34. DEATH NOTE
"LAWAN GUE ANJING!"
Rages melepas cengkeraman tangan Oskar pada seragam Mars dan langsung meninju wajah Oskar dengan kuat, membuat tubuh Oskar tak seimbang dan hampir tumbang sambil mengusap ujung bibir yang sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
Rages menatap lalang Oskar, dan ganti mencengkeram kerah seragam Oskar. "Apa mau lo?!" tanya Rages berang.
"Bukan urusan lo," jawab Oskar menghentakkan tangan Rages dari seragamnya, kembali maju meninju wajah Mars.
Mars meringis sambil memegang pipinya yang sudah membiru lebam. "Gue gakpapa Ges, ini urusan gue sama Oskar," kata Mars sesekali meringis merasa perih.
"Oke, mungkin ini urusan lo berdua. Tapi buat lo, ini bukan wilayah lo," ucap Rages dengan tajam menunjuk wajah Oskar dengan jari telunjukkan. "Gue udah peringatin lo waktu itu buat gak menginjakkan kaki lagi di sini," tambah Rages semakin menajam.
"Lo pikir gue mau nurutin perintah lo?" tanya Oskar malah menantang.
Rages tersenyum miring. "Oskar~ Oskar~" ucap Rages melangkah tepat ke hadapan Oskar yang memiliki tinggi badan hampir sama. "Gue tahu lo yang paling jago di Tigers, tapi di sini lo itu cuma tikus nyasar," tekan Rages.
"Of course, tetap gue yang paling jago," balas Oskar tak kenal jera.
Mars yang terdiam menatap kedua orang itu mengusap kedua tangan seketika merasa merinding. Waswas jika sampai kedua orang itu baku hantam, tidak akan ada yang mau mengalah, akan terhenti bila ada salah satu yang tumbang.
"Lo bukan apa-apa dibanding gue, bahkan dibanding Revi aja lo masih kalah jauh," ucap Rages masih menantang Oskar. Jujur sejak tadi tangan Rages sudah sangat gatal ingin segera menonjok habis Oskar untuk menghilangkan rasa kesal pada musuhnya yang satu itu.
"Balik ke wilayah lo atau mati di sini?" ancam Rages.
"Lo yang mati Rages," balas Oskar tak takut.
Sedang Mars makin ketar-ketir melihat keduanya, kemudian berlari meninggalkan keduanya.
"Ck, gara-gara lo mangsa gue jadi kabur," ucap Oskar.
"Gue tekankan sekali lagi, pergi dari sini karena ini wilayah kekuasaan gue," ujar Rages penuh penekanan.
Bugh!
Oskar meninju wajah Rages lebih dulu kemudian tersenyum penuh kemenangan. Rages menjilat sudut bibirnya sambil mengusapnya kasar, amarahnya semakin terpancing.
Bugh!
Balas Rages lebih keras, membuat Oskar menabrak barang-barang kardus yang ada di belakangnya.
"Gue tau rahasia lo, Rages!" kata Oskar dengan lantang. "Gue tau rahasia terbesar lo," katanya lagi.
"Anjing," umpat Rages kembali menghantam wajah Oskar dengan tinjuannya. "Rahasia apa maksud lo?!"
Oskar tertawa tanpa suara karena tak bisa dipungkiri pukulan Rages terlampau keras membuat tulang rahangnya serasa akan patah. "Rahasia yang bahkan sahabat lo sendiri gak tau," jawabnya semakin merasa senang memancing emosi Rages.
"Penyakit lo--" Ucapan Oskar terhenti ketika Rages menghujam wajah Oskar bertubi-tubi.
"Tau dari mana lo anjing?!"
Oskar hanya tersenyum miring, kali ini merasa menang. Walau badannya remuk, tapi senang karena bisa menyerang kelemahan Rages.
Rages mencengkeram leher Oskar hingga sang empunya terbatuk-batuk. "Gue tanya sekali lagi, lo tau dari mana?" tanya Rages dengan tatapan yang menggelap.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAGES
Jugendliteratur𝙍𝙀𝙁𝙊𝙐𝙍 : "SIAPA YANG BERANI GANGGU, MAKA AKAN SELALU KITA INCAR!" *** "REFOUR itu geng yang paling ditakuti di wilayah sini, apalagi Rages Yogaswara si ketua yang nggak pernah ngebedain mau cewek atau cowok, semuanya disikat habis sama dia." R...