19. DITANTANG
"Cepetan woi! Lelet amat lo," kata Rages menatap Rania yang berjalan di belakangnya.
Rania memutar bola mata malas. Gadis itu menenteng ransel Rages. Hari ini Rania akan menjalankan tugasnya sebagai babu, sama seperti kemarin. Baru satu hari menjadi babu, tetapi rasanya sudah seperti satu tahun. Rania ingin ini cepat berakhir, lelah hati menghadapi Rages setiap waktu, cowok itu benar-benar memperlakukan Rania seperti seorang babu.
Kalau di zaman dahulu, mungkin Rania sudah pingsan karena tidak diberi makan dan minum oleh majikan.
Pagi ini, mobil mewah Rages sudah terparkir manis di depan rumah Rania dan menyuruh gadis itu untuk menjadi sopirnya, mau tidak mau Rania mengiyakan. Ketika Rages sampai di depan rumah Rania, cowok itu malah melemparkan ransel juga kunci mobil pada Rania, yang membuat Rania menghela napas karena mengerti. Rages menyuruh Rania untuk membawakan tasnya dan mengendarai mobilnya.
Rages berhenti di sisi kiri mobil, cowok itu menunjuk pintu mobil dengan dagu. Rania kembali menghela napas, berjalan mengikuti cowok itu, dengan sangat terpaksa membukakan pintu mobil untuk Rages. Rages tersenyum penuh kemenangan dan masuk ke dalam mobil dengan santai.
Rania kembali berjalan ke sisi kanan mobil, membuka pintu mobil sendiri, dan masuk sambil menggerutu kesal dalam hati. Di sini gue yang cewek, tapi kenapa malah dia yang dapat perlakuan tuan putri?!
"Kenapa muka ditekuk gitu?" tanya Rages.
Rania menatap Rages dengan sengit.Tanpa menjawab pertanyaan Rages, gadis itu menekan tombol canggih hingga mobil hidup dengan sendirinya, kemudian menggas mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Kenapa lo diam? Sariawan?" tanya Rages lagi.
Rania sedikit menoleh pada Rages, mendengus kesal sambil kembali fokus pada jalanan di depannya. Untung Rania sudah berlatih mengendarai motor beberapa kali, diajari oleh papa dan Mamang-sopir Rania. Rania belajar membawa mobil juga karena mama sering menyuruh Rania untuk mengantar mamanya ke tempat arisan, atau ketika mama menyuruh Rania membeli sesuatu di luar komplek perumahan.
"Ck, gue dikacangin," kata Rages lagi dengan nada sebalnya.
Rania komat-kamit tak jelas, sekarang rasanya benar-benar kesal pada Rages. Apalagi mendengar nada sebal dari cowok itu, pasti cowok itu sekarang sedang merajuk. Rania juga heran, masa cowok macam Rages suka ngambekan.
"Woi!"
Rania masih diam.
"Woi, Nia!"
Kali ini Rania tak bisa diam saja. Dia sudah tidak tahan untuk tidak mengeluarkan emosinya. "Gue gak suka dipanggil dengan nama itu!" sentak Rania dengan tegas, menatap Rages tepat.
Rages menatap balik Rania sambil tersenyum miring, merasa senang karena akhirnya gadis itu tidak mengacuhkan keberadaannya lagi. "Kenapa? Bukannya Nia itu nama lo?" tanya Rages dengan nada meledek.
Rania semakin emosi mendengar ucapan Rages, hidung Rania kembang-kempis, dan menggigit bibir bawahnya menahan amarah. Sebenarnya Rania tak masalah jika orang lain memanggilnya dengan nama itu. Namun, ketika Rages yang mengucapkan nama itu, cowok itu terdengar seperti sedang meledek. Rania sangat tidak suka jika ada orang lain yang meledek ataupun mengejek, dia merasa direndahkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAGES
Teen Fiction𝙍𝙀𝙁𝙊𝙐𝙍 : "SIAPA YANG BERANI GANGGU, MAKA AKAN SELALU KITA INCAR!" *** "REFOUR itu geng yang paling ditakuti di wilayah sini, apalagi Rages Yogaswara si ketua yang nggak pernah ngebedain mau cewek atau cowok, semuanya disikat habis sama dia." R...