- 22 -

1.3K 186 46
                                        

Sometimes, all you can do is lie in bed and hope to fall asleep before you fall apart.

- William C. Hannah -
.
.
.

I hope you enjoy this rollercoaster 😘


3rd POV
.
.
.

Aya dan Angga hanya berdiam diri di sofa ruang tengah apartemen Aya. Yang wanita sudah menahan tangisnya sejak 30 menit lalu sewaktu si lelaki sampai di apartemennya dengan keadaan lusuh. Belum mandi, belum pulang dan belum ganti baju. Masih memakai baju kerja yang sama sejak kemarin dia mengantar Laras ke IGD rumah sakit.

Dan sudah 30 menitan juga suasana di ruangan itu penuh ketegangan. Masing-masing ragu untuk memulai lebih dulu. Sejujurnya, yang laki-laki tak mau memulai karena dia terlalu takut mendengar apa yang akan dikatakan si wanita. Sedangkan yang wanita ragu untuk memulai.. karena dia tahu, there's no turning back when she start to speak.

Ya.. Aya sudah bulat dengan tekadnya. Dia sudah menangis semalaman sampai matanya sembab seperti sekarang. Angga bahkan ingin menonjok dirinya sendiri karena sejak kenal Aya, dia hanya bisa membuat wanita itu menangis.

"Kamu yakin ga mau mandi dulu, mas? You look like a mess. Kamu ga tidur ya semalaman? Mengkhawatirkan sekali kah keadaan dia?" Aya berdiri sambil sok membereskan bantal sofa yang ga berantakan sama sekali. Dia hanya butuh alasan untuk memunggungi Angga agar air matanya yang menetes ga terlihat olehnya.

Angga ga menjawab. Dia tahu, Aya sedang menangis sekarang. Lagi-lagi karena dia.

"Baju mu masih ada yang disini. Kamu bisa pakai itu kalo kamu mau beberes mandi disini. Atau kalo ngga, nanti jangan lupa dibawa pu.." Aya menutup mulutnya untuk menahan isakan yang semakin jelas terdengar.

Angga memeluk Aya dari belakang. "God no.. Gayatri please don't cry.." Angga membenamkan wajahnya di rambut Aya. Mencoba menghirup semua aroma yang sangat familiar di hidupnya belakangan ini. Seolah-olah nanti dia tak akan bisa melakukannya lagi. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.

"Maaf aku tiba-tiba nangis.." isak Aya.

"Aku yang harusnya minta maaf. Berapa kali aku bikin kamu begini.."

"Aku mau kita bicara baik-baik. Bicara dengan jelas dan tanpa emosi. Jadi please.. kamu beberes dulu. Aku ga bisa lihat kamu secape ini.." pinta Aya.

Berapa kali Angga harus tertohok oleh sikap Aya yang selalu memikirkannya? Kali ini dia nurut saja, pergi mandi dan berganti baju. Mengulur waktu untuk terus ada disana.

20 menitan kemudian mereka sudah duduk berdampingan di sofa. Angga meminum kopi seduhan yang dibuat oleh Aya selagi Angga mandi tadi.

"Mas.." Aya menaikkan kedua kakinya ke sofa dan memeluk lututnya sambil menatap Angga yang sudah sedari tadi menatap perempuan cantik itu.

"Gayatri, aku cape sekali. Semalaman di IGD ga bisa tidur dan kepikiran kamu. Makanan yang kamu buat ada dimana? Masih ada yang bisa aku makan?"

Aya menggeleng. "Sudah aku lempar semua dari jendela."

Angga menaikkan alisnya.

Aya meringis, "ngga lah. Aku kasih ke security aja. Ga tau deh mereka sakit perut apa ga masak makananku."

"Those lucky bastard.. bisa nyobain makanan Gayatri Iswara." Goda Angga.

"Kamu juga bisa. Tapi kamu milih untuk ngga." Sambar Aya. Sudah cukup basa basi nya, dia pikir.

Angga terdiam.

Tangan Aya terjulur dan mengusap rambut Angga..
"Aku ga tau apa aku akan menyesal nanti nya setelah hari ini." Desis Aya.

Destiny (JINRENE AU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang