hanya itu yang bisa ia katakan.

"Ya, Naya? Kamu suka gaun pengantin kamu?" Olivia tersenyum manis.

Naya mengangguk berkali-kali. Ia sangat menyukai gaun yang didesain oleh Olivia dan begitu bahagia.

Sedangkan Olivia juga bahagia bisa merealisasikan keinginannya untuk membuatkan gaun pengantin untuk kedua sahabatnya. Gaun itu spesial, karena Olivia benar-benar mencurahkan perhatiannya pada desain itu. Sungguh ia puas melihat reaksi Naya. "Oh iya, untuk gaun bridesmaid buat Reya udah beres, nanti bisa langsung kamu ambil di kasir ya, Nay."

"Oke, Sweetie. Thank you so much, Olivia. I owe u." Naya mengedipkan matanya genit.

Livi hanya mengibaskan tangannya. "Terus gaun untuk Tante Reni, Tante Jani, sama Tante Rahma mungkin akan jadi dalam seminggu. Soalnya mereka baru dateng buat ngukur bajunya beberapa hari lalu."

"Nggak apa-apalah, hari nikahnya juga masih agak lama. Makasih banget, Liv, bajunya beneran sesuai ekspektasi gue! Gue happy banget!" Naya memeluk Olivia dengan erat. Ia tidak tahu lagi harus seperti apa mengungkapkan perasaannya.

"Aku juga berterima kasih karena kamu udah percaya ke aku buat bikin gaun untuk hari spesial kamu. Jujurly, ini adalah hari yang aku nanti-nantikan, jadi waktu kamu bilang kamu suka gaunnya, aku juga lega." Olivia membalas pelukan itu tak kalah eratnya.

Dan obrolan mereka berlanjut hingga akhirnya Naya dijemput oleh tunangannya. Agam menyusul masuk ke studio Olivia dan menyapa sebentar, sebelum mengajak Naya beranjak dari situ.

"Buru-buru banget, Gam. Mau ada urusan lain?" tanya Naya setibanya di mobil. Lelaki itu tidak banyak bicara dan mulai menyalakan mesin mobil.

"Aku butuh ciuman."

Tiga kata yang membuat Naya melotot. Lelaki itu benar-benar semakin berani ya, sekarang. Mentang-mentang sebentar lagi mereka akan menikah, udah berani aja minta cium! "Di parkiran banget, nih?"

Dasar Naya wanita munafik! Tadi saja ia bilang Agam semakin berani. Padahal ya dirinya suka-suka aja Agam seperti itu!

"Kalau nggak di sini, aku nggak yakin bisa nyetir dengan selamat, Nay."

Halah otak busuk biar cepat dapat apa yang dia mau! Naya menyeringai. Tidak segampang itu, Calon Bojo!

"Yaudah sini aku yang nyetir."

"Nggak boleh."

"Yaudah ayo anterin aku balik."

"Cium dulu."

"Mintanya yang bener dulu."

"Cium aku, Nay."

"Bukan gitu!"

"Aku sosor paksa, nih." Agam gemas sendiri dengan kelakuan Naya. Ia hampir saja emosi sebelum tahu apa yang dimaksud tunangannya itu.

Naya terbahak mendengar yang Agam katakan. Disosor emangnya sowang!

"Sayang, kiss me please."

Naya tertawa lagi, dan dengan senang hati ia memberikan apa yang Agam minta. Ia mendekat kepada Agam dan memberikan kecupan singkat di bibir lelaki itu. Namun, sepertinya kecupan itu tidak cukup dan Agam malah menahan belakang kepala Naya. Lelaki itu mencium Naya dengan lembut. Tanpa tergesa-gesa. Tanpa menuntut.

Dan Naya pun tidak masalah dengan kecupan singkat yang menjadi ciuman panjang itu. Ia menikmatinya. Ia menyukai bagaimana Agam memperlakukannya. Bagaimana lelaki itu begitu gentleman. Dan begitu menggemaskan di saat bersamaan.

Dan Naya bisa bilang, sepertinya Naya tidak salah pilih jodoh.

Lelaki itu selalu memperjuangkan segalanya untuk Naya. Mulai dari restu, kepercayaan dari keluarga Kalandra, dan restu dari ayah kandungnya.

Lelaki itu juga sudah mengajarkan Naya untuk berdamai dengan apa yang terjadi padanya. Ia berusaha untuk memikirkan dari berbagai sisi hingga akhirnya ia yakin untuk menganggapnya sebagai salah satu topping dalam hidupnya saja.

Ia memaafkan kelalaian Bu Jani. Mungkin perempuan itu mabuk karena mendapatkan masalah yang besar.

Ia memaafkan sikap keluarga Kalandra. Karena ia tahu betul dikhianati begitu menyakitkan.

Ia memafakan sikap pengecut ayah kandungnya. Karena mungkin ia malu atas kesalahan yang dia buat.

Dan ia menerima semuanya.

Naya ingin memulai kehidupan baru tanpa ada yang mengganjal di hati. Naya ingin benar-benar menata ulang hidup tanpa bayang-bayang masa lalu, dendam, dan sakit hati.

Bersama Agam.

Kekasihnya.

Lelaki yang begitu ia cinta.

Selamanya.

...

Hihihii dikit banget yaaa. Masih ada ga sih yang baca cerita ini? Gapapa deh tetiba kangen Gam-Nay terus langsung tulis satset terus publish.

Aku ada niatan bikin cerita Olivia dengan si Juragan sapi dan satu orang rahasia. Doain yach bisa cepet lancar nulisnya terus publish cerita baruu. Wopyuh sayangkuuu mmwah

Love, Pulpenabu

Let's Be Together (selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang