Seneng kan aku double up, ciahahaha.
Jan lupa tekan bintang dan komen wahai warga wattpad tercinta<3
16. JADI BABU(?)
"Woi!"
Rania sontak menegakkan badannya saking terkejutnya. Detik berikutnya gadis itu membelalakkan matanya melihat orang yang baru saja membangunkannya. Orang itu ... Rages.
Rania mengulum bibirnya, entah kenapa jadi merasa sangat gugup. Aura cowok itu amat menyeramkan. Apa sebentar lagi Rages akan marah? Apa itu karena dia mendapatkan hukuman karena Rania?
"Kenapa diam? Kalau orang manggil itu nyaut," kata Rages dengan sengit.
Rania mendelik kesal. Dia menatap Rages dengan tajam. Cowok itu selalu menganggunya, apa tidak ada hal lain yang bisa cowok itu lakukan? Kalau Rania cowok, sudah dipastikan dia akan menghajar Rages untuk membalas atas semua yang pernah dilakukan cowok itu padanya.
"Ikut gue," ucap Rages lagi.
Rania memandang Rages heran. "Ngapain?"
"Ck. Banyak bacot lo!" Rages langsung menarik tangan Rania dengan kasar untuk ikut bersamanya.
Perasaan dari tadi dia yang bacot.
Rania menghela napas, pasrah saja mengikuti langkah panjang Rages. Bahkan cewek itu terseret kecil karena susah mengikuti langkah cowok yang menarik tangannya.
Ketika sampai di tangga menuju lantai atas gedung sekolah, Rages masih menarik Rania tanpa rasa kasihan. Rania beberapa kali tersandung anak tangga, membuat pergelangan kakinya yang masih sakit itu semakin terasa sakit. Kali ini bukan hanya kaki kirinya, tetapi kaki kanannya juga ikut tergores akibat anak tangga. Rages menarik Rania seolah gadis itu adalah karung beras.
Rages benar-benar tidak punya perasaan. Rania makin tidak menyukainya.
"Lo kenapa bawa gue ke sini?" tanya Rania mengatur pernapasan, ketika mereka sudah sampai di lantai paling atas sekolah itu.
Iya, mereka berdua sekarang tengah berada di rooftop.
"Lo masih tanya kenapa?!" bentak Rages, napasnya memburu seperti sedang menahan amarahnya.
"Hah? Gue gak tahu kenapa lo bawa gue ke sini, Rages!" balas Rania.
Rages berdecih, menatap Rania dengan tatapan benci. "Cih. Lo tau gak apa yang udah bokap lo lakukan?!"
Rania ternganga, pasti Papanya sudah melakukan hal di luar batas. Cewek itu menundukkan kepala sambil memainkan ujung seragamnya. Kenapa di saat seperti ini dia harus merasa takut? Ayolah Rania, jangan takut sama cowok bangsat kayak dia.
Namun tetap saja Rania tidak bisa membalas tatapan menusuk Rages.
"Lihat gue!" Rages menggenggam bahu Rania dengan keras, hingga membuat Rania membalas tatapan cowok itu. "Sekarang lo tahu kan apa yang udah bokap lo lakukan?" lanjut Rages sambil tersenyum sinis.
Sedang Rania membelalak kecil, melihat wajah Rages yang sudah babak belur. Kenapa dia baru sadar sekarang? Ya ampun, wajah cowok itu benar-benar seperti akan hancur. Ada beberapa luka di bagian pelipis, ujung mata, sudut bibir dan pipinya yang sudah membiru lebam.
Jadi itu semua karena Papanya?
"Maafin Papa gue, Rages," lirih Rania menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya yang akan keluar. Katakanlah Rania lebay, tapi cewek itu memang tidak sanggup melihat wajah cowok di depannya yang sudah babak belur.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAGES
Teen Fiction𝙍𝙀𝙁𝙊𝙐𝙍 : "SIAPA YANG BERANI GANGGU, MAKA AKAN SELALU KITA INCAR!" *** "REFOUR itu geng yang paling ditakuti di wilayah sini, apalagi Rages Yogaswara si ketua yang nggak pernah ngebedain mau cewek atau cowok, semuanya disikat habis sama dia." R...
