Edward POV
Gue hanya bisa pasrah ke ruangan Rani bareng Rena. Mau gimana lagi, emang udah kepergok gitu. Lagian gue juga yang salah, malah berniat melakukan yang engga-engga di kantor. Ck! Mungkin karena gue makin besar kepala udah jadi wakil presiden direktur di sini.
Tapi kali ini emang keterlaluan sih. Padahal kerjaan gue masih numpuk, tapi gue malah mesra-mesraan sama istri sendiri. Pulang juga bisa kan? Lagian gue juga ga pernah lembur dan anak-anak gue lagi ga di rumah. Ahh.. ya sudahlah.
Gue segera mengetok dan masuk ke ruangan Rani. Well, Rani dan Jeremy lagi sibuk makan siang di sofa yang ada di pojok ruangan Rani.
Dari jauh, gue dan Rena hanya bisa tersenyum melihat keakraban Rani dan Jeremy yang ga seperti ibu dan anak.
Dua kata buat Rani. LUAR BIASA.
Rico meninggal saat Jeremy berumur satu tahun, dan gue tau itu ga mudah! Terlebih lagi, dua perusahaan langsung menjadi tanggung jawabnya sekaligus.
Walaupun Om Hendra dan Om Deni menawarkan diri untuk membantu, tapi ditolak mentah-mentah. Sedangkan Rangga dan Christine mempunyai profesi lain yang ga memungkinkan mereka untuk membantu Rani. Belum lagi toko rotinya yang ada di Jogja dan sekarang mempunyai cabang di beberapa kota. Gue sangat salut sama Rani.
Rico pasti menyesal di Surga sana karena meninggalkan Rani dengan semua beban yang luar biasa ini. Tapi gue yakin, di Surga sana Rico punya pekerjaan baru yang nikin dia lebih dari workaholic dari dulu-dulu. Yaitu menjaga dan mengawasi Rani dari atas sana!
Well, Ric. Banggalah pada istri lu ini. Dia merawat anak lu dengan caranya yang ajaib, dan keluarga lu begitu bahagia!
"Jadi Ed, kayaknya tertulis deh di buku peraturan tahunan yang selalu kita evaluasi. Apa hukuman buat yang tadi lu lakuin?" tanya Rani tanpa melihat ke arah gue dan Rena.
"Peringatan pertama dan diskors seminggu..." Kata gue pasrah.
"Yep! Betul sekali. Jadi besok lu bisa jalanin hukuman lu." Kata Rani yang sudah selesai dengan makannya dan menatap gue tajam.
"Ya, Bu!" jawab gue.
Pasrah saja. Walaupun Rani itu sahabat gue, tapi ketegasannya ga akan pernah berkurang sama sekali. Itulah yang bikin gue salut. Dia bisa membedakan mana yang urusan kantor dan urusan pribadi, sampai akhirnya sekarang gue mendapar peringatan pertama gue setelah bekerja bertahun-tahun di sini.
"Jadi.... Mama kerjanya apa?" tanya Jeremy bingung.
"Yahhh, seperti yang Mom bilang. Cuma karyawan biasa di perusahaan Grandpa dan Opa." Jawab Rani.
'Karyawan biasa' huh?
"Dengan tulisan 'presiden direktur' di depan pintu ruangan, Mama masih bilang pekerjaan Mama biasa aja?" tanya Jeremy ga percaya.
"Semua pekerjaan itu sama, Jer. Pangkat itu ga jadi soal. Apa bedanya Mama sama Om Ed, ayo? Kami sama-sama bekerja untuk memberi pelayanan kepada klien kami. Ga ada bedanya sama penjaga toko kan?" jawab Rani enteng.
Yaaa... bener juga sih.
"Tumben Jeremy dateng ke kantor. Emang masalahnya seberat apa sampai kamu ga pulangin dia ke rumah, Ran?" tanya Rena yang udah berani angkat suara.
"Dia bikin anak orang diopname seminggu. Keren kan anak gue???" kata Rani bangga.
Oh astaga!
"Wow! Keren banget!!!" teriak Rena sambil berhigh-five dengan Jeremy.
"Heh! Mananya yang keren?! Dia bikin anak orang diopname!!!" Protes gue ga tahan.
Oh astaga, Rani bener-bener memanjakan Jeremy banget. Dia harusnya tegas ke Jeremy! Dulu Jeremy hampir membakar sekolah karena petasan, terus membuat gurunya marah besar karena bikin onar, Jeremy juga pernah bikin satu sekolah kebanjiran di musim panas dengan cara yang luar biasa! Ck! Tapi Rani mengatasi semuanya tanpa amarah!
KAMU SEDANG MEMBACA
I have to be STRONG!
RomansaApa yang menjadi impian seorang gadis cantik, kaya, dan cerdas saat usianya menginjak tujuh belas tahun? Kematian orang tuanya kah? Kebangkrutan keluarganya kah? Adiknya koma kah? Atau kehancuran dirinya?
