14. SIDANG

7.1K 546 15
                                    

14. SIDANG







"Gimana penampilan aku, Ma?" tanya Rania sambil melangkahkan kaki menuju meja makan yang terletak di dapur.

Mama Rania tersenyum paksa melihat penampilan baru anaknya. "Biasa aja." Begitu kata Mamanya.

Rania duduk di kursi dengan wajah cemberut, bibirnya merengut kecil. "Kok biasa aja sih Ma, kan Mama yang gunting rambut aku."

"Mama cuma rapihin dikit," ucap Mama Rania kembali menyantap makanannya. Mama cewek itu sejak tadi menahan diri agar tidak mengomeli anaknya lagi karena tidak bisa menjaga diri.

Rania tahu, bahkan sangat tahu, bahwa Mamanya masih marah. Entah marah pada Rania atau pada pelaku yang telah menyakiti Rania. Mulai saat ini Rania berjanji akan menjaga dirinya dengan baik, agar Mamanya tidak merasa khawatir lagi padanya.

"Anak Papa cantik bangeeetttt," seru Papa Rania menuruni anak tangga dengan mata berbinar.

Jika Mama Rania menyukai surai anak gadisnya yang panjang, maka Papa Rania kebalikannya. Gaya surai Rania saat ini adalah yang ditunggu-tunggu oleh Papanya sejak dulu.

Rania tersenyum semringah mendengar penuturan Papanya. Gadis itu berlari ke arah Papanya dan memeluk dengan sangat erat. Sedang Mama Rania menatap iri kedua insan itu.

"Mama nggak mau gabung?" goda Papa Rania sambil menaik turunkan alis matanya.

Mama Rania membuang muka, membuat Rania dan Papanya terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan Mamanya.

"Bener aku cantik, Pa?" tanya Rania sambil tersenyum.

Papa Rania mengelus surai anaknya yang hanya sampai di bawah telinga itu dengan lembut. "Cantik banget malah."

"Ayo habiskan sarapannya, hari ini biar Papa yang antar kamu ke sekolah," lanjut Papa Rania masih dengan senyuman yang melekat di wajahnya.

Rania mengangguk dan kembali duduk di kursi, kembali menyantap makanannya.

Rania tersenyum senang, hatinya lega sekarang. Sebenarnya Rania merasa tidak percaya diri dengan penampilan barunya. Rania takut penampilannya tidak akan disukai oleh orang-orang yang ada di sekolah, karena sekarang dia terlihat sedikit tomboi dengan gaya rambut wolfcut.

 Rania takut penampilannya tidak akan disukai oleh orang-orang yang ada di sekolah, karena sekarang dia terlihat sedikit tomboi dengan gaya rambut wolfcut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Mama ikut," kata Mama Rania tiba-tiba, menatap ke arah suami dan anaknya.

"Ikut ke mana, Ma?" tanya Papa Rania mengernyitkan dahinya.

Rania tertawa kecil, untung tidak tersedak. "Maksud Mama itu, Mama mau ikut ke sekolah, Pa."

Papa Rania kembali merasa bingung. "Ngapain Mama ikut? Mau sekolah juga?"

"Ck. Bukan Pa. Mama mau temuin anak berandal yang udah jahat sama Rania," jawab Mama Rania dengan nada tertahan, menahan amarah.

Rania membelalakkan matanya, ini bahaya. Papanya belum tahu masalah yang menimpanya, kalau sampai tahu pasti Papanya akan lebih menyeramkan dibanding Mamanya.

RAGESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang