Di sebuah Ruangan bernuansa putih, Bintang terus menyimak penjelasan dokter. Mengenai kondisi terbaru sang adik.
"Seperti yang sudah saya jelaskan, mengenai kondisi adik anda. Kemoteraphy, dan obat-obatan hanya mampu memperlambat sel kanker yang ada di tubuh Badai.
"Tapi adik saya bisa sembuh kan dok? Tanya Bintang penuh harap.
"Insya Allah... Karena terkadang harapan adalah obat yang paling mujarap. Jadi, menurut saya, apa yang bisa menjadi harapan hidup untuk adik anda, berikan saja. Karena ia sangat membutuhkan itu. Jelas dokter.
Bintang tak bisa berkata apa-apa, ia hanya mampu menahan air mata yang mungkin akan menetes dari mata indahnya.
"Terimakasih banyak dok, saya pamit. Ucap Bintang, sambil menyalami sang dokter.
***
Ia terus melangkah kan kaki, menyusuri Lorong Rumah Sakit, ruang yang sangat hening, dan dingin membuatnya semakin takut kehilangan sang adik.
Lalu, ia melirik jam yang ada di tangan nya. Ternyata sudah pukul 12.00 ia memutuskan Sholat Zuhur, di Mushola, yang berada di Rumah Sakit.
***
Setelah Sholat, ia memnajatkan Doa, untuk kedua orangtua nya, dan tak lupa untuk sang adik.
"Ya Allah.... Ampunilah dosa-dosa ku, dan dosa kedua orang tuaku. Sayangi mereka, sebagai mana mereka, menyayangimu di waktu kecil. Ya Allah.... Saat ini, hanya engkau tempatku berserah diri, hanya kau tempatku memohon. Ya Allah.... Angkatlah penyakit adikku, sembuhkanlah ia. Aku, tak ingin ia menderita terlalu lama. Aamiin...
Setelah selesai berdoa, ia mengusap kedua telapak tangan ke wajah nya.
***
Sebelum pulang, ia memutuskan membeli makan siang untuk dimakan bersama dengan adik-adiknya, dan tak lupa ia membeli untuk Bu Elis.
BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
BULAN & BINTANG
Fiksi UmumBintang adalah seorang anak laki-laki berusia 17 tahun, ia sudah ditinggal kedua orangtua nya sejak umur 5 tahun. Sejak umur, segitu pula. Ia, dan sang adik yang hanya berjarak usia satu tahun. Harus, menetap di Panti Asuhan. Kehidupan nya berubah s...
