29. CEMBURU [2/2]

2.6K 132 10
                                        

29. CEMBURU [2/2]






Rania, Revi, Rian dan Rafa tengah mempersiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan untuk barbeque. Sedang beberapa anak Refour lainnya menyiapkan makanan camilan di atas meja panjang yang memang ada di halaman belakang basecamp itu, dan sisanya bermain gitar sambil bernyanyi.

"SEKALE LAGE?" Aji berseru heboh, sambil menggenjreng gitar di tangannya.

"ASEKKK!!!" balas yang lainnya tak kalah heboh.

Rania sibuk mengolesi daging dengan bumbu rempah-rempah yang dilihat dari tutorial di Youtube. Jujur, Rania sudah sering pesta barbeque bersama keluarga besarnya. Namun, Rania tak pernah ikut andil dalam hal memasak, karena selalu ada koki yang memasaknya.

Jadi, ini pertama kalinya bagi Rania memanggang daging, dan untung Rania mempunyai partner yang mumpuni, siapa lagi kalau bukan Rian. Rania tak menyangka bahwa Rian ternyata sejago ini dalam memasak. Karena sewaktu di panti kan mereka hanya membuat nasi goreng. Mungkin selama ini yang memasak hidangan di basecamp adalah Rian.

"Kak Rian, udah berapa lama suka masak?" tanya Rania menatap Rian yang berdiri tepat di sebelahnya—sedang memotong daging dengan telaten, membuat Rania merasa kagum.

Rian menghentikan kegiatannya sejenak. "Maybe, empat tahun? Entahlah, gue juga gak terlalu ingat, tapi gue memang suka masak dari kecil," jawab Rian sambil tersenyum, kemudian kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti.

"Wahhh. Gue juga udah lama suka masak, tapi selalu dilarang sama Mama kalau mau nyentuh dapur," kata Rania diakhiri dengusan sebal, mengingat mama yang tak pernah mengizinkannya untuk ikut memasak di rumah.

"Kenapa gak lo buktikan aja?" Pertanyaan dari Rian membuat Rania mengerutkan kening. Rian berdeham. "Gini loh. Lo suka masak, tapi Mama lo ngelarang masak kan?"

Rania menganggukan kepalanya.

Rian mengusap dagu sembari berpikir. "Oh! Berarti itu memang karena lo belum jago masak," jelas cowok itu dengan wajah serius.

Rania ternganga kecil. Dia kira Rian akan memberikan motivasi untuknya. Padahal Rania mengharapkan kata-kata penyemangat dari orang yang lebih unggul darinya. Lagian waktu pembagian otak, cowok itu ke mana, sih? Apa Rian tidak ikut mengantre? Sampai-sampai jawabannya aneh begitu atau mungkin Rian memang se-absurd ini. Rania menggeleng-gelengkan kepala dengan pelan, mulai maklum dengan tingkah cowok itu.

Rania membawa daging yang sudah dioleskan dengan bumbu ke tempat panggang. Di sana sudah ada Revi yang tampak sibuk menyalakan api di bara, tetapi sejak tadi selalu gagal. Apa saja yang cowok itu lakukan sejak tadi?! Rania menghela napas, kemudian merampas pematik dari tangan Revi. Dengan cekatan Rania bisa menyalakan bara api itu, sepertinya ini memang bakat Rania.

Revi menatap Rania dengan kagum sekaligus tak percaya, cewek seimut ini kenapa bisa melakukan hal yang seharusnya cowok lakukan. Cewek ini benat-benar sangat menggemaskan, hingga membuat Revi tak tahan untuk tidak mengusap kepala Rania dengan lembut sambil tersenyum manis.

Kepalanya diusap loh ini! DIUSAP DENGAN LEMBUT! Rania mau pingsan saja rasanya. Namun, tunggu dulu, tadi kalau tidak salah cowok itu tersenyum kan? Iya, Revi tadi memang tengah tersenyum. Momen yang sangat langka.

"Lo barusan senyum, Rev?!" tanya Rania heboh sambil menunjuk-nunjuk wajah Revi.

Revi berdeham lalu kembali mengatur ekspresi wajah agar kembali datar.

Rian dan Rafa langsung berlari ke arah mereka ketika mendengar ucapan Rania yang bagaikan sebuah keajaiban. "Serius, Ra?" tanya Rian pada Rania dengan tak sabar.

RAGESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang