33. PENYUSUP
Sudah lewat dua hari sejak Rages sakit, dan cowok itu sudah pergi ke sekolah seperti biasanya, begitu juga dengan Rania.
Siang ini, setelah bel istirahat pertama berbunyi Rania dan Arisha langsung melangkahkan kaki ke ruang organisasi Penegak Disiplin. Duduk tepat di depan ketua dan sekretaris Penegak Disiplin, mereka Dimas dan Riska.
"Gimana? Kalian paham sama penjelasan gue?" tanya Dimas, selaku Ketua PD.
Rania dan Arisha mengangguk paham. Kemudian menatap note kecil dengan sampul berwarna hitam, di depannya tercetak jelas bacaan death note, Rania jadi teringat salah satu anime yang entah apa judulnya dia sudah lupa. Apa jangan-jangan pengurus PD ada yang wibu.
"Pesan dari gue, lo berdua jangan pilih kasih. Entah siapapun yang melakukan kesalahan walau Rian donatur terbesar di sekolah sekalipun harus tetap dicatat dan kasih hukuman," jelas Dimas lagi menatap serius pada Rania dan Arisha, bahkan kedua alisnya hampir bertautan.
Rania dan Arisha kembali mengangguk paham, udah berasa jadi orang penting yang dapat tugas negara.
"Satu lagi, siapin mental karena kali ini tentu aja musuh terbesar kalian Ketua Refour dan anggotanya, belum lagi Kakel Barbar juga susah diatur. Jadi gue berharap banyak sama kalian," kata Dimas lagi menatap Rania dan Arisha penuh harap.
Rania dan Arisha lagi-lagi mengangguk, kali ini sambil meneguk ludah susah payah, merasa tenggorokan mereka gatal dan kering.
"Rania, gue lihat lo sering bareng inti Refour," ucap Riska.
Tiap hari juga gue bareng ketuanya.
"Kadang sih Kak, kita juga kan satu sekolah jadi sering gak sengaja ketemu," balas Rania.
"Eh, iya juga ya," kata Riska mengaruk lehernya. "Tapi lo kayanya akrab sama mereka deh, Ra."
"Lebih tepatnya gue target mereka, Kak. Kalau gak ada Arisha di samping gue, mungkin gue udah jadi bulan-bulanan mereka," jelas Rania tak sepenuhnya berbohong.
"Kenapa dengan Arisha?" tanya Dimas kini beralih menatap Arisha, secara spontan diikuti oleh Rania dan Riska.
"Kenapa, Sha?" tanya Rania juga, karena jujur Rania pun juga penasaran kenapa Arisha memiliki pengaruh pada inti Refour, bahkan mereka tampak seperti saling kenal sejak lama.
Arisha berdeham. "Mungkin karena gue jagoan Taekwondo di sekolah."
Kali ini giliran Rania dan Riska mengangguk-angguk paham, Arisha memang perwakilan putri dalam bidang Taekwondo si sekolah ini, sedang putra dipimpin oleh Revi. Tapi berbeda dengan Dimas yang masih menatap Rania dan Arisha penuh selidik.
"Lo berdua yakin jadi PD?" tanya Dimas.
"Yakin," jawab Rania dengan cepat, berbeda dengan Arisha yang hanya mengangguk pasrah.
"Oke, kalo gitu lo berdua udah bisa bertugas mulai hari ini," ucap Dimas mengulurkan tangan bersalaman dengan Rania dan Arisha.
Rania meringis dalam hati, berasa jadi agen mata-mata aja gue.
Rania dan Arisha keluar dari ruang PD sambil menenteng buku note kecil hitam, mata keduanya langsung menelisik ke sekitar. Arisha melompat sambil melirik kanan dan kiri, Rania juga melakukan hal yang sama. Kemudian keduanya menggunakan tangan membentuk pistol dan meniupnya dengan gaya cool yang dibuat-buat.
"Inilah agen Upin dan Ipin!" seru keduanya dengan heboh.
Siswa-siswi yang sedang berlalu lalang di koridor mengernyit menatap Rania dan Arisha, beberapa menghindar dengan takut-takut. Bahkan beberapa anggota Refour yang sedang berada di sana menahan tawa melihat tingkah absurd kedua gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAGES
Novela Juvenil𝙍𝙀𝙁𝙊𝙐𝙍 : "SIAPA YANG BERANI GANGGU, MAKA AKAN SELALU KITA INCAR!" *** "REFOUR itu geng yang paling ditakuti di wilayah sini, apalagi Rages Yogaswara si ketua yang nggak pernah ngebedain mau cewek atau cowok, semuanya disikat habis sama dia." R...
