Tok tok tok
"Rangga?" panggil gue saat baru saja gue buka pintu kamar Rangga.
"Iya kak Rani?" sahut Rangga sambil berjalan mendekat ke arah gue.
Gue tersenyum.
Adik gue satu-satunya ini semakin tampan. Hidungnya yang mancung, matanya yang cokelat, bibirnya yang tipis. Mirip sekali dengan Dad.
"Kamu mau ikut kakak pindah ke rumah kita?" tanyaku sambil menariknya ke sofa yang ada di kamar.
"Tentu saja mau!" teriak Rangga semangat.
"Kalau begitu, kamu siap-siap ya dari sekarang. Soalnya, nanti malam kita udah pindah dari rumah ini." Kata gue sambil mengelus rambut-rambutnya yang mulai panjang.
Gue sudah berencana untuk membawa Rangga keluar dari rumah ini dan pindah ke apartemen yang baru saja gue beli. Tentu saja semua itu sudah diurus oleh Merlyn. Uang hasil kerja keras gue selama sepuluh bulan di Bali cukup untuk membiayai kebutuhan gue dan Rangga untuk beberapa tahun ke depan. Dengan gue kuliah dan bekerja, gue rasa kebutuhan lain-lainnya pasti dapat tercukupi.
Gue cukup bangga dengan diri gue sendiri. Bukan berniat untuk menyombongkan diri, hanya saja untuk orang yang ga pernah menyentuh bidang bisnis, gue termasuk cukup luar biasa. Padahal, gue sudah menolak ratusan kali permintaan Dad untuk melanjutkan sekolah bisnis karena gue ga tertarik.
Oh iya, gue mau lanjut kuliah. Walau telat satu tahun, tapi ga masalah. Gue akan kuliah jurusan bisnis, karena gue ga yakin bisa mempunyai uang yang cukup untuk kuliah kedokteran. Setelah itu, mungkin gue akan membangun bisnis gue sendiri. Ga perlu yang besar-besar, cukup bisnis kecil-kecilan saja yang dapat mencukupi kebutuhan gue dan Rangga.
"Kak Rani, kenapa cepat sekali? Rangga mau pamit sama kak Erico dan kak Christine dulu. Juga sama Mama dan Papa." Kata Rangga sambil cemberut.
Gue mengangguk.
"Karena itu, nanti malam kita baru pindah. Biar kita bisa makan malam sama mereka semua dan berpamitan." Kata gue menjelaskan.
Rangga ber-oh ria, tapi sedetik kemudian Rangga mengerutkan dahinya. Dia terlihat ingin bertanya, namun ragu.
"Kak?" panggil Rangga.
"Ya?"
Rangga meremas-remas tangannya.
"Rangga kalau mau tanya ya tanya aja. Kakak ga akan marah." kata gue yang mengerti keraguan Rangga.
"Bagaimana hubungan kakak sama kak Rico?" tanya Rangga yang rasanya tepat sasaran menembus jantung gue.
Bagaimana mungkin Rangga bertanya seperti itu? Rangga masih tujuh tahun, eh... salah! Maksud gue baru delapan tahun. Maksud Rangga bertanya seperti itu apa? Rangga kan ga tahu apa-apa hubungan gue sama Rico sama sekali.
"Maksud Rangga apa nanya begitu?" tanya gue hati-hati.
"Ehm... gini kak. Maaf Rangga ikut campur, tapi..."
"Tapi apa?" Tanya gue penasaran.
Rangga terlihat sangat ragu, dan menghela nafas keras berkali-kali.
"Rangga bilang aja, kakak ga akan marah sama sekali." Kata gue sambil meraih tangannya.
Mulanya Rangga ragu, tapi kemudian dia menatapku lekat-lekat dan berbicara.
"Rangga rasa, kakak dan kak Rico cocok. Kalau kita pergi dari sini, bukannya kakak dan kak Rico jadi berjauhan? Apa kakak ga sedih? Rangga tau kok kalau selama ini kak Rico selalu telepon kakak. Soalnya setiap kali kak Rico anter Rangga pulang dari sekolah, kak Rico selalu duduk di sofa depan kamar Rangga dan nelepon seseorang untuk nanyain kabar kakak." Cerita Rangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
I have to be STRONG!
Roman d'amourApa yang menjadi impian seorang gadis cantik, kaya, dan cerdas saat usianya menginjak tujuh belas tahun? Kematian orang tuanya kah? Kebangkrutan keluarganya kah? Adiknya koma kah? Atau kehancuran dirinya?
