New Problem(s) (1)

15.5K 889 1
                                        

"Ric, gue pulang bareng Rena ya? Kasian kalau dia nyetir sendiri. Nanti lu ngikut dari belakang aja gimana? Atau, gue nanti nyetir sendiri ke rumah lu deh. Biar langsung ketemu di rumah lu aja." kata gue saat baru saja masuk ke dalam kantor Rico.

"Rani! Ketok pintu dulu dong kalau mau masuk. Kok udah langsung ngoceh aja sih?" tegur Rico.

Gue langsung memutar bola mata gue.

"Ricooooo! Gue udah ketok pintu lu sampe tangan gue merah. Liat nih! Lagian Edward juga bilang lu lagi ga ada tamu, jadi gue langsung masuk aja." kata gue sambil berjalan mendekat ke arah Rico dan memamerkan jari-jari gue yang merah.

"Mana? Sini gue obatin!" kata Rico berdiri dan meraih tangan gue.

Rico mengenggam tangan gue, lalu menciumnya lembut. Gue melongo kaget melihatnya.

"Udah sembuh kan?" kata Rico menyadarkan gue.

"Itu yang lu bilang obatin tangan gue? Dasar genit!!!" kata gue sambil menarik tangan gue dan mencubit pinggang Rico.

Rico mengaduh minta ampun, tapi gue terus mencubiti Rico. Biar saja! Dia sendiri mengambil kesempatan dalam kesempitan!

"Aduuhh... Rannn! Mana ada wakil nyiksa atasannya sendiri! Aduduhhh... Rannn!"

"Lagian lu juga! Mana ada atasan bisa seenak jidat sama bawahannya! Baca buku peraturan yang lu buat donggg!" Kata gue masih terus mencubiti Rico.

Rico terus mencoba menghindar, tapi gue terus-terusan menghadang Rico pergi. Biar Rico tahu rasa, pikir gue dalam hati. Tapi, saat gue melangkah, ga sengaja kaki gue kepeleset! Gue ga sempat menjaga keseimbangan gue dengan sepatu heels sepuluh sentimeter, akhirnya gue...... pasrah sajalah!

Loh? Ga terasa sakit.

Gue dengar bunyi jatuhnya tapi gue ga merasa sakit. Perlahan gue buka mata gue dan....

"Ini kayak sinetron banget ya?" kata Rico yang ada di bawah gue.

Ya ampun. Gue jatuh menimpa Rico! Jarak muka gue dan Rico dekat sekali, sampai rasanya salah-salah bergerak, kami pasti akan....

Cup!

....berciuman.

Rico mencium gue. Ciuman secepat kilat, tapi sekujur badan gue bisa merasakan lembutnya ciuman Rico.

"Ma-maaf. Gue ga bisa nahan diri." Kata Rico meminta maaf sambil menutup mata dengan lengan tangannya yang bebas.

Ada sedikit dari hati gue yang sedih banget saat Rico meminta maaf. Padahal gue, gue...

Gue berusaha bangun walau susah sekali melepas badan gue dari Rico yang sudah menempel sempurna. Gue terduduk di sebelah Rico, lalu menunggu Rico juga bangun.

Tak lama, Rico juga bangun terduduk. Tapi dia membuang muka ke arah lain.

Lima tahun berlalu sejak gue menyadari kalau gue sayang sama Rico. Gue kira rasa itu akan memudar seiring dengan berjalannya waktu, tapi ternyata perasaan itu bisa muncul kembali dan menggemparkan hati gue sekarang ini. Ada rasa sakit, sedih, tapi juga rindu.

Bagaimana caranya gue mendekati Rico, sedangkan gue sendiri merasa ga pantas buat dia?

"Ric..." panggil gue.

Rico ga menjawab, masih memandang ke arah lain.

"Rico..." panggil gue lagi.

Masih ga ada sahutan.

"Erico Wiratmadja...?" panggil gue lagi dengan nama lengkapnya.

Rico hanya menyahut dengan gumaman ga jelas. Gue kesal dicuekin seperti ini, jadi gue berpindah duduk ke pangkuan Rico.

"Hei! Gue ga suka dicuekin!" kata gue sedikit emosi.

Rico kaget, tapi tujuan gue tercapai. Rico memandang tepat di muka gue!

Entah dorongan dari mana, tapi di saat itu juga gue langsung menempelkan bibir gue dengan bibir Rico. Saat gue sadar, gue kaget sendiri! Tapi di saat gue mau melepas, Rico malah ga mau melepaskan gue. Rico menekan tengkuk gue dan memperdalam ciumannya. Gue pun ikut terhanyut dan menarik kerah baju Rico lebih erat.

Rico melumat, menggigit, dan membasahi bibir gue. Ciuman yang tadinya terasa lembut dan manis, semakin lama semakin menuntut dan panas. Gue bisa merasakan sebelah tangan Rico yang turun meraba leher, lalu turun dan terus turun sampai menyelinap di sela-sela kancing kemeja gue dan masuk menyentuh kulit badan gue.

Ugh! Gue benar-benar ga bisa menolak Rico sama sekali!

Tok tok tok.

"Damn!" umpat Rico.

Gue yang akhirnya benar-benar tersadar, langsung mendorong Rico dan bangkit berdiri dengan susah payah. Rico juga dengan cepat merapikan jasnya yang sudah berantakan.

"Siapa?" kata Rico setengah berteriak.

Gue masih sibuk merapikan kemeja dan blazer gue. Malu... gue malu banget!

"Pak, ada yang ingin bertemu. Katanya tunangan Bapak!" teriak Edward.

Gue langsung menatap Rico dengan mata melotot besar. Gue ga salah dengar kan tadi? Edward bilang yang datang itu tunangan Rico kan?

I have to be STRONG!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang