Rico POV
Gue merasa sangat bahagia sekarang ini. Rasanya mati sekarang pun gue rela. Terlebih dengan adanya Rani yang sudah menjadi istri sah gue di setiap pagi gue bangun tidur.
Gue jadi teringat hari gue melamar Rani. Akhirnya, Rani menerima juga lamaran gue. Padahal gue deg-degan takut ga diterima untuk kesekian kalinya! Saking bahagianya, gue dan Rani benar-benar bolos ke kantor dan berubah haluan ke arah rumah orang tua kami.
Om Hendra dan kedua orang tua gue begitu senang mendengar niatan gue dan Rani yang mau menikah. Bahkan Christine dan Rangga ga ada habis-habisnya menggoda gue dan Rani. Edward dan Rena juga ga mau kalah. Mereka kompak ga ada henti-hentinya menodong gue dan Rani untuk membayari mereka makan sebagai pajak pernikahan. Ada-ada saja!
Pernikahan kami berjalan dengan 'sederhana' menurut Mama. Lebih dari dua ribu undangan hadir. Kata Mama sih, biar pesta pernikahan gue ga kalah mewah daripada pesta sweet seventeenth-nya Rani yang super itu. Ya ya ya, terserah mereka.
Gerald dan Gissel, dua bocah cerewet yang berhasil membuat gue dan Rani bisa sampai ke pelaminan, juga datang dan dengan cerewetnya menasihati gue dan Rani agar ga berantem lagi! Rasa-rasanya mereka adalah tamu undangan yang lama banget ada di pelaminan hanya untuk menyalami kami.
Lamunan gue buyar saat mendengar suara tangisan.
Gue harus rela meninggalkan ranjang empuk gue dan berjalan ke arah tempat tidur Jeremy untuk menenangkannya.
"Cup cup cup... ayo jagoan Papa, jangan nangis donggg..." bujuk gue.
"Ric, Jeremy nangis ya???" tanya Rani dengan suara seraknya yang baru saja terbangun dari tidur.
"Ga apa Ran... biar aku aja." Kata gue sambil tersenyum ke arah Rani.
Rani mengangguk penuh terima kasih dan melanjutkan tidurnya.
Ya, Jeremy adalah anak gue dan Rani yang hadir setelah lima tahun kami menikah. Kenapa lama sekali? Bukannya kami menunda, hanya saja gue dan Rani ingin 'berpacaran' dulu. Sampai akhirnya, kami diberikan ijin oleh Tuhan untuk menjaga anak kami.
Jeremy Wiratmadja. Wajahnya benar-benar campuran dari gue dan Rani. Tampan. Begitulah kata orang-orang yang melihat bayi kami. Tapi bagi gue, dia sempurna. Pelengkap hidup gue.
Lihat, hidup gue benar-benar sempurna kan sekarang? Gue mempunyai pekerjaan yang bagus, ga kekurangan secara materi, rumah yang aman dan nyaman, istri yang cantik dan pintar, putra yang tampan. Bahkan kehidupan keluarga gue yang ga bisa terhitung lama tapi selalu saja gue dan Rani berhasil melewati lika-likunya.
Dalam doa gue tiap malam, gue hanya berharap keluarga besar gue, terkhususnya kedua orang yang gue cintai ini, bisa terus hidup bahagia tanpa setitik pun air mata kesedihan jatuh dari mata mereka. Hanya doa sederhana itulah yang selalu gue panjatkan.
***
Rani POV
"Ric, hati-hati ya di jalan. Kalau udah sampai di Bali, telepon aku. Maaf aku ga bisa ikut." Kata gue mengantar Rico ke depan pintu rumah.
"Iyaaa... aku juga Cuma ke Bali buat ngecek keadaan perusahaan di sana tiga hari kok!" kata Rico.
"Maaf ga bisa nganter kamu ke Bandara. Jeremy ga ada yang jaga." Kata gue penuh sesal.
Tapi Rico menanggapi gue dengan senyuman dan mengecup kening gue.
"Ga masalah. Kan Jeremy juga baru ulang tahun pertamanya kemarin. Dia butuh kamu! Kamu jaga rumah ya... jaga anak kita. I love you." kata Rico.
