21. BALASAN SETIMPAL
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Refour langsung ngacir ke warung kopi depan sekolah. Kini mereka sedang duduk santai, menikmati secangkir kopi dan rokok yang sudah bertengger manis di antara jari tengah dan jari telunjuk. Ya, hal itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka. Hampir semua anggota Refour memang sudah setiap hari nyebat, dan tak dapat dipungkiri Rafa pun juga, hanya saja dia harus sembunyi-sembunyi dari bundanya.
"Kita langsung ke markas mereka sekarang? Gak mau bawa gorok atau apa gitu? Masa tangan kosong doang," cerocos Rian membuat Rages, Revi dan Rafa kesal bukan main.
Rian ini cowok, tetapi mulutnya lemes banget kayak cewek. Itulah yang membuat Refour heran sama cewek-cewek di sekolah, kenapa masih mau juga sama Rian yang begitu. Padahal mereka saja sering ilfeel sama tingkah absurd Rian, atau mungkin cewek zaman sekarang memang suka sama cowok yang semacam Rian.
"Banyak bacot lo, Yan," ucap Rages menatap tajam Rian, membuat Rian langsung mengatupkan bibirnya sambil memandang takut pada Rages.
"Kalau kata Bunda gue, berbicara terlalu berlebihan itu gak baik, apalagi kalau yang dibicarakan itu gak penting, kayak yang lagi gue omongin sekarang," jelas Rafa serius dengan menunjuk-nunjuk wajah Rian dengan jari telunjuk.
"Lo dan Rian sama aja," ucap Revi tiba-tiba, membuat semuanya menoleh ke arah Revi.
Rafa mengerutkan kenin, kemudian membelalakkan mata karena mengerti. "Lo bilangin gue?"
"Ya."
Rafa menghela napas sambil mengusap dadanya, memasang wajah sok sabar. "Kata Bunda, gue harus jadi anak yang sabar. Sabar Rafa," ucapnya kembali mengusap dada.
Rian mengusap punggung Rafa sambil menatap iba dan berkata, "Yang sabar ya Rafa, orang sabar di sayang Allah dan Bunda."
Rafa menganggukkan kepala, kemudian bersandar di bahu Rian. Bukannya menolak atau mendorong Rafa, Rian malah merangkul bahu temannya ikut merasa sedih. Jadilah keduanya menangis yang dibuat-buat.
Rages memutar bola mata malas, heran dengan sifat kedua temannya yang sangat aneh. "Gak ada yang beres emang."
Revi menepuk bahu Rages, membuat Rages langsung menoleh ke arahnya. "Rencana lo?" tanya Revi dengan wajah datar, karena Revi mengetahui rencana menarik dari Rages.
Rages mengerutkan dahi sesaat, dan menganggukkan kepala, mengerti arah jalan pikir Revi. "Berjalan dengan lancar."
Rian dan Rafa membelalakkan matanya, kenapa mereka berdua tidak diberi tahu? Rencana apa yang Revi dan Rages bicarakan? Anak Refour yang lain pun merasa tak terima karena tidak diberi tahu.
"Rev, lo tahu rencana Rages?" tanya Rian dengan nada tak terima.
Revi hanya menganggukkan kepalanya. Rian dan Rafa, diikuti semua yang di situ langsung menghela napas kecewa.
"Kok lo gak kasih tahu kita semua, sih, Ges?" tanya Rafa dengan senyum yang dibuat-buat, jatuhnya malah membuat semua yang di sana langsung merasa mual di tempat.
"Jijay amat ekspresi lo, Raf," kata Rian.
Rafa kembali menunjuk wajah Rian dengan
tegas. "Diem dulu, Yan. Gue lagi mau minta penjelasan si Bos."
KAMU SEDANG MEMBACA
RAGES
Teen Fiction𝙍𝙀𝙁𝙊𝙐𝙍 : "SIAPA YANG BERANI GANGGU, MAKA AKAN SELALU KITA INCAR!" *** "REFOUR itu geng yang paling ditakuti di wilayah sini, apalagi Rages Yogaswara si ketua yang nggak pernah ngebedain mau cewek atau cowok, semuanya disikat habis sama dia." R...