"I love you too." Balas gue.
"Aku berangkat dulu. Bye..."
"Bye..."
Entah kenapa, melihat Rico yang berjalan pergi membuat gue sangat ketakutan. Gue merasa hal yang sangat ga enak, dan gue takut Rico kenapa-kenapa. Tapi dari kemarin Rico terus menenangkan gue dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi terus saja gue gelisah. Rasanya, Rico seperti mengucapkan perpisahan untuk selamanya. Melihat mobil yang membawa Rico menjauh, rasanya hati gue pun terasa diambil setengah dan hampa.
Astaga Rani, ini bukan pertama kalinya gue ditinggal Rico untuk dinas keluar kota. Padahal Rico juga sudah sering dinas keluar kota, dan gue selalu di rumah sendirian. Yah, walau ini pertama kalinya Rico pergi keluar kota setelah Jeremy lahir. Ah, mungkin ini efek dua tahun ini Rico selalu menjaga gue berlebihan, jadilah gue ketergantungan.
Ting tong... ting tong...
Wah, siapa jam tujuh pagi-pagi seperti ini bertamu? Atau itu Rico yang ketinggalan sesuatu?
Gue setengah berlari menuju pintu rumah dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya gue melihat Dad, Papa dan Mama yang datang ke rumah. Padahal baru saja kemarin mereka datang untuk merayakan ulang tahun Jeremy!
"Hai princess... boleh masuk?" tanya Daddy.
"Tentu saja!!! Ayo silahkan masuk." Kata gue senang.
"Tumben datang dua hari berturut-turut. Hari ini ada apa?" tanya gue sambil mempersilahkan tamu-tamu terhormat gue duduk.
"Hanya berkunjung. Mengingat kamu sedang sendirian, sayang. Dan kebetulan, kami berbarengan. Ga masalah kan menganggu?" kata Mama dengan senyum lebarnya.
Oh, mana mungkin menganggu! Justru gue senang sekali karena rumah ini jadi ga sepi! Jeremy juga pasti akan sangat senang melihat Grandpa, Opa dan Omanya!
Kami bersantai di ruang tamu dan mengobrol. Entah mengenai Jeremy, saham-saham, perusahaan. Yah, gue memang masih melanjutkan profesi gue sebagai seorang pembisnis wanita. Walaupun ga seperti dulu yang tiap hari ke kantor.
Entah kenapa, tiba-tiba mata gue terfokus ke arah tv yang terus menyala tanpa diperhatikan. Telinga gue menajam mendengar pembawa berita itu.
"Kecelakaan pesawat penerbangan ke Bali pada pukul 9.00 dengan nomor penerbangan ......"
Tangan gue gemetar mendengar berita yang tersiar di tv itu. Tangan gue gemetar hebat sampai gelas yang ada di tangan gue meluncur dengan mulusnya ke lantai. Bukankah itu nomor penerbangan yang digunakan Rico?
Daddy, Papa dan Mama menatap gue penuh khawatir, tapi gue sendiri ga bisa menahan air mata gue saat melihat nama-nama korban yang ada di layar tv. Tangis gue semakin keras dan berubah jadi histeris.
Ini... ini yang gue takutkan dari kemarin hingga pagi ini!
Rico, kamu kemana? Kenapa kamu bohong sama aku! Kata kamu, kamu mau jadi tempat aku bersandar dari setiap masalah aku. Tapi kenapa sekarang kamu ga ada di sini? Kenapa sekarang kamu ga ada di hadapan aku, memeluk aku dan mengelus rambut aku seperti yang biasa kamu lakukan?! Kenapa kamu ga menghapus air mata aku di saat aku menangis seperti orang gila sekarang ini..
Ricooooo!
KAMU SEDANG MEMBACA
I have to be STRONG!
RomanceApa yang menjadi impian seorang gadis cantik, kaya, dan cerdas saat usianya menginjak tujuh belas tahun? Kematian orang tuanya kah? Kebangkrutan keluarganya kah? Adiknya koma kah? Atau kehancuran dirinya?
